Wanita Tangguh-Ku

Wanita Tangguh-Ku
Air Mata Weni


__ADS_3

Di Apartemen Herman, dia sudah seorang diri karena sejak tadi Istri dan Putri nya sudah pergi dari sana.


Ia bahkan sampai memanipulasi data supaya Istri dan anak nya tidak di ketahui oleh Surya dan anak buah nya.


Herman sudah menduga, bahkan ia juga sudah memikirkan cara agar Surya dapat percaya pada nya.


"Aku tidak boleh gugup dan takut, aku harus bisa demi Weni dan calon anak nya" gumam Herman dengan tegas.


Lalu tak lama kemudian datanglah orang suruhan Daddy Paris untuk menemani nya dan berjaga-jaga.


"Tuan" sapa seorang pria dengan sopan.


"Duduklah, dan biasakan berbicara santai agar Surya tidak curiga" ucap Herman dengan tegas.


"Baik" balas pria tersebut.


Lalu mereka terlibat obrolan ringan agar tidak canggung dan kaku.


**


Sedangkan di Mansion utama TR, Angga dan Weni serta yang lainnya membahas masalah mereka yang akan pergi untuk sementara waktu.


"Biar Bibi yang bereskan barang-barang nya, kamu disini saja bersama Mommy" ucap Mom Yunita lembut.


"Baiklah, Mom" patuh Weni dengan tersenyum.


Lalu Weni memilih duduk di samping sang Suami, ia menatap lekat wajah Suami nya yang seperti sedang risau.


"Mas, padahal aku tidak akan apa-apa kalau tidak pergi juga. Aku akan menghadapi mereka agar tidak ada keterpanjangan masalah lagi" ucap Weni dengan yakin.


"Aku bahkan belum berkonsultansi pada Dokter Kandungan-ku" ucap Weni kembali.

__ADS_1


Angga memeluk Weni dari samping, lalu ia mengecup seluruh inci wajah sang Istri.


"Biarkan kita pergi dulu untuk saat ini ya, sayang" bujuk Angga dengan lembut.


"Aku sudah seperti seorang pengecut saja" ucap Weni dengan terkekeh sambil melepaskan pelukannya dari sang Suami.


"Mom, Daddy, aku ke kamar duluan ya, aku cukup lelah" pamit Weni dengan bangkit dari duduk nya.


"Sayang" ucap Angga dengan sesak.


"Aku istirahat dulu, aku kan lemah dan gampang lelah jadi aku akan istirahat lebih awal" balas Weni dengan berlalu dari sana.


Weni merasa sangat lemah dan pengecut, lagi dan lagi ia harus bersembunyi dari sang Paman.


Ingin sekali Weni menghadapi nya dan berbicara dengan tegas agar urusannya tidak kesana kemari.


Lalu tangan Weni menyeka air mata nya, ia juga tidak menyalahkan mertua dan suami nya tetapi ia juga tidak bisa tinggal diam saja.


"Tuan, Mom dan Daddy, Hana meminta maaf atas ucapan dan perlakuan Mbak Weni barusan ya. Karena sejak dari dulu Mbak Weni selalu menghadapi masalah nya dengan berani dan tidak bersembunyi, apalagi sampai meminta bantuan orang terdekat dan akan membuat nya terancam" ucap Hana dengan tersenyum.


"Apalagi saat ini ia sudah mempunyai Anda, Tuan Muda. Cobalah dukung dan beri semangat agar Mbak Weni tidak merasa dirinya lemah" ucap Hana kembali.


Lalu Hana pamit dari sana, setelah itu Angga langsung saja berlalu menghampiri sang Istri di kamar nya.


"Biarkan mereka mencari jalan keluar nya berdua, kita hanya bisa mendukung nya saja, jangan ikut campur" ucap Daddy Paris pada sang Istri.


Mom Yunita mengangguk dengan tersenyum lembut, lalu mereka memutuskan kembali ke kamar nya untuk istirahat.


Sedangkan di kamar Angga, ia menghela nafas saat melihat sang Istri yang pura-pura tidur.


"Sayang" panggil Angga lembut.

__ADS_1


Tidak ada jawaban, lalu Angga mendekat dan merebahkan tubuh nya di samping Weni.


"Mas tahu kamu belum tidur, maafkan Mas ya" ucap Angga kembali.


Weni seketika membuka mata nya dan berbalik membelakangi Angga.


"Mas tahu? Aku juga ingin mendapatkan dukungan agar dapat melawan Paman dengan berani, agar mereka tahu bahwa aku wanita kuat dan berani" ucap Weni dengan bergetar.


"Bukan seperti sekarang, bersembunyi di ketiak kamu dan pergi saat dia datang. Aku ini sudah seperti wanita lemah yang tidak bisa apa-apa" lanjut Weni dengan isak tangis nya.


Angga mengerjap dan langsung saja bangun dari duduk nya, ia membawa sang Istri ke dalam pelukannya.


"A-aku tahu Mas dan yang lainnya khawatir padaku dan juga kandungan ku. Aku tahu akan hal itu dan aku juga mengerti, tapi aku tidak mau terus bersembunyi dan membahayakan kalian semua" ucap Weni kembali dengan melepaskan pelukan Angga.


"Sayang, plis jangan menangis. Mas minta maaf dan Mas akan turuti jika kamu ingin menemui Paman Mu" ucap Angga cepat dan memeluk Weni kembali.


"Tidak usah, aku akan pergi dengan kalian besok pagi" putus Weni dengan tegas.


Lalu ia merebahkan tubuh nya dan memejamkan mata nya dengan sisa isak tangis.


Angga gelagapan bahkan ia merasa sangat sesak dengan melihat keadaan sang Istri.


"Sayang, Mas mohon maafkan Mas. Jangan seperti ini sayang" ucap Angga dengan sendu.


Weni membuka mata nya, ia kaget saat melihat sang Suami meneteskan air mata nya.


Lalu ia bangun dan duduk di hadapan sang Suami, ia menyeka air mata Angga dengan lembut.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2