
"Apa-apaan ini?! " Wanita itu tak percaya setelah membaca kedua kertas yang keduanya tertulis perjanjian kontrak.
"Harus bekerja di perusahaan mu dan menjadi wanita mu, atau menjadi penghangat ranjang mu di sini dan akan di belikan semua yang kau mau kecuali perpisahan! Apa?! Kau serius?! " Marun menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ya, aku serius. pilihlah salah satu dari perjanjian itu, maka kau bisa pergi dari sini. "
"Tidak! Aku tidak mau memilih keduanya! Jika perjanjiannya hanya sebatas 3 atau 4 tahun, aku tak keberatan. Tapi ini seumur hidup! Tidak, aku tidak mau! Menikah saja jika kau ingin seorang wanita bersama mu selamanya! " Marun kembali menyimpan kedua kertas itu dan menyilang kan tangannya di bawah dada.
"Maka kau tak akan bisa pergi dari sini selamanya. Dan itu berarti kau sudah memilih kontrak ke 2, kau harus menjadi penghangat ranjang ku selamanya. " Aaron menyeringai lebar. Apa lagi saat melihat ekspresi kesal wanita itu.
"Aku tidak mau melakukan itu! Aku tak sudi di sentuh pria yang sudah di sentuh banyak wanita! Aku benci Casanova seperti mu ini! "
"Kalau begitu pilihlah, pertama atau kedua? "
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dia tak mau punya hubungan apa-apa dengan pria Casanova ini! Dia sangat benci pria Casanova yang hanya tau cara berselingkuh dan menyenangkan wanita mana saja di atas ranjang.
Tapi jika dia tidak memilih keduanya, dia akan terus berada disini dan akan menjadi penghangat ranjang pria itu.
Dia menghela nafas pelan. Lalu mengambil perjanjian kontrak pertama. "Aku memilih yang pertama. " Ucapnya.
Aaron tersenyum. "Bagus. Jika kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu, aku akan menikahi mu walaupun kau membenciku. " Pria itu mengeluarkan bolpoin dari saku kemejanya dan memberikan itu pada Marun.
"Cih! Aku tak sudi di cintai pria Casanova seperti mu! " Jawabnya berdecih kesal.
Dengan ragu-ragu, wanita itu mengambil Bolpoin dan menandatangani kontrak. Setelah selesai, dia pun menyimpan Bolpoin di atas meja lalu kembali menatap pria di depannya yang sudah menatapnya dengan senyuman.
"Sekarang aku bisa pulang? Tolong tepati ucapan mu! " Tanyanya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Antar kan dia Max. " Titahnya yang langsung mendapat anggukan dari sang asisten.
"Mari, nona. " Ucapnya sopan mempersilakan wanita itu berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Setelah mereka berdua keluar dari dalam kamarnya, Aaron melihat perjanjian kontraknya.
"Maruna Ayu Kianingsih. " Gumamnya sembari menatap tanda tangan milik wanita itu.
"Baiklah, tantangan terbesarku untuk mendapatkan mu adalah karena kau sangat membenci pria Casanova seperti ku. Tapi aku pastikan, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. " Ucapnya dengan begitu yakin.
*
*
*
*
"Maafkan saya Nona. " Ucap Max tiba-tiba di perjalanan untuk mengantar Marun pulang.
Namun Marun tak menjawab dan hanya diam saja sembari melihat ke arah Luar.
"Saya tau anda benci pada saya karena apa yang saya lakukan, jadi tolong ma-"
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, Marun pun baru sadar kalau itu bukanlah jalan ke rumahnya. Dia mengerutkan keningnya di setiap perjalanan karena merasa bingung.
Mau kemana lagi dia membawaku? " Gumamnya menutup kedua mata.
Setelah sampai di tempat tujuan, Max pun menghentikan mobil mereka di sebuah Rumah bernuansa putih dengan 2 tingkatan lantai.
"Kemana lagi kau membawaku pergi? " Tanya Marun datar tanpa menatap wajah Max dan terus menatap rumah berlantaikan 2 tingkat itu.
"Maaf Nona, Tuan menyuruh saya mengantarkan anda kemari. " Jawab Max jujur dan sopan.
Marun hanya berdecak kesal dan langsung saja berlalu ingin masuk ke dalam rumah itu. Dia tak peduli jika di dalam ada orang lain selain dia yang akan masuk.
__ADS_1
Setelah melihat Marun masuk ke dalam rumah, Max kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu keluar dari halaman Rumah.
Saat masuk ke dalam, tak ada siapapun di rumah dan hanya keheningan yang dia rasakan membuat bulu kuduknya berdiri.
"Kenapa dia membawaku ke rumah sepi seperti ini? " Tanyanya.
"Selamat siang Nona. "
Marun terperanjat kaget saat dia mendengar suara seseorang dari arah belakang. Dia mengusap dadanya pelan mencoba menetralisir rasa kaget dan takutnya.
"Siang." Jawab Marun pendek dan menatap penampilan wanita itu dari atas dan bawah.
Di lihat dari penampilannya seperti nya dia pelayan di sini. "Maaf, apa kau pelayan disini? " Tanya Marun hati-hati.
"Iya Nona, anda mau sesuatu? " Tanya pelayan itu ramah dengan tersenyum.
Marun mencoba berpikir. Tiba-tiba perut berbunyi pertanda kalau dia tengah lapar. Benar juga, tadi pria itu mengatakan makanan akan segera tiba. Tapi saat tadi mereka menunggu makanan belum juga tiba.
"Maaf, tapi aku lapar. Apa bisa membuatkan ku sesuatu untuk di makan? " Pintanya.
Pelayan itu mengangguk. "Baiklah Nona, tunggu sebenar. Sembari menunggu sebaiknya anda ke kamar Nona untuk istirahat. Pintu yang bercat kan warna hitam adalah kamar Nona. " Ucap pelayan itu mengingat pesan Aaron tadi.
Marun mengangguk. Dia pun mengucapkan terimakasih dan naik ke atas untuk mencari kamarnya.
Dia menelisik setiap inci bangunan mewah dan megah itu dari atas. Rumah ini sangat indah dan mewah dengan beberapa dekorasi mahal dan langka. Bahkan ada beberapa yang berlapis mas murni.
"Kenapa pria gila itu tak tinggal disini saja dari pada di Apartemen? Padahal disini lebih nyaman. "
Setelah berhasil menemukan pintu berwarna hitam dan bertuliskan 'My Love' Di pintunya dengan goresan tinta emas, Marun pun masuk ke dalam dan terperangah melihat berapa luasnya kamar tersebut.
"Gila, kamarnya lebih gede dari pada rumah ku. " Ucapnya masih terperangah melihat kamar mewah dan luas tersebut.
__ADS_1
Di dalam kamar ada satu tempat tidur king Size, lemari pakaian yang besar dan juga meja rias dengan skincare yang sudah lengkap di atas mejanya. Ada satu pintu yang Marun pikir pasti pintu kamar mandi.
Di sana juga terdapat 2 buah sofa. Sofa panjang satu dan sofa pendek satu dengan meja yang berada di tengah di TV yang berada di depan mereka.