
Raffa pun kembali kedalam kamarnya dia sendiri bingung dengan apa yang telah dia katakan sebelumnya pada sang Bunda kalau dia akan mencarikan seorang menantu yang baik untuk sang Bunda hal itu tentu saja membuat dia sedikit pusing.
"Aduh kenapa aku harus mengatakan itu pada Bunda?pasti Bunda akan berharap banyak dari aku. aduh pusing sendiri deh."ucap Raffa dalam hatinya...
Raffa pun terus saja menghela nafasnya dia tak tahu harus bagaimana kedepannya jika nyatanya wanita itu sama saja sama sama menyakitinya..
Pada ke esokan harinya,Raffa bangun pagi pagi sekali setelah dia melaksanakan shalat subuh Raffa pun langsung berolah raga.. Raffa sangat menjaga kesehatannya sehingga dia selalu saja menyempatkan diri untuk berolah raga..
Setalah selesai Raffa pun sarapan dan setelah itu Raffa berangkat ke kantor seperti bisanya.
Raffa pun berpamitan pada sang Bunda dan kemudian dia pun berangkat..
Di tempat yang berbeda.
Arumi tiba tiba saja datang ke kantor Raffa berharap Raffa akan segera memaafkan semuanya. Arumi pun menunggu Raffa di lobby kantor karena saat ini Arumi sudah tak memiliki akses apapun di perusahan besar itu...
Raffa baru saja turun dari mobilnya dan Arumi langsung mendekatinya..
"Mas Raffa maafkan aku,aku mohon berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya.."ucap Arumi berulang kali..
Raffa pun tak menjawabnya dia justru menyuruh satpam untuk membawa Arumi keluar dari kantornya dan melarang keras Arumi untuk datang ke kantor itu lagi.
Kali ini Raffa bersikap keras pada Arumi dia sudah gak mau lagi hidup dalam bayang bayang masa lalunya. Raffa pun menyadari bahwa apa yang dia lakukan itu salah..
Raffa pun kembali keruangan ya kemudian dia membanting tubuhnya di atas kursi kebesarannya dia tak menyangka jika hari ini akan bertemu dengan wanita yang telah benar benar melukai hatinya...
"Kenapa dia bisa mempunyai akses kesini lagi? Ya Allah aku ingin melupakannya aku ingin melupakan rasa sakit yang sudah lama aku simpan. Aku pun ingin melanjutkan kehidupanku lagi,aku bosan dengan semua ini.."Raffa pun nampak frustasi..
__ADS_1
...****************...
Di tempat yang berbeda...
Ibu Maurel sedang berjalan jalan dia mall yang biasa dia kunjungi. Sudah sekian lama Ibu Maurel tak keluar rumah semenjak perceraian itu Ibu Maurel memilih untuk mengurung diri di dalam rumah..
Entah kenapa hari ini Ibu Maurel sangat ingin berjalan jalan ke mall dan kebetulan di sana ada sebuah acara fashion. Ibu Maurel yang memang sangat menyukai fashion pun langsung datang mendekat. Dia melihat sebuah gaun yang sangat indah bahkan Ibu Maurel langsung jatuh cinta pada gaun itu..
"Mbak maaf ini harganya berapa?"tanya Ibu Maurel lirih.
Seorang karyawan pun langsung mendekatinya dan kemudian mengecek harga untuk gaun yang ada di tangannya. gaun itu di bandrol dengan harga 15 juta...
Ibu Maurel pun langsung mengangguk dan kemudian membayarnya. Ketika sedang berada di kasir Ibu Maurel pun bertemu kembali dengan Reva wanita sederhana yang pernah dia temui waktu dia sedang down kala itu...
Ibu Maurel pun langsung mendekati Reva yang kebetulan pemilik dari butik yang sedang dia kunjungi..
Reva pun tersenyum dia mencoba untuk mengingat tentang wanita yang ada di hadapannya saat ini..
"Maaf kalau gak salah ini Tante Maurel ya?"tanya Reva dengan sedikit ragu.
Ibu Maurel pun tersenyum sembari menatap kearah Reva dan kemudian memeluknya dengan erat. Keduanya terlihat sangat dekat bahkan terlihat seperti seorang Ibu dan anak..
"Iya ini Tante,kamu apa kabar Nak?"tanya Ibu Maurel kemudian.
Keduanya pun kini berbincang dan Ibu Maurel melihat bahwa Reva adalah wanita yang baik dan juga dia adalah wanita yang sangat sopan dan juga sangat ramah...
"Kabar Reva baik Tante, Tante sendiri bagaimana kabarnya? Oh iya Tante di sini mau mencari apa?"tanya Reva lirih.
__ADS_1
Ibu Maurel pun menunjukkan gaun yang dia beli kepada Reva dan Reva tersenyum menatapnya..
"Ini gaun buatan kamu kan? Tante sangat suka dengan gaun ini dan Tante sangat ingin mengenakannya pas di acara ulang tahun putra Tante.."Ibu Maurel pun menceritakan kegembiraannya setalah melihat gaun yang ada di hadapannya...
Reva pun tersenyum sembari menatap kearah Ibu Maurel yang sedang tersenyum..
"Reva masih belajar untuk membuat gaun Tante. Lagipula Reva masih berusaha untuk membuat gaun yang bagus namun masih belum bisa Tante."Reva pun tak mau mengatakan bahwa dirinya itu pandai dalam merancang busana...
Keduanya pun kembali berbincang dan tak lama setelah itu Ibu Maurel pun berpamitan untuk pergi karena ada urusan lain. Namun sebelum dia pergi Ibu Maurel pun meminta nomer kontak Reva dan mulai hari ini mereka pun memutuskan untuk berteman...
"Ya sudah Tante harus pulang karena ada urusan lain. Nanti Tante akan menghubungi kamu dan Tante ingin supaya kamu bisa berkenalan dengan putra kesayangan Tante.."bisik Ibu Maurel lirih...
Reva pun hanya tersenyum tak mengerti tentang apa yang sedang di bicarakan oleh wanita yang ada di sampingnya saat ini..
Setelah Ibu Maurel pergi,Reva pun langsung memikirkan baik baik apa yang di katakan oleh Ibu Maurel yang ingin memperkenalkan putranya dengan dirinya.
"Bagaimana bisa Tante Maurel bilang seperti itu padahal aku sama sekali belum kepikiran tentang laki laki. Aku masih menunggu laki laki pemilik cincin ini entah kenapa aku tak bisa melupakannya."Reva pun memegang cincin yang di jadikan liontin di lehernya.
Reva tersenyum sembari menggenggam cincin itu dia ingin bersama pemilik cincin itu. Padahal dia sendiri saja hanya melihat punggung laki laki itu tanpa melihat siapa dia..
Namun hati Reva berkata bahwa dia adalah laki laki yang baik..
Setelah selesai bekerja Reva pun memutuskan untuk membeli kopi di cafe dan tanpa di sengaja dia bertemu lagi dengan Raffa.
Reva pun memilih untuk cuek bahkan dia tak perduli dengan keberadaannya.
Raffa pun menatap sekilas wajah Reva yang duduk tak jauh dari tempatnya berada. Raffa pun melihat penampilan Reva bukanlah cewek yang modis melainkan cewek yang tomboy yang kemana mana gak pernah memakai high heels...
__ADS_1
Raffa pun tak bisa memungkiri bahwa semenjak dia bertemu dengan Reva dia Amerika dia sudah mulai memiliki sesuatu rasa namun sekuat hati Raffa selalu saja menyangkalnya.