
Setelah sang Bos setelah bermain, dia pun langsung memulai Meeting nya bersama para kolega bisnisnya. Max menjelaskan setiap detail tentang kerja sama yang akan mereka lakukan. Sedangkan Marun hanya diam sembari memperhatikan dengan seksama.
Akhirnya setelah kurang lebih 1 setengah jam mereka Meeting, meeting pun selesai yang di akhiri dengan mereka semua berjabat tangan.
Setelah selesai dan ketiga manusia itu masuk ke dalam ruangan milik Aaron.
"Max." Marun tiba - tiba memanggil nama pria bermata empat itu.
Sontak saja Aaron langsung mendelik menatap tajam assisten nya. Max yang bingung karena di panggil hanya bersuara.
"Ya, Nona? " Jawabnya dengan ragu karena tatapan sang Bos.
"Apa di sini ada yang menjual kopi dingin? " Tanyanya mulai membalikkan badan menatap kedua pria tampan berbeda generasi itu.
"Ada, kenapa? Kau haus? " Tanya Aaron menyela ucapan Max.
"Iyah, aku haus. Aku juga ingin ngemil sesuatu. " Balasnya.
Aaron menghela nafas. Dia membawa dompet tebal dari sakunya dan mengeluarkan kartu hitam miliknya.
"Belikan dia kopi dingin dan beberapa cemilan untuknya. " Titahnya memberikan kartu itu pada Max.
Marun melotot saat melihat benda kecil dan pipih itu.
Wait!!! Pasti isinya miliyaran!! " Gumamnya terkagum - kagum.
"O iya Max, belikan juga 5 es krim coklat dan 3 susu coklat kotak. 5 coklat batang dan 10 bungkus biskuit. " Pintanya tak segan - segan karena masih merasa kesal pada pria itu.
"Kenapa semuanya coklat? Nanti perutmu sakit. " Balas Aaron.
"Aku tidak mau tau. Aku hanya ingin itu semua saat ini. Dan jangan lupa 1 minuman Boba. " Tambahnya lagi.
Lagi - lagi pria itu menghela nafas. "Belikan saja semuanya Max. Cepat pergi. " Dia memijat pelipisnya.
__ADS_1
Max mengangguk. Dia pun keluar dari ruangan itu dengan terburu - buru. Wanita itu tersenyum melihat itu dan kembali menatap buku di tangannya.
Mata wanita itu tiba - tiba membulat saat melihat pria itu menyimpan kepalanya di atas pahanya. Dia berbaring di atas sofa dan menggunakan paha Marun sebagai sofa.
"Apa yang kau lakukan! "
"Diam lah, aku lelah. " Ucapnya mulai menutup kedua matanya.
Marun diam melihat pria itu mulai memejamkan kedua matanya. Wajah pria itu memang terlihat kelelahan, Dia pun membiarkan nya tertidur di pangkuannya.
Dan benar saja, tak berselang lama suara dengkuran halus terdengar dari mulutnya.
Marun menghela nafasnya panjang. Dia mengelus rambut tebal dan hitam pria itu perlahan.
"Dia itu.. Tunggu sebentar, dia benar - benar sudah tidurkan? Jangan sampai dia mendengar apa yang akan aku katakan? " Marun melambai - lambaikan tangannya di depan wajah pria itu, memastikan pria itu sudah benar - benar terlelap.
"Dia itu tampan. Hanya saja sikap menyebalkan, pemaksa, mesum, tak tau malunya membuat aku sangat tak menyukainya! " Gerutu wanita itu menumpahkan semua rasa kesalnya.
"Hidungnya mancung sekali, yah? Apa dia suka berbohong hingga hidungnya jadi panjang seperti ini? " Tanpa ada niat sedikitpun untuk menjahili, Marun mencolek hidung mancung milik pria itu. Lalu beralih pada hidung peseknya.
Tak lama berselang, Max pun kembali dengan membawa 1 kresek penuh cemilan titipan dari Marun.
"Wah, Max. Terimakasih, yah? Maaf sudah merepotkan mu. " Ucap Marun dengan semangat meraih kantung plastik yang di bawah oleh Max.
"Tidak masalah Nona. " Max pun beralih menatap Bosnya yang tengah tertidur dengan lelapnya di atas pangkuan Wanita itu.
Dia menggelengkan kepalanya pelan.
Padahal, saat masih jam kerja. Bos tak pernah bisa tidur senyenyak itu di sini. " Gumam Max. Dia pun pamit keluar karena ingin melihat jadwal meeting Bosnya nanti.
Dengan semangat, Marun membuka salah satu bungkus es krim dan memakannya dengan lahap.
"Pria ini tak akan terganggu, kan? " Ucapnya melihat Aaron yang masih tertidur dengan pulas.
__ADS_1
Dia pun melanjutkan makannya sampai akhirnya suara dering ponsel yang asing di telinga Marun membuat dia terganggu. Dia menajamkan telinga berusaha mencari sumber suara.
Sampai akhirnya dia sampai pada saku celana milik Aaron. Marun menatap pria itu yang masih terlelap. Dia pun meraih dengan perlahan - lahan ponselnya yang masih berdering.
Dia pun melihat siapa yang tengah menelpon. "Wanita? " Dia mengerutkan keningnya.
Nama Kontaknya Sofi. Marun tak menjawab panggilan vidio dari wanita itu dan melihat chat. Ternyata dia juga sudah mengirim pesan sebanyak 4 pesan.
[Sayanggg... ]
[Ayolah Tuan ku sayangg, jawab pesan kuu]
[Tuannn, apa kau tak merindukan tubuhku?? ]
[Tuan, aku sudah merindukan adik perkasa mu itu, ayolah tuann aku sudah tak tahan, apa kau sudah bosan pada tubuhku? ]
Isi pesan itu sungguh membuat Marun merasa jijik. Apa lagi saat melihat wanita itu mengirim fotonya yang tengah telanjang, membuat Marun semakin merasa jijik.
"Apa harga dirimu sebagai wanita begitu murah? Bisa - bisanya... " Wanita itu menggetarkan giginya.
[Tuan, ayolah aku sudah tidak tahann. Aku berada di kamar hotel Grand City. ] Balas Wanita itu.
[Tuan, balas lahh.. Kau membuatku meranaa. ] Lanjutnya sembari mengirim Emoji seperti tengah kepanasan.
Karena sudah tak tahan, Marun pun mengirimkan foto wajah Aaron yang tengah tertidur di pangkuannya.
[Apa? Hei, kau siapa? Kenapa kau bisa mengirim foto Tuan Aaron? Dan kenapa kau bisa menyentuh ponselnya? Apa kau Tuan Max? ]
"Dia tengah tidur, kau bisa menghubunginya nanti. " Balas Marun dan langsung menutup mode datanya. Dia melempar ponsel pria itu dengan kesal tepat ke wajahnya hingga membuat pria itu terlonjat kaget begitupun dengan Marun yang sama - sama kaget melihat pria itu bangun secara tiba - tiba.
Aaron terlihat linglung dan seperti tengah mencari sesuatu. Dia pun menatap wajah Marun dan mengusap wajahnya kasar.
"Benda apa tadi yang jatuh ke wajahku? " Tanyanya dengan suara serak sembari mengusap salah satu mata.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja. Ponsel mu. " Tunjuk nya menggunakan dagu pada ponsel pria itu yang sudah jatuh ke bawah lantai.
"Kenapa bisa ada di sana? " Tanyanya kembali menatap ke arah Marun penuh keheranan.