
Reva pun tersenyum sendiri entah dia sedang membayangkan apa saat ini. Sekilas Reva pun menatap Raffa namun sikap cueknya mampu memupuskan harapan Reva.
Reva pun sama seperti Raffa yang memiliki rasa yang berbeda semenjak mereka bertemu di Amerika. Namun Reva menyadari bahwa dia bukannya tipe untuk laki laki yang mapan dan tampan seperti Raffa...
Setelah menghabiskan kopi yang dia pesan Reva pun pergi dan segera pulang ke apartemennya. sementara itu Raffa pun menyusulnya dan mereka pun pada akhirnya berpisah pulang kerumahnya masing masing...
Reva pun tersenyum sembari meninggalkan tempat itu. Reva sendiri langsung pulang kerumahnya dan kemudian dia beristirahat.
"Hari ini terasa sangat lelah.. Dan aku sangat ingin memejamkan mataku.."Reva pun langsung memejamkan matanya sembari tersenyum menatap langit langit kamarnya...
Reva tersenyum ketika membayangkan wajah tampan laki laki yang tadi bersamanya maksudnya bersama di restoran. Wajah Raffa sangat femiliar membuat Reva tak bisa melupakannya..
"Kenapa aku selalu mengingat wajah laki laki itu. Dia memang tampan tapi dia ah sudahlah lagipula mana pantas aku untuk dia laki laki yang mapan dan juga tampan. Reva sudah Reva lupakan dia dan bangunlah. Dia bukan milikmu dan dia juga bukan takdirmu.."Reva pun kini berada di dalam dilema yang panjang..
__ADS_1
Reva pun memilih untuk melupakannya dan memilih untuk mencintai laki laki yang telah memberikannya cincin itu. Walaupun dia gak mengenalnya namun dia sangat yakin bahwa dia akan segara menemukannya..
...****************...
Pada pagi harinya Raffa pun bangun pagi pagi sekali seperti biasanya dia bangun pagi dan kemudian bekerja begitu setiap hari terkadang dia pun merasa bosan namun itulah pilihannya mau gak mau ya harus dia jalani...
"Terkadang aku merasa bosan hidup seperti ini tak ada yang bisa membuat aku tersenyum dan juga tak ada yang bisa membuat aku merasa berarti untuk seseorang. Ya Allah mau sampai kapan aku bisa move on dari rasa sakit yang terus saja menggangguku.."Raffa pun berfikir bahwa semua yang terjadi padanya adalah takdir yang begitu menyakitkan.
Raffa pun tersenyum ketika sekilas wajah Reva muncul di benaknya dia tak pernah tahu kenapa dia bisa merasakan hal itu? Apakah kini dia telah jatuh cinta??
"Enggak aku gak boleh memikirkan wanita itu lagipula dia baru aku kenal. Dan aku juga tahu bahwa wanita itu tak pantas untuk di cintai. enggak aku enggak mau memikirkan dia lagi.."Raffa pun tak mau lagi memikirkan Reva dan lebih memilih untuk melupakannya...
Beberapa hari kemudian....
__ADS_1
Tepat pada acara ulang tahun Raffa yang ke 27, Ibu Maurel sengaja mengundang Reva untuk makan malam bersama dirinya dan juga Raffa...
"Reva,,Tante sangat berharap kamu bisa datang ke acara makan malam yang akan Tante adakan. Ini hanya kita bertiga saja kok.."ucap Ibu Maurel saat melakukan panggilan telfon dengan Reva...
Reva pun tak bisa berkata apa apa lagi,Reva ingin sekali menolak namun Reva takut jika itu membuat Ibu Maurel akan tersinggung...
"Baiklah Tante,Reva akan usahakan untuk bisa datang. Tapi Reva sendiri belum mengenal putra Tante,apa nanti tak akan menjadi masalah??"tanya Reva sedikit ragu...
Ibu Maurel pun hanya tersenyum sendiri ketika mendengar Reva mengatakan hal itu. Ibu Maurel sendiri tahu pasti bahwa Raffa juga sangat susah untuk di kenalkan dengan wanita. Namun Ibu Maurel sangat paham dan sangat tahu bahwa Raffa akan mau berkenalan dengan Reva wanita yang sangat sopan dan juga baik hati...
"Itu biar Tante aja yang mengaturnya,Reva tinggal datang saja. Tante mohon Reva jangan menolak ya Reva usahakan untuk bisa datang,Tante mohon."ucap Ibu Maurel mencoba untuk memohon pada Reva.
Reva pun hanya bisa menarik nafas panjang dan membuangnya secara berlahan. Reva pun tersenyum dan kemudian menerima ajakan dari wanita paruh baya yang sedang berbicara dengannya.
__ADS_1
"Baiklah Tante. Reva akan usahakan untuk datang dan Reva juga tak akan mengecewakan Tante.."Reva pun terpaksa menerima ajakan Ibu Maurel untuk menemaninya merayakan ulang tahun putranya itu...