Wanita Milik Casanova

Wanita Milik Casanova
Bab 20


__ADS_3

"Raisya? " Suara Bariton seorang pria berhasil membuat pandangan kedua wanita itu beralih.


Wanita yang di panggil Raisya itu tersenyum dan berjalan ke arah Aaron dengan sengaja menggerakkan pinggangnya hingga lekukan tubuhnya terlihat begitu jelas.


Marun yang melihat itu hanya bergidik ngeri. Astaga, kenapa ada begitu banyak wanita yang ingin menggoda pria gila itu? " Marun bergumam pelan sembari menggelengkan kepalanya.


"Tuan, ini adalah berkas yang sudah aku selesaikan. Anda bisa melihatnya lagi. " Ucap wanita itu dengan sangat lembut bahkan lebih lembut dari sutra.


Aaron mengambil Berkas yang wanita itu berikan padanya dan membacanya satu persatu. "Ini sudah benar, kau bisa memberikan ini pada Max agar dia bisa menyusunnya lagi. " Titahnya kembali memberikan berkasnya pada wanita itu.


"Tuan, apa nanti siang kita bisa makan siang bersama? " Tanyanya dengan percaya diri. Karena pernah tidur dengan Bosnya yang di kenal Casanova handal, dia pun jadi sombong pada teman kerjanya karena menganggap dirinya begitu menarik dan menggoda bisa tidur dengan Atasannya.


"Tidak bisa, aku akan makan siang, makan malam dan tidur bersama wanitaku. " Pria itu melirik Marun yang sekarang tengah mengupas Buah apel.


Raisya pun ikut menatap Marun dan menatapnya sinis. Marun pun ikut menatap mereka berdua sembari menggigit apelnya.


"Wah, Nona. Sepertinya aku sangat cantik sampai kau terus - menerus menatapku dari tadi. " Marun tersenyum manis saat melihat wanita itu kembali menatap nya dengan sinis.


Raisya mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Dia pun ikut tersenyum.


"Iyah, tentu saja. Wanita yang bisa bersama Tuan Aaron hanyalah wanita menarik, sexy, cantik dan menggoda. Dan tentu, handal di atas ranjang. " Ucapnya.


Marun langsung menatapnya datar saat mendengar ucapannya. Dia berdiri dari duduknya dan mendekati wanita itu, masih tersenyum. Dia pun berucap.


"Ah, Nona kau bisa saja. Terimakasih atas pujiannya. Sebagai sama - sama wanita yang pernah dia tiduri, seharusnya anda tau seberapa gagah dan perkasa nya dia di atas ranjang. Jadi, walaupun aku mendominasi, aku tetap tak akan menang melawannya. Sekalipun aku berada di atasnya. "


Pria di belakang langsung tersenyum miring mendengar ucapan Wanita itu. Baru saja dia menghina miliknya kecil, sekarang memujinya gagah dan perkasa. Wanita itu bisa berubah kapan saja rupanya.

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. " Raisya buru - buru keluar dari ruangan itu dengan perasaan hati yang dongkol.


Marun langsung menatap tak suka wanita itu dan menyilang kan tangannya di bawah dada.


"Cih! Dia pikir aku wanita penggoda sepertinya, apa?! Hanya karena aku di perawani seorang Casanova sialan dan tak tau malu!! " Marun memekik kesal karena seperti di anggap wanita murahan oleh wanita tadi.


Aaron yang mendengar itu lagi - lagi tertawa sumbang. Marun pun menatapnya dengan tajam.


"Wah, Nona. Ternyata tadi kau berbohong, yah? Saat mengatakan milikku kecil? Namun nyatanya kau malah mengatakan aku ini gagah dan perkasa. "


"Dih! Aku juga terpaksa mengatakan itu! Tapi kenyataannya di mataku milik mu itu kecil! Tidak ada perdebatan dan itu tetap kecil!! " Tegas wanita itu.


"Bagaimana kau tau jika dia pernah tidur dengan ku? " Tanya pria itu saat mendengar ucapan Marun pada Raisya tentang wanita yang sama - sama pernah dia tiduri.


"Dari caranya berjalan saja sudah terlihat kalau dia pernah atau mungkin sering menggoda mu, jadi ada kemungkinan besar jika kau pernah tidur dengannya. Secara faktanya kau mata keranjang dan mudah tergoda! " Jawab wanita itu sinis.


Pria itu tersenyum tipis. "Matamu cukup jeli ternyata. Tapi kau harus tau, dia sama sekali tak memuaskan ku. Bahkan tak membuatku pelepasan sama - sekali! " Ketus pria menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


"Wanita yang beruntung.. " Gumam wanita itu pelan.


"Tapi yang pasti, kau perlu tau. Kau lah satu - satunya wanita yang rahimnya ku hangatkan dengan seluruh keturunanku! "


"Siapa yang mau hamil anakmu! " Marun berdesis kesal.


"Tapi kau tengah menampungnya sekarang. Dan aku yakin, walaupun kau hamil. Kau tak akan berani melakukan apapun pada calon anakku. " Ucap pria itu yakin.


"Tak bisa melakukan apapun padanya? Aku bisa lari dari mu dengan membawa anak ini dan membiarkan pria lain memanggilnya ayah! " Tantang wanita itu tak mau kalah.

__ADS_1


"Memangnya kau bisa lari dari ku? " Kini pria itu yang berdesis.


"Dalam hidupmu, aku satu - satunya wanita yang tak pernah kau bayangkan. Jadi, jangan salah kan aku jika tingkahku nanti membuat mu tak bisa membayangkan nya! " Wanita itu tersenyum sinis dan berbalik hendak duduk kembali di atas sofa.


Namun tak lama...


"Apa lagi mau mu?! " Marun menjerit saat tubuhnya di angkat dan di duduk kan di pangkuan lelaki itu.


Pria itu tak menjawab dan malah mencium kedua pipinya dan mengendus lehernya perlahan - lahan dan turun ke tulang selangka.


"Lepaskan aku Aaron! Mau apa lagi kau?! " Marun mendorong bahu kokoh itu agar menjauh darinya.


"Lepaskan Aaron! Apa kau belum puas, hah?! Jangan meninggalkan jejak di leherku! Jika ada yang lihat bagaimana? "


"Biarkan saja. " Pria itu ingin kembali membuka Kancing bajunya, namun suara ketukan pintu membuat dia mendelik sinis dan mendesah kasar.


"Masuk! "


Dan masuklah pria bermata empat dengan sedikit tersenyum kikuk padanya. "Maaf mengganggu Bos. Tapi aku hanya ingin mengatakan padamu kalau meeting kita akan segera berlangsung 2 jam lagi. " Ucap pria itu tak berani menatap Marun yang masih di atas pangkuan Bosnya.


"Aaron, turunkan aku. Apa kau tidak malu? " Tanya wanita itu berusaha turun dari pangkuan Aaron karena malu melihat senyuman kikuk dari Max.


"Sudah, diam lah! " Aaron mencengkram kuat - kuat bokong wanita itu hingga membuat kedua pasang mata nya melotot.


"Baiklah, kau siapkan saja tempatnya. Aku masih ingin bersenang - senang! Sudah, pergi sana. Jika kau berani mengetuk pintu lagi ku patahkan tanganmu! " Usir nya dengan datar pada sang Asisten.


"Siap, Bos! Permisi! "

__ADS_1


__ADS_2