
5 Bulan berlalu, kehidupan Weni dan Angga di penuhi dengan suka cita kebahagian. Bahkan Angga serta semua nya sedang menunggu kelahiran Baby yang ada dalam perut Weni.
"Kapan perkiraan Dokter nya, sayang?" tanya Mom Yunita lembut
"Perkiraan Dokter minggu-minggu ini Mom, tapi bisa saja kan sekarang juga" jawab Weni dengan terkekeh.
Mom Yunita tertawa kecil dan mengusap lembut perut sang menantu.
"Ayo jalan-jalan, sayang" ajak Angga yang baru turun.
Weni menganggukan kepala dan mengecup pipi sang mertua tanda pamitan.
Mom Yunita tersenyum dan membalas mengecup kening menantu nya.
"Jangan keluar pagar utama, di halaman depan juga luas, Nak" ucap Mom Yunita lembut.
"Iya Mom" balas Angga dan Weni.
Entah kenapa Mom Yunita selalu merasa was-was beberapa hari ini. Memang Surya dan keluarga nya tidak membuat kekacauan tetapi mereka tetap waspada karena takut Surya bertindak.
Kepala pelayan lalu menghidangkan beberapa camilan untuk Nyonya nya.
"Silahkan Nyonya" ucap Bibi Yun
"Terimakasih Bi" balas Mom Yunita dengan helaan nafas kasar.
Bibi Yun menatap nya dengan sedikit seksama, tidak biasa nya sang Nyonya gelisah seperti itu.
"Nyonya, apa ada masalah?" tanya Bibi Yun.
Mom Yunita menatap Bibi Yun dan menggelengkan kepala dengan tersenyum kecil.
"Tidak ada Bi, aku sedang menunggu suami ku saja" jawab Mom Yunita.
"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit Bibi Yun.
__ADS_1
Mom Yunita menganggukan kepala saja.
Hingga tak lama kemudian sang Suami datang dari arah kamar nya.
"Mas, kemarilah" panggil Mom Yunita.
"Ada apa?" tanya Dadd Paris dengan heran.
Tetapi Mom Yunita menggelengkan kepala dan menepuk sofa di sebelah nya.
Setelah Suami nya duduk, Mom Yunita membisikan sesuatu yang menjadi ke gelisahan nya selama beberapa hari ini.
Dad Paris langsung menatap sang Istri dengan seksama, ia hanya mendapatkan anggukan saja dari Istri nya.
"Apa Angga tahu?" tanya Daddy
"Belum, mereka sedang berjalan-jalan di depan, selepas sarapan kita harus memberitahu nya" jawab Mommy dengan tegas.
Daddy hanya menganggukan kepala dan menemani sang Istri meminum teh.
"Cepatlah, kita akan sarapan Nak" ucap Daddy dengan serius.
Angga dan Weni menganggukan kepala dan saling pandang, sedangkan Angga sudah tahu bahwa ada yang ingin sang Daddy bicarakan.
***
Setelah selesai membersihkan diri nya, Weni dan Angga langsung saja masuk ke ruang makan, karena kedua orangtua nya sudah menunggu disana.
Tetapi sebelum itu, Weni izin untuk naik ke lantai atas karena ingin mengambil sesuatu di kamar utama.
"Hati-hati" ucap Angga.
"Iyaa Mas" balas Weni.
Lalu Weni naik dengan berpegangan dan sangat hati-hati, sedangkan Angga hanya memperhatikannya dari bawah.
__ADS_1
Setelah dirasa Weni masuk ke dalam kamar, ia pun langsung berjalan ke arah ruang makan.
"Loh mana Weni?" tanya Mommy dengan panik.
"Dia sedang mengambil sesuatu di lantai atas" jawab Angga dengan heran.
"Ya tuhannn" pekik Mom Yunita dan langsung berdiri dari duduk nya dan langsung berlari.
Belum juga Angga dan Daddy nya berdiri, mereka sudah di kejutkan dengan teriakan Mommy dan Weni.
"Weniiiiiiiii" teriak Mommy dengan sangat panik.
"Aaaaaaaaaaaaa" teriak Weni
Angga langsung saja berlari dan melihat apa yang terjadi, ia sangat terkejut saat sampai dan melihat sang Istri yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir.
"Sayangggg" teriak Angga dengan histeris.
Mom Yunita terus saja menepuk pipi Weni agar terus sadar. Sedangkan sang Daddy menyiapkan mobil.
"Ayo bawa ke Rumah sakit Angga" ucap Mom Yunita dengan terisak.
Angga langsung saja menggendong Weni dan masuk ke dalam mobil yang sudah ada Daddy nya.
"Jangan biarkan seorang pun keluar dari Mansion" pesan Angga pada penjaga kepercayaan nya.
Lalu mereka langsung melesat menuju ke Rumah sakit yang terdekat.
Sedangkan Mom Yunita, dia langsung menelpon Herman dan Rega agar datang ke mansion dan menangkap yang sudah membuat sang Menantu terjatuh.
.
.
.
__ADS_1