
Biasanya Aaron akan datang sendiri atau datang bersama sang Asisten untuk menemaninya. Karena dia hanya akan diam di sana dan mengobrol bersama rekan - rekan bisnisnya sembari menunggu para wanita mendekatinya dan mengajaknya mengobrol lalu menggodanya.
Namun sekarang sungguh di luar dugaan, Casanova yang biasanya datang sendiri kini tengah menggandeng seorang wanita cantik yang terlihat anggun dan elegan dengan hiasan wajah dan baju yang dia pakai. Melihat seorang wanita di samping pria pujaan mereka, para wanita itu hanya menatap sinis dan tak rela pada Marun.
"Tuan Aaron. Senang sekali anda bisa meluangkan waktu untuk datang kemari. " Ucap seorang pria tersenyum yang kira - kira berusia 40 tahun sembari menjabat tangan Aaron.
"Hari ini pekerjaan ku selesai lebih awal. " Jawab Aaron membalas uluran tangan pria itu.
"Wah Tuan, sepertinya kau sudah menemukan wanita yang tepat, yah? " Tanya pria itu lagi saat melihat Aaron sang Casanova terhormat membawa seorang wanita cantik di sampingnya.
"Yah, semoga kau bisa datang saat kami akan menikah. " Jawab pria itu lagi tersenyum yakin.
Lagi - lagi Marun menatap pria itu tak rela karena lagi - lagi membahas pernikahan yang bahkan pria ini belum menyelesaikan semua sumpahnya. Marun langsung cemberut dan terlihat tak suka.
Sedangkan para wanita yang mendengar hal itu langsung terasa di tusuk panah. Beberapa dari mereka yang pernah tidur bersama Aaron pun langsung merasa frustasi saat mendengar lelaki pujaan mereka akan menikah dengan pilihannya sendiri.
"Tentu saja Tuan! Semoga kalian selalu bahagia dan di karuniai seorang anak yang tampan, cantik dan pintar! " Ucap Tuan Anson kembali dengan sumringah.
Dari sudut ruangan luas itu. Ada dua orang yang menatap dengan tatapan berbeda - beda pada orang yang baru saja mengatakan akan menikah itu.
"Lihat, kan? Aaron akan menikahinya, jadi sebaiknya kau jangan gegabah. " Ucap Foniks santai sembari meminum Whiskey di tangannya.
"Tidak bisa! Kau harus tidur dengannya, Aaron pasti akan langsung membencinya saat tau kalau wanita itu tidur dengan pria lain! " Titah Sofi dengan kesal.
"Kau gila? Aku tak mau bunuh diri! " Tolak Foniks. Bisa saja dia di bunuh oleh pria gila itu karena menyentuh barang miliknya.
__ADS_1
"Ayolah! Apa kau tidak tertarik dengan tubuh indah dan mulus wanita itu? Jika Aaron saja tergoda apa lagi dirimu? Kau tak mau mencobanya? " Tanya Sofi dengan senyuman miring terbit di sudut bibirnya.
Dan seakan terhipnotis, Foniks pun langsung menatap wajah dan tubuh wanita itu. Memang benar wanita itu punya wajah dan tubuh yang indah, dia pasti akan sangat puas jika di layani oleh wanita itu.
"Tapi bagaimana caranya? Aaron ada di sana, aku tak mungkin menangkap wanita itu di hadapan Aaron? " Tanya Pria itu mulai tertarik.
"Tenang saja, kau pergi ke sana dan berikan ini padanya. Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalamnya, dengan begitu kau bisa beralasan pada Aaron kalau wanita itu yang sudah menggoda mu. " Jelas wanita itu sembari menyerah kan satu gelas Whiskey.
Foniks pun menerimanya dan ikut tersenyum. "Pastikan ini berhasil! " Ancam nya.
"Kau tenang saja. Tunggu dulu di sini, aku akan membawa Aaron dan membiarkan wanita itu sendirian, dengan begitu kau bisa dengan mudah mendekati wanita itu. " Sofi langsung bergegas pergi dari sana.
Sebelum Sofi mendekati Aaron, Foniks sudah melihat jika pria itu pergi meninggalkan wanita itu sendirian sembari menatap ke sana - kemari.
Pria itu pun tersenyum puas dan langsung mendekati Marun yang tengah memakan beberapa Dessert yang sudah tersedia di sana.
Marun yang terkejut langsung menatap waspada pria di sampingnya. "Selamat malam. " Wanita itu membalas sembari tersenyum kikuk.
"Kenapa kau sendirian saja? Tak ada yang menemani? " Tanya Foniks berbasa - basi.
"Aku, aku datang bersama dengan Bos ku kemari. " Jawab Marun.
"Wah? Lalu kenapa dia meninggalkan mu sendiri di sini? "
"Dia bilang ingin menyapa beberapa teman lama nya di sini. " Jawab Marun yang sudah benar - benar merasa tak nyaman karena pria itu mulai menatap dirinya dengan intens.
__ADS_1
"Mau saya temani, Nona? Ini untukmu, semoga kau bisa menerimanya. " Pinta pria itu sembari menyodorkan gelas berkaki pendek itu pada Marun.
"Maaf, saya tidak minum Tuan. " Tolak Marun dengan sopan.
"Begitu, yah? Tapi setidaknya kau bisa mengambilnya, dan kita bisa mengadukan gelas kita. Minum satu teguk saja tak akan membuat mu merasakan apa - apa Nona. " Balas pria itu tak mau mangsanya lepas.
"Aku akan merasa di hina jika anda tak mau menerimanya. " Lanjutnya lagi dengan raut wajah yang terlihat tersungging.
Wanita itu hanya bisa menggaruk lehernya yang tak gatal karena tak tau harus berbuat apa.
Kemana pria itu? Kenapa dia lama sekali? " Gumam Marun sembari menatap ke sana - kemari mencari keberadaan Aaron.
Karena tak mau situasi semakin tak nyaman, Marun pun menghela nafas panjang. "Baiklah Tuan, saya akan menerima gelas anda dan meminumnya satu teguk. Tapi maaf, setelah ini saya tak akan menghabiskannya. Dan tolong, berhenti menatap saya seperti itu. " Ucap Marun pasrah. Dia juga semakin tak nyaman dan tak suka dengan tatapan pria itu yang seakan ingin memakannya.
Pria itu pun tersenyum penuh kemenangan. "Terimakasih Nona, karena mau menerima pemberian saya. " Foniks pun memberikan gelasnya kembali pada Marun.
Saat hendak akan mengambilnya, kedua manusia itu tercengang saat sebuah tangan sudah terlebih dahulu menyambar gelas itu dan meminumnya langsung hingga tandas.
"A-Aaron? " Marun membulatkan matanya saat melihat pria itu meminum - minumannya hanya dalam sekali teguk.
Foniks yang melihat itu hanya bisa berdecak kesal karena rencananya dan Sofi gagal.
Wanita tak berguna! " Gumam pria itu kesal.
Padahal sedikit lagi dia akan bisa mendapatkan wanita ini, tapi rencananya langsung hancur.
__ADS_1
"Oh, jadi kau pendamping wanita cantik ini? " Tanya Foniks pura - pura tak tau saat melihat tatapan mematikan dari pria itu.
"Ya! Dia milikku! Jadi, seharusnya kau tau apa konsekuensi nya jika berani menyentuh milikku! " Tekan pria itu semakin menatap tajam dan marah sembari menarik pinggang ramping Marun ke dalam dekapannya.