
Weni langsung saja di bawa ke ruang IGD, Angga terus saja bersama nya bahkan ia tidak melepaskan genggaman nya sama sekali.
"Aku mohon bertahanlah, sayang" bisik Angga dengan lirih.
Dokter Mutia langsung saja memeriksa kondisi Weni dan bayi nya.
"Tuan, Nyonya harus segera di operasi" ucap Dokter Mutia dengan cepat.
"Lakukan saja, selamatkan kedua nya Dok" balas Angga dengan tegas.
Dokter Mutia hanya mengangguk saja, lalu ia memerintah kan kepada suster untuk menyiapkan ruangan operasi nya secepat mungkin.
Sedangkan di luar, Mom Yunita terus saja menangis karena sangat khawatir pada Weni dan calon cucu nya.
"Tenanglah, Mom" ucap Dadd Paris.
Hana dan Vio langsung saja menghampiri sang mertua Weni, mereka sangat kaget saat mendengar bahwa Weni terjatuh dari tangga.
"Momm, Dadd" panggil Hana dengan nafas yang masih memburu.
"Ayo kita ke ruang operasi" ajak Mom Yunita.
Lalu mereka langsung saja berjalan ke ruang operasi, Hana terus saja menyeka air mata nya di sepanjang jalan.
"Aku mohon, bertahanlah Mbak. Maafkan aku yang tak bisa menjaga mu" batin Hana dengan sakit.
Di depan ruang operasi, Angga menatap pintu ruangan tersebut dengan penuh derai air mata.
"Nak" panggil Mom Yunita.
__ADS_1
Angga langsung saja memeluk Mommy nya dengan erat, ia bahkan terisak di dalam pelukannya.
"Aku takut, Mom" bisik Angga dengan lirih.
"Nak, tenanglah. Weni akan baik-baik saja, dia wanita yang kuat" ucap Mommy dengan lembut.
"Apa yang di katakan Mommy mu benar, Nak" timpal Daddy.
Angga lalu melepaskan pelukannya dan ia menatap Hana dan Vio.
"Di mansion sudah berkumpul semua pelayan dan penjaga, bahkan penjagaan di gantikan oleh penjaga yang terpercaya. Disana jiga ada Paman Herman, Rega , dan yang lainnya" ucap Hana seakan tahu apa yang di pikirkan Angga.
"Aku akan kesana" ucap Angga dengan wajah yang di penuhi oleh amarah.
"Kalau kau pergi, nanti Weni akan mencari mu. Tetaplah disini, biar Daddy yang akan kesana" cegah Daddy dengan tegas.
Daddy hanya mengangguk, lalu dia pergi dari sana bersama sopir yang mengantarkan Hana.
Angga dan yang lainnya duduk dengan penuh perasaan yang berkecamuk, bahkan Angga tidak bisa diam sama sekali.
Hingga 1 jam berlalu, terdengarlah suara tangisan bayi yang sangat menggema dari dalam ruangan.
Angga langsung saja memeluk sang Mommy dengan wajah bahagia dan air mata yang mengalir.
"Mom, anak ku" ucap Angga dengan bahagia.
Ceklek.
"Tuan, silahkan anda masuk" ucap Suster dengan tersenyum.
__ADS_1
Angga langsung saja masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.
"Sus, bagaimana keadaan Ibu dan Bayi nya?" tanya Mom Yunita.
"Baik Nyonya, semua nya baik-baik saja walaupun tadi sempat pendarahan tetapi tidak parah" jawab Suster dengan ramah.
"Syukurlah" ucap Mommy, Hana dan Vio.
Lalu Suster tersebut permisi dan kembali lagi masuk, sedangkan Mommy dan Hana langsung duduk kembali.
Sedangkan Vio, dia berlalu untuk membeli makanan untuk mereka.
***
Sedangkan di mansion, telah tecipta aura dingin nan mencekam saat sang Tuan Besar datang.
Herman langsung saja menceritakan semua nya, bahkan ia melihat CCTV dari sudut yang memang di sembunyikan.
"Apakah dia ada?" tanya Paris dengan dingin.
"Hemmmm, tetapi dia tidak mau mengaku" jawab Herman dengan datar.
"Panggil Dia" ucap Paris dengan penuh emosi.
.
.
.
__ADS_1