
Seperti biasanya di rooftop, aku menemukan Adrian sudah sedia menungguku datang. Hari ini dia memakai jaket jeans yang dipenuhi banyak badge yang tidak aku tau tulisannya apa, dan menggandeng satu tali ranselnya di punggung. Dari jauh, dia sudah keliatan sangat keren. Aku tak menyangka aku bisa bertemu dengannya hampir setiap hari.
Aku mendekat ke arahnya tanpa suara. Dia berdiri membelakangiku. Aku putuskan memberinya kejutan kecil. Aku memeluknya dari belakang tanpa mengucap sepatah kata pun. Dia pasti tau siapa yang berani memeluknya—dia juga melihat bagaimana aku terus memegangi mawar darinya sepanjang kelas.
"Drea?"
"Mawar dari kamu udah mulai layu," aku berkata begitu tanpa berniat melepas pelukan.
Aku suka kehangatan yang menembus kulitku. Dalam beberapa saat aku merasa nyaman, dan melupakan semua 'renggang' yang sempat kuciptakan tempo hari. Aku mengaku aku benar-benar menyukainya, aku khawatir kalau sesuatu yang buruk menimpa Adrian. Tapi aku juga berani mengakui tidak bisa seenaknya marah karena hal sepele karena gangguan kecil seperti itu wajar dalam setiap hubungan.
"Kamu suka mawarnya?"
"Cantik," aku bergumam. "Kamu pinter ngasih aku kejutan."
"Bukannya yang cantik itu kamu?" Adrian memutar badannya agar dia bisa balik memelukku. Adrian menjatuhkan ranselnya. Rasanya aku seperti dicekik dua lengan kokohnya. Tapi aku menikmati saat seperti ini.
"Kamu tau, nggak? Gombalan kamu itu kadang garing," aku mulai mencairkan suasana. Tinggiku tidak berbeda jauh dari Adrian, sehingga aku bisa dengan mudah mengacak-ngacak rambutnya.
Sadar dengan kelakuanku, Adrian juga melakukan hal yang sama. Dia mengurai pelukan, menatapku lama lalu mencubit kedua pipiku sampai aku kesakitan.
Adrian pandai membuat gombalan lain."Kamu gemesin. Berhenti sebentar bisa, nggak? Aku cape senyum terus kalau lagi ada kamu."
__ADS_1
"Itu aku. Aku yang nggak bisa berhenti senyum kalau ada kamu. Kamu kadang nyebelin, tapi cuma kamu yang bisa bikin aku seneng kayak gini," kataku sambil memamerkan mawar darinya.
"Itu baru contoh kecil. Kamu udah baca notes dari aku, kan?"
Aku mengangguk mantap. Belakangan aku sadar, ketika di depan Adrian aku mengubah kepribadian. Entah kemana hilangnya wajah judes dan sinis yang biasa kutampilkan sepanjang hari. Lain halnya di depan cowok keren ini. Bisa dibilang aku mirip anak kecil yang meronta dan manja.
Tapi Erika pernah bilang itu wajar. Orang yang tepat akan membuatmu lupa waktu dan lupa diri. Pokoknya kau bebas melakukan apapun di hadapan orang yang kau suka tanpa merasa canggung. Di samping Adrian, aku rasa aku bisa mengenal diriku sendiri. Aku tak selamanya sinis, aku juga bisa tertawa karena leluconnya yang aneh dan sikap kecil yang membuat hatiku menghangat. Semua hal-hal aneh memang tidak selalu bisa dijelaskan. Aku juga tidak perlu ambil pusing soal itu. Yang jelas, cinta adalah hal terhebat yang datang ke hidupku selama ini.
"Nanti kita bakal pakai baju warna apa?"
Adrian menautkan alisnya. Tak butuh waktu lama akhirnya dia tau apa yang aku maksudkan. "Wah? Kamu mau nyiapin semuanya jauh-jauh hari, ya?"
"Kamu pernah kepikiran nggak, selama ini cuma kamu yang berusaha bikin aku seneng," aku sedikit menunduk. "aku pernah ngeusahain apa buat kamu?"
Takdir memang gila dan penuh kejutan.
"Tapi kan--"
Adrian membungkam mulutku. Dia mengisyaratkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk itu. Ah, aku jadi merasa bersalah. Dia tetap gentle dan sebaik ini bahkan setelah aku marah padanya.
"Sekarang gini aja. Karena kamu mau nyiapin pesta ulang tahun sekolah sebaik mungkin, gimana kalau kita juga latihan?" Adrian melepaskan pelukannya. Dia berjalan ke bangku dan menyampirkan jaketnya di sana. Kemudian dia kembali berdiri di hadapanku.
__ADS_1
"Latihan apa?" aku tak mengerti maksudnya ketika dia sibuk merenggangkan tubuh.
"Kamu mau ke pesta sama aku, kan?"
"Kamu nggak perlu nanya, padahal."
"Bagus. Sekarang kita latihan," katanya antusias. Aku masih kebingungan ketika dia menipiskan jarak di antara kami. Tanpa kuduga, dia meletakkan tangannya di pinggangku. Rasanya seperti hatiku dialiri sengatan listrik. Adrian juga menuntun tanganku dan menaruhnya di bahu kanannya.
Aku tak sanggup melihatnya dalam keadaan sedekat ini.
Perlahan tapi pasti, Adrian mengangkat daguku—kami saling berpandangan. Aku merutuk dalam hati, Adrian pasti menikmati kegugupanku. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana.
"Kita latihan berdua, Drea. Nanti kamu harus terbiasa diliatin banyak orang," katanya menampilkan senyum yang dihiasi lesung pipit.
Di situasi seperti ini, aku merasa gugup pula nyaman. Dan jangan cap aku berlebihan kalau aku menyadari Adrian punya gelagat lain. Insting perempuan bisa sangat tajam, sama seperti lidahku yang sering mengucap kalimat pedas.
Perlahan Adrian mendekat ke arahku. Aku sadar sejak tadi matanya hanya tertuju ke bibirku.
Aku tidak ingin menghindar. Dari hatiku yang paling dalam, aku juga menginginkan momen ini. Mataku akhirnya terpejam, menunggu langkah awal darinya.
Dan itu dia, aku bisa merasakan hembusan napasnya. Aku meremas lipatan rok saking gugupnya. Sepertinya tidak ada hal lain di pikiranku selain momen ini. Hidung kami bergesekan. Dalam hati aku menghitung mundur. Aku merasakan sensasi terbang setelah ini.
__ADS_1
Sampai semua itu sirna begitu ada nada dering dari ponselku. Adrian langsung salah tingkah, dan aku langsung merogoh saku untuk melihat siapa yang berani mengganggu kami.
Telepon dari Erika. Sialan. Rasanya aku ingin melempar ponselku dari lantai empat sampai hancur berkeping-keping.