
Sore hari nya Weni dan Angga memilih untuk ke mansion sang Mommy.
"Bisa?" tanya Angga saat Weni akan melangkahkan kaki nya.
"Bisa, udah agak mendingan kok" jawab Weni tersenyum.
"Masih ngilu?" tanya Angga kembali dengan khawatir
"Tidak apa, Mas. Aku bisa nahannya kok" jawab Weni lembut.
Angga menghembuskan nafas kasar, lalu ia meraih tangan sang Istri dan berlalu dari kamar.
"Jangan kesana aja ya, kamu pasti masih sakit" ucap Angga saat melihat jalan Weni yang meringis.
Weni menatap Angga dengan tatapan lembut nya lalu ia menangkup kedua pipi sang Suami.
"Aku tidak apa, Mas. Jika tidak kesana aku tak enak sama Mom dan Dadd. Tenanglah oke, aku kan kuat" balas Weni dengan tersenyum.
Angga mengecup bib*r Weni dengan sekilas, lalu ia menganggukan kepala dan menggendong Weni ke luar mansion.
"Jangan protes, oke" ucap Angga tersenyum.
Weni memeluk tubuh tegap tersebut dengan hangat, lalu ia tersenyum.
Angga mendudukan Weni dengan sangat hati-hati, seperti barang yang takut akan pecah.
"Aku seperti orang sakit saja, Mas" kekeh Weni dengan memasang sabuk pengaman nya.
"Maaf ya, jadi harus melewati kumpul bersama mereka" ucap Angga dengan sesal.
"Tidak apa, Mas. Aku tidak marah ataupun menyesal kok, itu sudah kewajiban aku kan" balas Weni lembut.
"Jangan merasa sesal begitu, jelek tahu" goda Weni dengan mengecup lembut pipi Angga.
"Ehhh nakal ya" ucap Angga dengan terkekeh.
"Ayo jalan" ajak Weni tersenyum.
Lalu Angga melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, ia terus saja menggenggam tangan Weni dengan sayang.
Bahkan senyuman tidak pernah lepas dari wajah tampan nya.
Sesampai nya di mansion utama, Weni dan Angga langsung saja masuk. Weni berjalan dengan agak beda dari biasa nya.
"Mommm" panggil saat melihat yang lain nya sedang berkumpul.
"Hai sayang, kemarilah" ucap Mom Yunita dengan senang.
Lalu Angga merangkul pinggang Weni dengan lembut, sedangkan Weni ia berjalan dengan agak meringis.
"Mbak, kenapa jalan mu jadi begitu?" tanya Dise dengan polos.
__ADS_1
Mom Yunita menatap sang menantu nya dan ia langsung menatap Putra nya.
Angga hanya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal sama sekali.
"Woahhh ayo sini sayang, mulai saat ini kamu jangan terlalu lelah ya. Biar ada isi nya disini" ucap Mom Yunita dengan bahagia sambil mengelus perut Weni.
Angga tersenyum tipis saat melihat wajah merona sang Istri.
"Mommm" tegur Dadd Paris karena ia kasihan melihat menantu nya yang sedang menahan malu.
Sedangkan yang lainnya hanya menatap dengan bingung.
Lalu Weni dan Angga duduk bersama mereka, mereka akan melakukan bakar-bakar kembali nanti malam.
*
Malam hari nya, semua orang berkumpul kembali di ruang keluarga.
Mereka akan makan malam di luar, mereka tidak akan bbq'an.
"Ayo berangkat" ucap Dadd Paris.
Mereka berangkat dengan 3 mobil, Rega bersama dengan Tuan dan Nona muda nya.
Angga sudah memboking restoran untuk malam ini, bahkan Angga hampir mengosongkan restoran tersebut agar nyaman untuk keluarga nya.
"Apa masih sakit?" tanya Angga dengan khawatir.
"Sudah tidak, sayang" jawab Weni dengan gemas.
Lalu Angga mendudukan Weni di pangkuannya.
"Mas, malu ihh ada Rega" protes Weni dengan kesal.
"Gak bakal kelihatan kok, sayang" ucap Angga tersenyum.
Weni hanya bisa pasrah saja, lalu ia menatap Angga yang sedang tersenyum manis pada nya.
"Ada ap hmmppp" belum sempat Weni menyelesaikan ucapan nya, Angga sudah lebih dulu membungkam nya dengan lembut.
Weni melototkan mata nya pada Angga, tetapi Angga hanya mengedipkan sebelah mata nya saja.
Angga terus saja mel*mat nya dengan lembut, hingga Weni lebih rilexs dan mengalungkan tangan nya pada leher Angga.
Setelah di rasa Weni kehabisan nafas, barulah Angga melepaskan nya.
"Candu ku" ucap Angga dengan mengusap lembut bibir Weni dengan ibu jari nya.
Weni memalingkan wajah nya karena sangat malu, bahkan wajah nya sudah seperti tomat saja.
Sesampai nya di restoran tersebut, Angga dan yang lainnya langsung masuk.
__ADS_1
Angga merangkul pinggang ramping sang istri dengan sangat posesif, bahkan wajah nya pun sudah dalam mode dingin kembali.
"Kita lesehan saja, ya" ucap Weni tersenyum.
"Lebih enak begini, Nak" balas Mom Yunita.
Pelayan datang dengan berbagai menu yang memang sudah di pesan lebih dulu oleh Angga.
"Wahh ada kepiting" pekik Weni dengan wajah berbinar.
"Khusus buat kamu, sayang" ucap Angga lembut.
"Cieee Mbak Weni, sosweet sekali sih" goda Hana dengan tersenyum.
"Ehh iyaa dong" balas Weni dengan terkekeh.
Lalu mereka memulai makan malam nya dengan hangat, bahkan Paman Herman pun tersenyum melihat kehangatan keluarga tersebut.
Angga dengan telaten memisahkan daging kepiting untuk Weni, dan hal itu tidak luput dari Daddy dan Mommy nya.
Mereka tersenyum tipis karena Angga mendapatkan pendamping yang sangat ia cintai dan begitu pun sebalik nya.
Walaupun mereka tahu bahwa Weni masih belajar mencintai Angga, tetapi mereka yakin bahwa cinta itu sudah ada di hati Weni untuk Angga.
Setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk ke taman yang ada disana.
"Emmhh indah sekali" gumam Weni saat duduk di kursi yang menghadap ke arah kebun bunga.
"Sayang" panggil Mom Yunita lembut.
"Ehh Mom, duduklah" ucap Weni tersenyum.
"Kenapa tadi pagi tidak ke mansion sayang?" tanya Mom Yunita
"Emm anu Mom" jawab Weni dengan bingung.
"Ck, pasti Angga yang membuat kamu lelah kan" ucap Mom Yunita dengan terkekeh.
"Mommmm" rengek Weni karena malu.
"Haha, iya iya tidak akan di bahas lagi" balas Mom Yunita memeluk Weni.
"Berbahagia lah seperti apa yang di inginkan oleh Ayah dan Bunda mu, Mom sangat senang melihat kalian selalu kompak, akur dan tidak pernah jaga jarak walaupun Mom tahu kamu masih belajar mencintai, Angga" ucap Mom Yunita kembali dengan lembut.
"Itu karena Angga selalu saja bisa buat aku nyaman, tersenyum dan merasa di lindungi. Aku mencintai dia, Mom" balas Weni dengan lirih.
Mom Yunita menatap dengan seksama, lalu ia menganggukan kepala nya dengan tersenyum.
Dia bisa melihat bahwa ketulusan ada di mata Weni, bahkan ia juga melihat ada cinta disana.
.
__ADS_1
.
.