Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
11 — he's madly in love with you


__ADS_3

"Gimana sama Adrian?" Erika datang seraya menyenggol bahuku. Masih baik aku tidak menumpahkan gelas es teh yang baru saja kuminum.


"Kalau baru dateng tuh pake salam, bukan ngagetin orang."


"Galak banget, sih? Kasian yang mau ngedeketin lo. Eh iya, lupa, kan sekarang Andrea udah ada pawang," goda Erika dengan suara yang dibuat-dibuat. Dengan malas aku memutar bola mata—sebentar lagi dia pasti menagih cerita sejauh mana hubunganku dengan Adrian.


Sebenarnya, aku sendiri pun bingung. Dia nggak pernah menyatakan secara langsung kalau aku ini pacarnya. Soal di rooftop setelah kami bertemu di pesta Nando itu nggak bisa disebut acara 'aku ditembak sama cowok yang baru aku kenal dan bodohnya aku mau'. Itu cuma seperti permintaan supaya aku mau menghabiskan waktu dengannya.


Lagian, aku nggak mau terlalu ambil pusing. Aku bukan pacarnya, karena kesannya aku terlalu pede. Dia nggak pernah bilang apa-apa lagi selain menyebutku dengan ratu. Kalau boleh jujur, aku lebih suka yang seperti ini. Ceritaku dengan Adrian jadi tidak terlalu buru-buru. Aku hanya takut aku keputusan yang kuambil salah.


"Kayaknya hobi lo sekarang ganti jadi ngeledekin orang ya, Er," aku menekan bibirku dalam satu garis lurus. Rasanya malas meladeni orang yang terlalu ceria di saat kamu sendiri kehabisan energi.


"Itu mah lo aja yang terlalu kaku. Coba kadar sinis lo dikurangin sedikit aja. Astaga. Gila ya, kok si Adrian kuat ngedengerin lo yang sinis begini."


"Kan Adrian, bukan lo," aku menyerangnya pedas. "Itu artinya lo belum tulus sahabatan sama gue."


"Belum tulus?" nada bicaranya meremehkan.


"Bukan gue namanya kalau nggak sinis."


"Tapi lo nggak bisa lagi sinis sama gue kalau udah gue suapin kayak gini," Erika menyuapi sepotong dimsum ke mulutku. Aku tau dia pasti sudah malas berdebat denganku. Caranya pintar juga. Kalau mulutku sedang mengunyah, aku jadi tidak bisa ngomong apapun.


"Gue tungguin lo sampe selesai ngunyah. Baru abis itu, lo bisa cerita sama gue," Erika menyengir khas seseorang yang ingin meminta sesuatu. Aku terpaksa mengangguk sambil masih mengunyah.


Erika mendekatkan gelas es teh kepadaku. Dia benar-benar bersiap, duduk manis menyangga pipinya dengan tangan.


"Ayo mulai cerita, An."

__ADS_1


"Kenapa nggak lo duluan yang cerita soal Nando?"


"Ah, udah bosen. Bumi nggak berputar di gue doang, An. Sekarang coba, lo gantian cerita soal Adrian."


"Tumben. Biasanya lo suka kalau gue tanyain cowok lo yang paling spesial itu," kataku sambil menyeruput es teh.


"Lo sadar, nggak sih? Ini kali pertama lo punya orang spesial, An. Gue juga mau denger sesuatu yang bikin lo seneng."


Aku memulai dengan helaan napas yang panjang. "Ya, begitu. Dia punya sebutan khusus buat gue. Gue selalu diajak ke rooftop."


"Apa? Adrian manggil lo apa, An?" Erika memekik kegirangan karena ceritaku.


"Er, suara lo pelanin dikit. Gue nggak mau kita jadi pusat perhatian di kantin."


"Iya, maaf. Jadi, dia manggil lo apa?"


"Adrian manggil gue ratu."


Tawa Erika meledak. "Gokil. Lo beruntung ya, An. Ketemu cowok nggak disengaja, eh dia bisa nge-treat lo segitu spesialnya."


"Dia cuma manggil gue ratu, bukan buatin gue candi," aku nggak peduli kalau jokes-ku terdengar seperti candaan bapak-bapak di grup WhatsApp.


"Sama aja. Bahkan si Nando nggak pernah punya panggilan khusus buat gue," nadanya dibuat iri setengah mati.


Padahal kalau aku teliti, Nando tidak menunjukkan rasa sayangnya ke Erika dengan panggilan konyol seperti itu. Nando bisa dengan mudah 'membeli' rasa sayangnya Erika dengan hadiah-hadiah mahal untuk ukuran anak SMA. Erika tak pernah sadar itu. Di bulan ketiga mereka pacaran, aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali Erika berganti-ganti jam tangan atau sepatu bermerk.


Nando hanya bisa menunjukkan perhatiannya lewat materi. Kadang, aku merasa mereka jarang mengobrol berdua, karena Nando butuh Erika di saat tertentu saja. Sayang sekali temanku ini terjebak bersama orang seperti Nando. Bagiku dia terlalu arogan untuk bersanding dengan cewek feminim dan lembut.

__ADS_1


"Panggilan bukan segalanya sih. Tapi, dia selalu ngajak gue rooftop. Kayaknya dia mau mengenang gimana kita ketemu deh."


"An, lo sadar nggak sih? Adrian itu tergila-gila sama lo," Erika berkata histeris.


Oke, ada baiknya aku belajar menerjemahkan bahasa cowok untuk mengetahui seberapa sayangnya Adrian kepadaku. Tapi di sisi lain aku tak yakin. Masa, sih? Perasaan justru aku-lah yang dibuat mabuk hanya karena dia menatapku terus-terusan? Kenapa sekarang terbalik?


"Kenapa lo bisa bilang gitu, Er?"


"Ya iyalah! Dia manggil lo begitu, dia ngulang-ngulang kenangan sama lo di rooftop. Fix. Yang kayak dia jangan disia-siain, An," Erika menjelaskan berapi-api. Aku berusaha meyakinkan diriku yang dibilangnya itu benar.


Tentang itu, aku jadi teringat kemarin saat dia kekeuh ingin datang ke rumahku. Lebih tepatnya, saat dia memelukku dari belakang.


"Er, kemarin Adrian ke rumah gue," aku akhirnya mengaku.


"Wah? Terus dia ngomong apa aja?"


"Dia bilang dia mau kenal gue lebih jauh," kataku entah kenapa melemas. Pikiranku kembali terbayang bagaimana dia melingkarkan tangannya di saat aku lengah.


"Gue bilang juga apa. Udah fix, dia tergila-gila sama lo, Andrea."


Suasana di kantin berisik, tapi aku seolah masuk ke pikiranku sendiri sampai tak menghiraukannya lagi. Aku harap yang dikatakan Erika benar. Karena aku mau kegugupanku tiap berhadapan dengannya berbalas. Adrian selalu bisa menunjukkan perhatiannya padaku, sedangkan aku selalu mengutamakan gengsi. Aku butuh waktu untuk bisa terbuka pada Adrian. Begitu aku sudah sampai di tahap itu, aku tak perlu lagi merasa malu saat pipiku memanas dan merah. Pasti saat itu aku berani meminta perhatiannya yang lebih, ke rooftop lebih sering, bahkan pergi jalan-jalan sampai tengah malam.


Setidaknya begitu pikiranku dulu. Aku terlalu kaget saat semesta memberiku kesempatan merasakan cinta. Aku jarang bercerita hingga detail ke Erika soal apa saja yang kulalui dengan Adrian, aku terlalu malu mengakuinya. Aku menyimpan semuanya sendiri, karena rasanya tiap hari seperti berpesta tiap Adrian mengajakku ke tempat bersejarah kami.


Saat itu, aku pikir yang kubutuhkan hanya waktu berdua tiap pulang sekolah. Aku menunggu seharian penuh sampai akhirnya bisa melihat wajahnya.


Padahal, yang sebenarnya kubutuhkan adalah seorang penyelamat. Bukan penyelamat seperti Adrian yang membawa aku kabur dari pesta malam itu. Tetapi, seseorang yang bisa menasihatiku untuk berpikir panjang.

__ADS_1


Jangan mudah terpikat dengan orang yang baru kau temui.


__ADS_2