
Marun langsung cari aman. Dia menarik tubuhnya menjauh dari pria gila itu dan membungkus tubuhnya sendiri menggunakan selimut tebal bermotif bunga itu.
Awalnya Aaron tak mau memperdulikan seseorang yang mengetuk pintu dan ingin kembali mendekati Marun. Namun suara teriakan seseorang yang tak asing, langsung membuat dia refleks terlonjat kaget.
"Aaron!! "
"Mommy?! " Pria itu langsung turun dari ranjang dan menatap ke arah pintu kamar dengan panik.
Sedangkan Marun hanya mengerutkan keningnya dan menyeka air mata yang akan turun dari pelupuk matanya.
Mommy? " Marun bergumam pelan dan ikut menatap ke arah pintu kamar.
"Aaron!! Buka pintunya! Dasar anak kurang ajar! Bisa - bisanya kau melakukan itu! Cepat buka!! " Pinta sang Mommy semakin keras menggedor pintu.
Pria itu semakin gelagapan dan menatap ke arah Marun. Dia pun menghela nafas panjang dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Baru saja pintu terbuka, sebuah pukulan langsung melayang ke pipinya sampai sang Mommy pun ikut masuk ke dalam kamar dan memukuli putra sulungnya itu dengan membabi - buta.
"Dasar anak kurang ajar! Siapa yang mengajari mu melakukan itu, hah?! Sejak kapan kau berubah jadi pria brengsek dan Bejad seperti itu, hah?! " Ucap Mommy Perry masih memukul wajah dan bahu putranya itu dengan kuat.
"Mom! Sakit Mom! Aaron bisa jelaskan, Mom! Mom!! "
Mommy Perry akhirnya berhenti, dia menatap marah putranya itu dengan nafas naik - turun. Dia pun beralih pada Marun yang masih diam di tempat tidur dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Mommy Perry menggerakkan matanya ke sekeliling tempat itu. Matanya langsung membulat di kala melihat sobekan kain tipis dan kain segitiga wanita yang sudah tergeletak di atas kasur.
__ADS_1
Dia kembali menatap wajah putranya itu tajam dan tanpa aba - aba langsung kembali melayangkan tamparan keras yang tak main - main.
PLAK!!
Mommy Perry mendekat ke arah Marun dan memeluk tubuhnya dengan erat. Dia mengelus pipi wanita itu dan menatapnya dengan nanar.
"Maaf, maafkan pria brengsek itu! Maafkan dia, Nona! Aku pikir, dia tak akan melakukannya sejauh ini. Aku mohon maaf kan dia. Maafkan putra brengsek dan bejad ku. " Lirih Mommy Perry sembari menatap tubuh Marun dari atas. Dia semakin merah pada putranya saat melihat ada banyak tanda merah di lehernya.
"Maafkan dia Nona, maafkan kelakuannya. "
Marun menggelengkan kepalanya. Yang salah disini putranya, kenapa yang meminta maaf Ibunya? Oh, astaga. Betapa besarnya rasa kasih sayang dan cinta seorang ibu pada anaknya. Hingga tak sadar membuat dia pun ikut menangis.
"Sayang, maafkan dia! Saya pasti akan memberi dia pelajaran! " Mommy Perry beralih dari Marun dan kembali berjalan ke arah putranya. Dia menarik lengan kekar putranya itu dan membawanya ke luar kamar.
Dan dia pun hanya bisa pasrah saat sang Mommy membawanya ke luar. Dia menatap sekilas ke arah Marun dan berbicara pelan namun masih bisa di mengerti olehnya. Marun pun mengangguk.
"Lepaskan dia Aaron! Mommy tak mau kau jadi pria kurang ajar! Kau mau mempermalukan dirimu sendiri, hah?! " Mommy Perry langsung bicara ke inti saat sudah membawa putranya itu ke ruang keluarga.
"Mom, Aaron tak akan melepaskannya! " Pria itu masih kukuh dalam pendiriannya.
"Aaron! Mommy tak peduli jika yang kau perlakukan seperti tadi adalah wanita malam atau wanita bayaran mu, tapi yang kau perlakukan itu seorang anak gadis Aaron! Kau tega merusak seorang anak gadis hanya untuk melupakan nafsu bejad mu! " Mommy Perry mulai tak bisa mengendalikan emosinya.
Jika bukan karena Putra bungsunya yang keceplosan mengatakan kalau dia tengah bersama seorang wanita di mension nya, mungkin Mommy Perry tak akan tau jika tak memaksa Putranya itu berkata jujur.
__ADS_1
"Sampai kapan pun Aaron tak akan melepaskan dia! Dia sudah menjadi milikku! "
Mendengar jawaban Putranya itu membuat Mommy Perry mengalihkan wajahnya dan menghela nafas panjang.
"Aaron, Mommy tau sudah banyak wanita lain di luar sana yang menjadi milikmu, tapi tidak dengan dia! Kau sudah membuat dia tak perawan bahkan secara paksaan. Mommy pikir, selama ini kau hanya meniduri wanita malam, tapi ternyata kau juga berani pada perawan? "
"Mom! Perlu Mommy tau, Dia satu - satunya wanita yang Aaron perawani. Karena dia Aaron tau bagaimana rasanya memperawani seorang perawan. Dan perlu Mommy tau juga, dia satu - satu nya wanita, yang Aaron tiduri tanpa pengaman. Dan akan ada kemungkinan besar, dia hamil Anak Aaron. " Kedua manusia berbeda generasi dan kelamin namun memiliki darah yang sama itu masih terus berada di pendirian mereka.
"Aaron! Sangat kecil kemungkinannya kau tak akan berselingkuh darinya. Dari pada kau membuat hatinya sakit, lebih baik kau lepaskan dia. Dengar kan Mommy sayang, ini juga demi kebaikan kalian berdua. " Kini nada bicara Mommy Perry mulai melembut. Karena dia tau, berdebat dengan putra sulungnya seperti ini akan sangat sulit, karena dia tak mau mengalah bahkan padanya sendiri.
"Aaron tetap tak akan melepaskan dia! Hanya dia yang bisa membuat sesuatu dalam diriku bangkit yang tak bisa di lakukan wanita di luar sana! Hanya dia dan Aku tak akan melepaskannya!! "
"Aaron!! "
Pria itu berjalan ke arah Mommy nya dan mengambil pisau buah yang ada di sana masih mendekati sang Mommy.
"Aaron, kau mau apa? Jangan gegabah! " Mommy Perry bicara dengan panik takut putranya itu melakukan sesuatu yang tak terduga.
Dan benar saja, Pria itu menarik lengan Mommy dan memberikan pisau buah itu pada lengan Mommy nya dan menusukkan ujung Pisau itu sedikit ke lehernya sendiri hingga mengeluarkan darah.
"Aaron! Apa yang kau lakukan?! " Tentu saja itu semakin membuat Mommy Perry panik dan berusaha melepaskan cengkraman tangan putranya.
"Mommy, Aaron bersumpah. Jika Aku tak bisa setia pada Marun, jika aku tak bisa setia pada wanita itu seorang, jika aku mengkhianati nya, jika aku menyakitinya, jika dia tak bahagia denganku dan jika aku tak bisa membuat dia mencintaiku, Mommy bisa menyayat leherku menggunakan pisau ini tepat di hadapannya. " Ucap pria itu panjang lebar dengan sungguh - sungguh.
__ADS_1