
Masih dengan mengenakan seragam, Adrian membawaku pergi ke sebuah kafe tak jauh dari sekolah. Ini kali pertama dibonceng dengan motornya. Dia dengan santai mengajakku naik, padahal aku sama sekali nggak punya persiapan untuk 'kencan' dadakan ini.
Boleh kan kusebut kencan?
Karena beberapa saat yang lalu, kami terang-terangan soal rasa yang mulai menyelinap saat di rooftop, dan memori itu membentuk paragraf pertama cerita kami. Aku membiarkan Adrian agar membuat cerita ini mengalir.
Contohnya saat dia mengajakku pergi. Tanpa basa-basi, dia meraih tanganku layaknya aku barang dagangan yang tidak boleh hilang. Dia juga tidak bicara sepatah kata pun soal kemana kita akan pergi. Dia juga tidak bertanya apakah aku mau diajak pergi, karena seperti yang Adrian bilang sebelumnya, dia egois.
Dia egois karena memutuskan semaunya, dan aku harus mengiyakan. Dia egois karena dia mau aku selalu di sampingnya, dan aku harus menurut.
__ADS_1
Tapi sepertinya, itulah yang membuat cinta pertama menjadi pengalaman yang penuh kejutan dan menantang. Memiliki seseorang yang punya seribu satu cara untuk menghabiskan waktu denganmu adalah sesuatu yang tak terlupakan, dan begitu sekolah sudah usai, kau akan tidak sabar segera menemui pagi.
Ada satu hal yang khas dari seorang Adrian. Di samping fakta dia memang egois dalam hal yang berkaitan denganku, dia juga sering memposisikan aku seperti seorang ratu.
Saat keluar dari lift malam itu, saat menyerahkan tuksedonya, dan saat dia melepas ranselku supaya dia bisa membawakannya.
Adrian mematikan mesin motornya. Jangan tanya kenapa terheran-heran dengan kafe ini karena aku belum pernah ke sini. Aku terpaku pada kios kecil bercat cokelat karamel di hadapanku ini, tulisannya 'The Silver Lake' dari papan kayu sederhana. Aku mengintip suasana di dalam, diterangi dengan lampu vintage dan poster kopi memenuhi tiap jengkal dindingnya.
"Gue janji lo bakal suka di sini, Drea."
__ADS_1
"Kenapa bisa yakin gitu?"
"Karena lo ke sini bareng sama gue," katanya menyombong. Tetapi Adrian seratus persen benar, karena aku pasti akan suka selama dia yang mengajakku pergi.
"Terserah lo aja deh."
Adrian langsung menyampirkan lengannya ke pundakku. "Nggak usah banyak mikir. Ayo masuk."
Aku merasa aneh. Tak biasanya aku bisa sedekat ini dengan seorang cowok. Adrian adalah yang pertama, dan dia juga yang membuat suasana hatiku tak karuan. Pikiranku tersita karenanya.
__ADS_1