Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
6 — i think you think about me too


__ADS_3

Ketimbang merangkum satu bab sosiologi pada jam pelajaran pertama, aku memilih menidurkan kepala di meja. Aku tidak berminat membaca walau satu paragraf. Semangatku meluap entah kemana. Senin pagi memang selalu jadi musuh besarku.


"Lo sakit, An?" Erika mengguncang pundakku kasar.


"Ganggu tau, nggak?"


"Ya dari tadi lo diem aja. Pasti ada yang nggak beres sama lo."


"Iya. Harusnya gue duduk di tempat lain biar nggak diganggu sama lo," aku membalas pedas.


"Kayaknya gue tau kenapa," nada suaranya berubah menjadi lebih centil.


"Lo bukan nyokap gue, nggak usah sok tau."


Erika bersikeras mengganggu. Kalau boleh aku ingin menyumpal mulutnya dengan segumpal tisu supaya aku bisa tidur tenang tanpa diinterupsi suaranya.


"Tapi gue temen lo," Erika menarik bangkunya ke depan dan berbisik di telingaku. "Gue tau kenapa lo jadi hopeless kayak gini."


Aku memejamkan mata. Erika pasti bisa menilai segala situasi.


"Berisik. Gue lagi mau sendiri, Er."


"Asal lo tau, dia anak sini juga."


Sontak aku menegakkan tubuh. Rasa malas dan kantuk yang hinggap musnah dalam waktu singkat. Barusan Erika bilang apa?


"Apa!?"


"Kelas XII IPS 3. Gue siap nganterin kalo lo mau ke sana."


"Lo tau dari mana, Er?"


"Ya dari Nando lah. Nando kan temennya."


Oh ya. Aku ingat saat Adrian bilang dia temannya Nando saat aku kembali mengambil gelas soda.


"Jadi selama ini gue satu sekolahan sama dia? Dan gue malah nggak kenal sama temen seangkatan sendiri?"


"Lagian lo terlalu cuek untuk mau kenalan sama orang-orang, An."

__ADS_1


Aku langsung membela diri, "nggak. Gue nggak begitu pas kenalan sama dia."


"Adrian itu pengecualian. Lo nggak suka pesta, dan kebetulan ada Adrian juga di sana. Begitu dia ngajak lo ke rooftop, lo langsung tergila-gila sama orang yang nyelamatin lo dari situasi yang nggak lo suka."


Aku terduduk lemas. Aku baru saja mencerna informasi yang efeknya membuatku makin kalang kabut. Aku dan Adrian ternyata satu sekolah? Oke, aku makin memikirkan apa yang mungkin terjadi ke depan.


Mungkin ia akan menjemputku ke kelas dan menunggu kedatanganku di lobi setiap harinya. Atau mencuri pandang ke arahku saat pelajaran olahraga di lapangan.


Aku tersadar aku benar-benar gila memikirkan kemungkinan sejauh itu. Tapi jujur, hatiku bilang aku mau semua itu terjadi.


"Mungkin nggak, Er? Mungkin nggak kita bisa bareng?"


"Gue yakin lo bukan satu-satunya orang yang jatuh cinta kemarim malam, An."


Aku harap itu benar, jadi--


"Emang menurut lo dia punya perasaan ke gue?" aku butuh merasa diyakinkan.


"Ya iyalah!"


Aku mengulum senyum. Aku menarik pundak Erika merapat padaku. Di tengah pelukan itu, aku membisikkan terima kasih.


Erika balas memelukku bahkan lebih hangat. Aku butuh dukungan dari orang sepertinya, yang bisa garang dan juga lembut. Mungkin dia satu-satunya orang yang paling bersemangat saat mendapatiku jalan bersama cowok. Karena aku pernah mengaku padanya, cinta tidak pernah singgah di kehidupan masa remajaku.


"Gue harus ngaku sama lo," aku mengurai pelukan, menatap Erika tulus.


"Ada sesuatu yang ada kaitannya sama Adrian?"


Aku menggeleng cepat, "gue nggak suka gue dikacangin sama bestie gue sepanjang acara kemarin. Tapi gue harus bilang gue bersyukur lo ngajak gue, Er."


Tawa Erika siap meledak detik berikutnya.


"Gue serius."


"Gue juga. Akhirnya lo ngaku, daripada pura-pura marah nggak jelas pas gue ajakin kemarin. Lagian, ujung-ujungnya malah lo yang nggak mau pulang dari party, kan?"


"Lo salah banget. I don't want the time I spent with him to be over."


"Kayaknya gue harus membiasakan diri gue ngeliat temen gue kasmaran."

__ADS_1


Aku merasa tersinggung, tapi toh juga ikut senang digoda seperti itu.


"Gue ngerasa waktu kenalan gue sama Adrian singkat banget. Awalnya gue curiga sama dia. Tapi nggak lama, dia ngebuat gue nyaman."


"Kalau begitu dia pasti orang yang tepat buat lo, An," nadanya menjadi sangat serius. Aku merapalkan itu dalam hati. Aku tidak boleh jatuh pada orang yang salah. Soal pertemuanku dengan Adrian, kalau Erika saja merasa yakin, apalagi aku.


"Gue mau ngulang semua kejadian waktu di rooftop itu, Er. Dia nggak sekadar gombal atau apa, Adrian bener bener ngeusahain biar gue nyaman di deket dia. Tapi yang bikin gue khawatir--"


"Andrea, gue kasih tau, ya. Lo nggak perlu khawatirin apa-apa. Let it flow. Soal di rooftop, ntar juga lo punya memori yang baru sama dia."


Senyumku merekah sempurna, "yah, semoga."


"Nggak usah harap-harap cemas gitu, An. Pasti ada waktunya buat lo ketemu dia lagi. Dia juga pinter kok, nyari kesempatan supaya bisa ketemu."


Aku langsung teringat tuksedonya yang kini tergantung rapi di lemariku. Itu satu-satunya hal yang bisa membawa pikiranku merekam ulang kedekatan kami di rooftop. Dari caranya menyerahkan tuksedonya padaku, aku yakin dia sudah percaya denganku.


Maksudku, dia sepertinya ingin mengenalku lebih jauh. Ingin membawaku jalan keluar, misalnya. Ingin selalu berada di dekatku, dan mencuri-curi kesempatan supaya kami terjebak di rooftop saat malam.


Aku telah mengimpikan sesuatu yang mustahil. Tetapi aku begitu penasaran dengan semua sikapnya. Apakah dia juga memikirkan aku? Karena aku juga memikirkan semua ucapannya sebelum bisa tertidur malam itu. Dia yang membuatku terus-terusan tersenyum dengan hatiku seolah dipenuhi ratusan kembang api. Menyala-nyala dan aku tak punya cara agar bisa mencegahnya. Pokoknya segala sesuatu yang mengingatku pada Adrian berefek pada suasana hatiku. Seperti berada di gedung paling tinggi dan seluruh benda langit terasa hanya sejengkal dariku.


Kapan aku bisa menatap langit bersamanya lagi?


Aku akan mengakui satu gila yang aku lakukan kemarin malam. Aku mencoba memakai tuksedonya yang ternyata tidak terlalu kebesaran buatku. Aku membayangkan ini barang miliknya dan kebetulan aku bisa memakainya juga. Aku merasa aku sudah berbagi hak milk dengannya. Tuksedonya juga sebagian milikku. Senyumnya hanya boleh untukku. Bisa kucium aroma mint dan sedikit citrus dari tuksedonya. Besok-besok aku akan mencatat aroma parfum yang selalu dipakainya. Aku mengingatnya dengan sangat mudah.


"Nggak usah bengong begitu."


Aku menampakkan senyum tanpa dosa ke Erika.


"Ngomong-ngomong, kalau lo mau kejutan, gue bisa ngeusahain itu demi Andrea sahabat gue paling baik."


"Gimana caranya? Lo nggak ngide yang aneh-aneh, kan?"


Erika memamerkan handphone-nya padaku. "Gue bisa minta Nando supaya--"


Aku tidak perlu menunggu Erika menyelesaikan kalimatnya. Aku langsung menerjang ke arahnya dan merangkulnya erat. Erika nampak kesulitan melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya.


"Gue nggak bisa napas!"


"Masa bodo! Gue nggak pernah sebahagia ini."

__ADS_1


Dan yang kupikirkan setelahnya hanya bagaimana Adrian yang menggenggam tangaku, tuksedonya yang kusimpan di lemari, dan matanya yang menyiratkan tidak ingin mengakhiri momen bersamaku. Segalanya tentang insiden kecil yang membahagiakan di tengah monotonnya pesta malam itu.


Aku akan selalu penasaran. So, what do you have in your mind? Is it me, Adrian?


__ADS_2