
Dengan penuh rasa haru, Angga menggendong bayi Laki-laki nya yang sangat mirip dengan dirinya.
"Tuan, Nyonya akan di pindahkan ke ruang rawat. Biar Baby nya saya bersihkan dulu" ucap Suster dengan sopan.
"Pindahkan ke VVIP, Sus" perintah Angga.
"Baik Tuan" balas Suster.
Lalu Angga memberikan baby nya pada Suster lainnya untuk di bersihkan. Sedangkan dia ikut ke ruang rawat sang Istri.
Di dalam ruangan tersebut sudah ada Mommy, Hana dan Vio. Mereka menunggu disana setelah selesai makan.
"Mom, dimana Daddy?" tanya Angga
"Daddy pulang, Nak" jawab Mommy dengan tersenyum.
"Kamu disini saja, nanti Weni bangun dia akan mencari mu, sayang" ucap Mom Yunita lembut.
"Hemmm" balas Angga dengan berlalu dari hadapan sang Mommy.
***
Sedangkan di Mansion, Daddy Paris menatap nyalang pada wanita yang ada di hadapannya sekarang. Bahkan ia sudah sangat ingin mencabik-cabik nya.
__ADS_1
"Masukan dia ke ruang tahanan, biarkan Angga dan Weni yang memutuskan untuk menghukum nya" ucap Dad Paris dengan tegas.
"Aku tidak akan takut, yang terpenting dendam Paman ku sudah terbalaskan. Aku yakin sekali bahwa Weni dan anak nya akan mati" teriak wanita tersebut dengan sangat menggema.
Dad Paris hanya tersenyum kecil dan menyuruh anak buah nya memasukan wanita tersebut bersama dengan Paman nya.
"Kalian bubar semuanya" ucap Dad Paris
Mereka langsung membubarkan diri dan kembali ke pekerjaannya masing-masing.
"Ga, dimana Herman?" tanya Dad Paris.
"Tuan Herman sedang menemui tahanan di belakang, aku yakin dia pasti sedang membabi buta" jawab Rega dengan santai.
"Ayo kita ke rumah sakit" ajak Dad Paris.
Rega hanya menganggukan kepala dan mereka berlalu dari sana, mereka akan membiarkan Herman bersenang-senang dengan tahanan nya.
Dan disinilah Herman berada, di ruangan paling belakang di mansion Tamara.
"Aku tak menyangka, kau akan tega menyelakai Weni, kau sama saja seperti Paman mu itu" ucap Herman dengan menahan emosi.
"Heh, aku awal nya memang baik dengan Weni tetapi aku sangat muak saat dia dan keluarga nya mempermalukan Paman dan Bibi ku, bahkan saat ini Lauren sakit keras karena memikirkan nasib Bunda nya yang kau penjarakan" teriak wanita tersebut dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Itu memang resiko nya, dan itu juga berlaku untuk mu dan dia" balas Herman dengan santai menunjuk ke arah Surya.
"Tetapi bukan aku yang akan menghukum kalian, melainkan Angga lah yang akan menghukum kalian" ucap Herman dengan datar.
Surya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, seluruh tubuh nya rasanya sangat remuk redam karena dia di pukuli oleh Herman dan anak buah Angga.
Bahkan wajah nya sudah sangat lebam akibat pukulan tersebut, dia yang memang sedang bersembunyi dan hanya sendirian tidak tahu bahwa anak buah Angga akan menangkap nya dengan sangat cepat.
"Sial sekali, aku pastikan kau akan mati Herman" batin Surya dengan tatapan tajam nya.
"Bahkan perusahaan Paman mu pun sudah atas nama Nyonya Weni semua nya" ucap Herman.
"Itu tidak akan terjadi" lirih Surya dengan sekuat tenaga.
Lalu Herman melemparkan beberapa berkas ke hadapan Surya, disana tertera semua aset nya atas nama Weni Widjadja dan tidak ada nama Lauren ataupun dirinya.
Surya langsung saja kaget, bahkan ia tidak menyangka bahwa mereka akan bergerak cepat.
"Ini tidak mungkin" ucap Surya dengan sorot mata tajam nya.
.
.
__ADS_1
.