
Pagi - pagi buta. Marun tengah kebingungan melihat pria yang tadi malam begitu ganas dan garang itu kini tiba - tiba berubah lemah, letih, lesu tak bergairah dan terus muntah sejak tadi.
Di olesi minyak wangi, pria itu malah semakin merasa mual dan malah ingin memeluknya dan bilang kalau wangi tubuhnya bisa membuat Mual nya hilang.
"Apa kau sakit? Aku kaget kau bisa sakit. " Ucap Marun polos sembari mengusap perlahan punggung kokoh pria yang kini tengah dengan manjanya menduselkan wajahnya ke dalam ceruk lehernya.
"Begini - begini pun aku tetap manusia biasa. Jangan membuatku ingin mengigit bibir kecil mu itu! " Dengus pria itu kesal.
Marun memutar bola matanya malas. "Sudah mandi sanah! Bukannya sebentar lagi kau harus pergi ke kantor? Bisa - bisa kau terlambat. " Ucapnya sembari mendorong tubuh pria itu hingga dia terjungkal dari atas kasur ke bawah.
Bruk!
"Honey! Sakit! " Rengek Pria itu sembari mengusap bokongnya yang terasa sakit.
"Huna honi! Mandi sana! " Titahnya lagi dengan kesal.
"Mandikan. " Pinta pria itu dengan manja.
Wanita itu membulatkan mata. Dia mengambil jam weker di atas naskah dan berniat melemparkan nya ke wajah pria itu.
"Pergi tidak! Mandi sanah! "
Bukannya menurut, pria itu malah bangkit dan kembali memeluk tubuh Marun sembari terus merengek minta di mandikan.
"AARON!!!! "
Setelah drama panjang tadi pagi berhasil di tuntaskan, kini mereka berdua tengah berada di dalam mobil dengan wajah Marun yang terlihat menekuk.
__ADS_1
Dia benar - benar sudah di buat lelah dengan tingkah pria itu tadi pagi. Bahkan saat ingin berangkat, pria itu bilang tak mau mengemudikan mobil karena malas. Marun terus memaksanya sampai akhirnya pria itu mengalah karena Marun mengancamnya kalau dia akan jalan kaki jika pria itu tak mau mengemudikan mobil.
Aaron terus menatap wajah Marun yang terlihat begitu kesal karena sikapnya yang tiba - tiba aneh. Bahkan dia sendiri pun bingung kenapa dia jadi begitu manja tadi pagi, bahkan meminta wanita itu untuk memandikan nya.
"Honeyyy.. Kau marah? " Tanya pria itu sembari menghentikan mobilnya. Dia menatap dengan tatapan memelas pada wanita di sampingnya itu.
Namun Wanita itu hanya mendelik dan tak mau menatapnya.
"Maaf Honeyyy, aku juga tidak tau kenapa aku bisa seperti tadi. " Ucap pria itu lagi saat tak mendapat jawaban dari wanitanya.
Marun langsung menatap pria itu tajam dan sinis yang langsung membuat pria itu ciut. "Jalankan mobilnya atau aku turun! " Ancam wanita itu sembari membuka pintu mobil.
Dengan panik Aaron kembali menjalankan mobilnya mendengar ancaman wanita itu.
Sesampainya di kantor, Marun langsung turun dari dalam mobil dan tak memperdulikan pria yang dari tadi terus mengajaknya berbicara.
"Honeyyy, maafkan aku! Aku kan sudah bilang kalau aku tak tau kenapa aku tiba - tiba seperti tadi. Jadi aku mohon maafkan aku! " Mohon pria itu yang membuat Marun kaget apalagi saat melihat ada satu tetes benda cair yang menetes dari ujung mata laki - laki itu.
"Maafkan aku Honeyyy, aku janji tak akan seperti itu lagi. Maafkan akuuu...! " Rengek pria itu lagi yang sungguh membuat Marun tak percaya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis hanya karena hal itu, hah?! Kau tak malu dengan umur mu! " Sentak wanita itu yang malah semakin membuat pria itu menangis.
Marun mengusap wajahnya kasar. Dia mengelus kedua pipi pria itu dan mengusap air mata yang masih menetes dari pelupuk matanya.
"Ada apa denganmu? " Tanya wanita itu kembali dengan bingung.
Ada apa dengannya? Aku hanya mendiamkan dia beberapa saat tapi dia sudah menangis sesegukan seperti ini?
__ADS_1
Bahkan Max yang baru saja datang ke ruangan langsung membulatkan mata dengan wajah yang terlihat begitu kaget. Pria itu sempat mengusap kedua matanya karena berpikir apa yang dia lihat salah.
"Bos! Kau menangis?! " Tanya pria itu tak percaya.
Fenomena macam apa ini? Apa akan terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaan? Bosnya yang terkenal dingin, arogan, tegas, egois, tak bisa menahan emosi dan tak mau kalah ini menangis?
"Max, bujuk wanita ini agar mau memaafkan aku. Aku janji tak akan mengulanginya lagi. " Rengek pria itu kembali seakan tengah meminta ampunan pada seorang ibu.
Max yang masih syok hanya bisa diam dan tak bisa mengatakan apa - apa. Dia menatap Marun yang juga ikut menatapnya Heran.
Wanita itu mengangkat wajahnya dengan bingung ke arah Max seakan tengah meminta bantuan.
Namun pria berkaca mata itu hanya menggeleng pelan dengan wajah yang masih terlihat tak percaya.
Melihat Marun hanya diam membuat pria itu semakin terisak. Dia semakin memeluk perut Marun dengan erat dan kembali meminta maaf.
"Honey!!!!!!!! " Teriaknya begitu kencang hingga membuat Marun terlonjat kaget.
"Iyah! Iyah! Aku sudah memaafkan mu! Bangunlah, kau tak malu di lihat seperti itu oleh Max?! " Titah wanita itu mengelus pelan kedua pipi pria itu.
Seketika isakan pria itu berhenti. Dia menatap seakan memelas pada wanita di atasnya.
"Benarkah? " Tanyanya seperti seorang anak kecil yang tengah di bujuk.
"Iya, cepat bangun! Kau tidak malu di lihat seperti itu oleh Max? Jangan sampai dia mengejek mu. " Ucap wanita itu kembali dengan lembut. Dia berusaha tersenyum manis walaupun dia masih tak menyangka dengan apa yang akan dia lihat hari ini.
Aaron bangun dan melepaskan lengannya dari perut wanita itu. Dia pun memeluk tubuh Marun dan kembali menduselkan wajahnya ke dalam ceruk leher wanitanya. Masih terdengar sedikit isakan dari mulutnya.
__ADS_1
Marun mengusap kembali punggung pria itu dengan lembut. Dia kembali menatap wajah Max yang kini tengah duduk di atas lantai dan masih menatap Bosnya yang tiba - tiba menjadi cengeng hanya karena Marun marah padanya.