
Setelah selesai memakai baju dan sarapan satu piring bersama. Mereka pun kini tengah berada di bagian depan Kapal dan duduk di sebuah kursi lipat yang biasa di pakai orang - orang untuk berjemur di pantai.
Di temani dengan 2 orang pelayan yang akan siap memberikan apa saja yang mereka inginkan, membuat suasana semakin tenang dan damai. Di tambah suara kicau burung dan juga suara ombak di laut menambah suasana semakin tenang dan damai.
"Kita akan ke mana? " Tanya Marun sembari meminum jus jeruknya.
"Ke pulau yang kau inginkan. " Jawab pria itu santai sembari memejamkan kedua matanya.
"Apa akan lama? Memangnya tidak papa kau meninggalkan perusahaan dan menyuruh Max untuk melakukan semuanya? " Tanya wanita itu lagi.
"Kau mengkhawatirkan Max? " Pria itu langsung membuka matanya dan balik bertanya dengan Sinis saat mendengar wanita itu seperti mengkhawatirkan Max.
"Bukan, tapi aku tanya apa tidak papa jika kau memberikan semua tugas mu pada Max? "
"Dia sudah terbiasa seperti itu! Jadi kau tak perlu dan jangan mengkhawatirkan pria bermata empat itu! " Ketus pria itu kesal.
*
*
*
*
"Kau serius? " Tanya seorang pria sembari menyimpan Seloki yang sudah tandas di atas meja.
"Aku serius! Jika tidak mana mungkin aku segelisah ini! Bahkan wanita itu dengan terang - terangannya mengatakan padaku kalau dia adalah wanita kesayangan Aaron. Aku benar - benar kesal padanya! " Sofi menyilang kan kedua tangannya di depan dada dan membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Aku tak percaya Aaron akan secepat itu menghentikan semua kebiasaanya yang suka sekali bermain wanita. Jadi sebaiknya kau coba goda lagi dia dengan keahlian mu, jika dia tak bereaksi atau tak tergoda, maka kita tak akan bisa berbuat apa - apa lagi. " Ucap pria itu kembali mengisi Seloki nya dengan minuman.
"Wanita itu juga ada di sana dengan Aaron. Bahkan kemarin mereka dengan lancang nya berciuman saat aku tengah menelpon Aaron! Wanita itu terlalu percaya diri. Dia bahkan bisa membuat nyonya Perry percaya padanya dan bisa mendapatkan cincin pemberian wanita itu! "
"Apa? Kau serius kalau wanita itu dapat kepercayaan nyonya Perry? " Tanya pria bernama Foniks itu tak percaya.
"Ya! Bahkan dia memamerkannya pada ku dengan sombongnya! Aku semakin tak menyukai wanita itu! "
"Sepertinya Aaron benar - benar tertarik pada wanita itu. " Foniks mengusap rahang kokohnya.
"Aku tidak mau tau! Wanita itu harus di singkirkan dari kehidupan Aaron! Wanita itu sudah mendapatkan keuntungan berlapis dari Aaron! Sudah jadi wanita satu - satunya yang pernah dia perawani, dia juga satu - satunya wanita yang di dalam rahimnya menampung Benih Aaron. " Jelas wanita itu kembali membuat Foniks melebarkan matanya tak percaya.
"Aku tak menyangka dia akan merusak seorang gadis? Bahkan tak memakai pengamanan saat melakukan itu dengannya? " Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kau menyerah saja. Jika sudah dia percayakan keturunannya di dalam rahim wanita itu, maka sudah di pastikan dia memang benar - benar tertarik pada wanita itu. " Usul Foniks tentu tak di Terima oleh wanita itu.
"Aku tak mau tau! Kau harus membantuku untuk bisa mendapatkan Aaron kembali! Aku tak mau dia jatuh ke tangan wanita J a l a n g itu! " Pintar Sofi dengan kesal.
Apa dia tak sadar jika dia sendiri juga wanita j a l a n g? Sudahlah Foniks, jika di teruskan kau pasti akan jadi gila. " Gumam pria itu dalam hati.
"Oh, iya? Beberapa hari lagi akan di adakan pesta perusahaan Black Many kan? Pasti dia akan datang ke sana membawa wanita itu jika memang wanita itu sudah jadi wanitanya Aaron. "
"Lalu? " Pria tampan itu mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Aku punya rencana. " Wanita itu tersenyum sinis seakan merasa rencananya itu benar - benar akan efektif.
*
__ADS_1
*
*
*
Di sebuah pulau yang cantik dan indah, sepasang insan kini tengah asik - asiknya duduk di sana sembari memandangi pulau yang luas dari atas sebuah Resort mewah yang sudah pria itu sediakan di pulau yang wanitanya inginkan.
Kini pria itu pun tengah bermanja dengan wanitanya. Dia kembali tertidur dengan nyamannya di pangkuan sang wanita dan tertidur dengan nyaman.
Pria itu berbalik dan memeluk perut rata wanita itu sembari menyusupkan kepalanya ke dalam perut itu.
"Kapan ini akan terisi? " Tanya pria itu sembari mengelus - elus perut itu menggunakan wajahnya.
Entah kenapa, dan karena apa? Tiba - tiba pria itu menginginkan seorang anak di dalam hidupnya. Dia tiba - tiba membayangkan bagaimana rasanya akan ada seorang bocah kecil yang memanggilnya dengan sebutan Daddy dan bermain dengannya setiap hari, itu pasti akan menyenangkan.
Mengingat usianya yang sudah 35 tahun dan belum punya keturunan, sedangkan Adiknya yang baru berusia 27 tahun sudah punya Anak. Dia pun jadi menginginkan kehadiran seorang anak di dalam hidupnya, di tambah lagi dia juga sudah menemukan wanita yang cocok menemani hidupnya.
Menemani hidup? Tentu saja pria ini sudah serius dengan Marun, hanya saja dia harus menunjukkan itu semua agar wanita ini percaya dan mau menikah dengannya.
"Apa maksud mu? " Marun mengerutkan keningnya heran.
"Aku ingin mendengar seorang anak kecil memanggilku dengan sebutan Daddy, aku ingin melihat seorang anak kecil berlari dengan menggemaskan ke arahku dan menyambut ku setiap aku pulang kerja. Itu pasti akan membuat semua lelahku hilang. " Harap pria itu bersungguh - sungguh.
Marun yang mendengar keinginan pria itu hanya bisa menatapnya dengan tatapan haru.
Seorang pria Casanova yang berusaha insaf ini menginginkan seorang anak dari wanita yang dia pilih. Jika dia hamil, apa mungkin pria ini akan sangat senang? Apalagi saat tau ternyata pria ini juga tengah menginginkan kehadiran seorang anak.
__ADS_1