Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
25 — i'm worried about you


__ADS_3

Hari ini, aku menolak ajakan Erika makan siang di kantin. Sejujurnya aku bukan tipe orang yang mudah kehilangan selera makan. Aku punya dorongan mendesak untuk menghindari kerumunan manusia. Aku hanya sedang ingin sendiri saat ini.


Bukan karena perasaan hatiku sedang buruk. Sebaliknya, aku seperti orang yang baru saja menang lotre. Erika bahkan sudah muak mengingatkan aku agar bisa berhenti tersenyum sepanjang pagi. Masalahnya, aku tak bisa. Setiap hal yang kutemui di sekolah membangkitkan kenangan yang kurajut bersama Adrian. Ah, cinta pertama. Semua orang harusnya bisa wajar kalau racun yang terbungkus pita indah itu sulit dijauhkan kalau sudah dicicipi remaja.


Urusan tingkah laku, aku yakin tak jauh beda dengan orang yang sedang kasmaran pada umumnya. Sering melamun, tersenyum berkali-kali dalam kurun satu menit, sampai menerawang ke memori berduaan dengan si orang spesial. Ternyata sebegitu hebatnya efek cinta yang kualami. I'm so sick of love for driving me crazy. But I'm so hopeless when I don't get a chance to see him.


Aku tidak bisa memperkirakan aku sudah berada di tahap ke-berapa saat jatuh cinta. Atau mungkin sudah di tahap yang paling tinggi, ketika aku tidak bisa fokus mengerjakan apapun? Ya, itu semua terjadi karena Adrian. Karena pesta sialan itu. Karena rooftop yang menjadi saksi kita bertemu. Belum lagi bagaimana kencan yang kelewat manis itu—aku hampir saja tak mau memejamkan mata semalam suntuk.


Aku sibuk mengenang bagaimana kencan pertamaku usai. Malam itu kami mencetak banyak poto—beruntung tidak membuat ponsel kami kehabisan ruang penyimpanan. Mataku tak lepas mengamati semua detail wajahnya. Alisnya tebal, memberi kesan garang dan keren. Belum lagi penampilannya. Saat kami duduk santai beralaskan tikar, dia benar-benar mengulang kejadian saat kami pertama bertemu. Dia melepaskan tuksedonya. Aku terperanjat karena kami berpakaian senada saat itu. Merah marun. Warna yang disukai Adrian entah karena apa.


Di salah satu poto, aku baru menyadari kalau Adrian merangkul rapat bahuku. Tak hanya itu, saat menampilkan pose mencibir ke kamera, Adrian menatapku lembut. Aku yakin aku tidak jatuh cinta dengan orang yang salah. Dia gambaran cowok yang romantis dan rela berbuat apapun supaya membuatku senang.


Di tengah keasyikan aku yang menatap ponsel sambil tersenyum tak jelas, aku dikejutkan dengan suara gebrakan di pintu. Rupanya itu Erika, dengan napas pendek sehabis berlari cepat. Bahkan aku bisa melihat wajahnya merah padam. Erika memeriksa sekilas ke penjuru kelas, sampai tatapan kami saling bertubrukan.


"Andrea! Gawat, nih!" Erika mengipas-ngipas wajahnya sendiri menggunakan tangan. Aku sendiri yang melihat dia ngos-ngosan seperti itu merasa gerah, apalagi si pelakunya.


"Lo bisa napas dulu sebelum ngomong, Erika," jawabku tenang. Aku tidak suka kegiatanku dipotong dengan kehadiran Erika yang mengejutkan.


"An, lo harus ke belakang kantin sekarang juga."

__ADS_1


"Lo nggak liat gue lagi sibuk sekarang?"


Erika bersikeras memberi tahu. "Lo harus ngeliat ini, An. Cowok lo lagi berantem sama adek kelas!"


Aku terlonjak dari tempat duduk. Aku langsung merinding mendengar kata 'berantem', apalagi karena ia mengatakannya seperti keadaan yang sangat genting.


"Adrian!?"


"Ya, emangnya siapa lagi? Buruan ke sana!"


Aku mengantongi ponsel dan menghambur ke arah Erika. Erika mencengkram tanganku erat sambil berlari menuruni tangga. Aku meringis. Di balik sifatnya yang lembut, dia juga punya tenaga yang kuat. Tapi aku menurut saja diseret paksa seperti ini.


Aku tak habis pikir kenapa Adrian jadi terseret berandal seperti ini? Aku mengerti tampangnya sangat cocok dan memenuhi syarat sebagai anak hits sekolah yang punya banyak fans. Hanya saja mengingat sikapnya yang seperti memanjakan aku membuatku tak percaya dia mudah terpancing emosi.


Aku harap, dalam konteks apapun dia terlibat pukul-pukulan dengan adik kelas, bukan Adrian yang memulai perkara. Kalau begitu, bisa jadi aku akan marah besar dengannya.


Bahkan dari pintu kantin sudah tercipta gerombolan orang-orang yang penasaran. Suara ribut dari berbagai padanan kata kasar, umpatan, hingga sorakan untuk balas menghajar memenuhi pendengaranku. Erika dengan lincah berhasil menyelinap di kerumunan ini—aku mengekor di belakangnya takut-takut. Rasanya aku nggak bisa mendekati Adrian kalau ia sedang dipenuhi emosi.


Erika berusaha merangsek ke depan supaya aku bisa melihat leluasa. Orang-orang di depanku mulai terusik dengan usaha Erika. Tapi aku juga bersikeras ingin menghentikan Adrian sebelum ia terluka. Sambil berjinjit, aku bisa menangkap sekilas Adrian yang sedang memberi pukulan keras di perut lawannya.

__ADS_1


Tiga lawan satu? Sama sekali nggak adil. Adrian kewalahan menahan serangan dua orang di belakangnya. Kemeja sudah kusut tak beraturan, ditambah dengan kotor karena jatuh terjerembab di tanah. Kenapa sih nggak ada seseorang yang berusaha melerai mereka? Mereka seperti empat hewan buas yang memperbutkan makanan.


"Adrian! Awas di belakang!" Aku menjerit histeris. Tentu saja suaraku kalah diresam suara sorakan di sekelilingku. Melihat adegan ini membuat mataku perih, aku tak punya tenaga untuk menarik Adrian mundur dari ketiga lawannya yang ganas ini. Suaraku kalah keras, tapi aku tetap tidak berhenti berteriak.


"An, maju lewat sini!" Suara Erika membuyarkan pikiranku yang tak karuan. Aku menurut mengikutinya hingga kami sampai di barisan terdepan. Entah siapa pelakunya, tubuhku terdorong sampai nyaris keluar barisan.


Di saat yang sama, Adrian jatuh tersungkur tepat di hadapanku. Tubuhnya tergeletak lemas. Dan reaksi pertamaku adalah menjerit. Sadar dengan suara yang familiar di telinganya, Adrian mengangkat wajah dengan susah payah. Adrian mengamati sepatuku sebelum mendongak sepenuhnya melihat wajahku.


"Drea? Kok kamu bisa ada di sini?"


"Kamu kebalik! Kenapa kamu yang ada di sini!?" aku tak kuat meninggikan suara, di detik itu aku sadar penglihatanku mulai kabur. Aku menitikkan air mata.


Aku khawatir melihat Adrian yang tulang pipinya membengkak. Matanya lemas tak bertenaga. Sudut bibirnya berdarah, dan rasanya aku-lah yang lebih merasakan perih dibanding Adrian sendiri.


Adrian sialan. Aku sudah dibuat khawatir seperti ini. Kenapa kaum cowok suka sekali menyiksa diri dengan terlibat di baku hantam konyol seperti ini? Aku benci dengan mereka yang suka main kasar. Mungkin itulah yang harus aku tegaskan pertama kali kalau lukanya sudah diobati.


Adrian perlahan bangkit. Aku sudah siap menanyakan alasannya bertengkar sampai kondisinya begini. Aku marah besar ke Adrian, ia hampir membuat suaraku habis karena meneriakkan namanya agar berhenti.


Namun semua rasa kesal yang ingin aku keluarkan luluh begitu saja saat tubuhnya yang lemas jatuh ke pelukanku. Aku tidak siap menangkap tubuhnya hingga kami berdua limbung dalam beberapa saat. Yang ada di pikiranku saat ini adalah Adrian mungkin saja pingsan.

__ADS_1


Ini luar biasa gawat. Kekhawatiranku naik dua kali lipat.


__ADS_2