
"Ada temen kamu di bawah, Dey," sosok mama menyembul dari balik pintu. Aku terpaksa mengalihkan perhatian dari novel remaja yang sedang kubaca, karena siapa seorang yang teman yang mungkin datang ke rumah? Kalau Erika berkunjung ke sini kan, dia langsung dapat akses menuju kamarku.
"Emangnya siapa, Ma?"
"Justru Mama yang mau nanya sama kamu. Itu siapa? Kamu janjian sama dia?" tanya mama menyelidik.
"Lho? Nggak ada janji sama Erika atau sama siapa-siapa kok. Ini mama ngomongin siapa, sih?" aku jadi malas meladeni siapapun tamu yang muncul ini. Aku sedang ingin menyendiri di kamar.
"Ya, coba kamu samperin lah. Kasian itu cowoknya nunggu kelamaan," ujar mama sambil berlalu.
Mendengar itu aku terlonjak bangun dalam posisi tegak di kasur. Cowok? Kepalaku membuat banyak kemungkinan tapi tak kunjung menghasilkan satu nama. Yang paling mungkin dan layak menjadi jawaban, ya si spesies yang nyebelin ini.
Aku mencari-cari keberadaan ponsel yang tertimbun selimut. Benar saja. Karena aku mengaktifkan mode senyap, jadi aku tidak sadar saat dia menelepon. Setelah aku cek, ada tiga puluh tiga kali telepon dari Adrian yang tidak terjawab.
Dia khawatir. Dia khawatir aku marah. Tapi, aku-lah yang lebih khawatir di sini karena keselamatannya. Dia bisa jadi berakhiran lebih parah—bahkan mungkin saja perlu mendapat jahitan di unit gawat darurat. Dan karena dia terlalu menganggap sepele semua hal, aku makin marah karena seakan dia tidak mau lukanya diobati.
Aku senang ketika seseorang mencari keberadaanku. Bukan berarti aku sengaja menghilang demi mendapat perhatiannya. Aku hanya suka ada orang yang berusaha mencari tau kabarku, walaupun dia tau aku sedang marah padanya. Persis seperti keadaanku dengan Adrian sekarang. Saling diam, atau lebih tepatnya Adrian yang acuh sekali dengan lukanya dan aku yang marah besar.
Sebelum turun ke bawah, aku menyusun kata untuk muncul di hadapannya tanpa merasa senang. Kalau kondisinya tidak ada ketegangan dan marah di antara kami, aku membutuhkan waktu lama untuk berdandan menemuinya. Tapi sekarang aku ogah-ogahan dan malas sekali. Di sekolah, saat aku berusaha membahas masalah apa yang membuatnya berantem, dia malah cengengesan melihat raut wajahku yang serius.
Aku membuat peringatan. Sekali lagi dia bersikap seolah tidak ada apa-apa, terpaksa aku akan mendiamkan Adrian untuk beberapa waktu—termasuk menolak janji pergi ke rooftop begitu pulang sekolah.
Dengan setengah hati aku memaksa badanku bangkit dari medan magnet yang paling kuat, alias kasur kesayanganku. Begitu aku melihat pantulan diriku di kaca, aku benar-benar tak berniat merapikan diri. Aku membiarkan Adrian melihat rambutku yang kusut macam singa ini.
"Dey! Cepetan turun sekarang, itu temen kamu udah lama nungguin," mama membeo karena aku tidak juga bergerak.
__ADS_1
"Ini mau turun, Ma!" jawabku frustasi. Tak ada kesenangan atau perasaan seperti sengatan listrik saat mendapati Adrian datang ke rumahku.
Rupanya Adrian memang gelisah menunggu aku turun ke bawah. Layar ponselku yang masih terbuka menampilkan panggilan masuk dari Adrian. Aku begitu gesit menggeser jemari ke tombol merah lalu melangkah cepat ke tangga.
Aku melewati mama yang sedang menyiapkan minuman di dapur. Aku sinis mengapa mama sampai repot-repot segala?
"Nih, kamu bawa buat teman kamu. Dia udah nungguin di teras dari tadi," kata mama sambil menyodorkan nampan berisi segelas lemon tea.
Aku mendumal tidak jelas. "Salah siapa nggak ngabarin dulu sebelum dateng ke rumah."
"Mama nggak denger kamu ngomong apa."
"Aku nyamperin temen aku dulu," kataku memaksakan senyum.
Sepertinya dia sudah terbiasa mengajak aku ngobrol walau ekspresi wajahku datar dan tidak bersahabat.
"Ini udah sore banget, tau. Nggak pernah dikasih tau tata cara bertamu, ya?" kataku melipat tangan di dada.
"Aku mau minta maaf soal yang tadi, Drea."
"Nggak mempan," kataku dingin. Aku sibuk mengamati objek lain karena aku tak ingin bertatapan dengannya.
"Tapi aku udah nyamperin kamu langsung," Adrian menautkan kedua alisnya.
"Aku nggak minta."
__ADS_1
"Aku khawatir sama kamu."
"Loh? Kamu kira aku nggak khawatir liat kamu dipukulin?"
"Itu beda cerita, Drea!" intonasinya berubah. Dia seperti tidak sabaran menghadapiku.
"Ya terus, yang mau kamu omongin sekarang apa?"
"Aku khawatir. Aku nggak tenang dari tadi. Aku takut kamu malah ninggalin aku karena ini."
Aku tak percaya dengan kalimat itu. Artinya, dia menuduhku nggak setia secara halus?
"Kamu mau aku bertahan?" kini aku berhadapan dengannya, dan berani menatap langsung matanya. Adrian juga melakukan hal yang sama.
"Maafin aku, Drea. Pas berantem tadi aku nggak pikir panjang."
"Gampang banget kalau kamu mau aku ada di samping aku terus," kataku sambil mengunci tatapannya lekat. Aku tak peduli aku sedang berada di rumah, atau tiba-tiba mama muncul dari dalam. Menyadari mama nggak mengenali siapa cowok yang tiba-tiba datang ke rumah padahal sebelumnya dia pernah ke sini sudah aneh buatku. Sudah pasti mama nggak peduli urusanku dengan pacarku ini.
Adrian menipiskan jarak. Dia berusaha meraih tanganku tapi aku menariknya menjauh. Untuk saat ini aku tidak akan meleleh dan tersanjung karena hal kecil.
"Sebutin sekarang."
"Gampang sebenernya. Nurut aja sama aku biar kamu nggak bikin aku khawatir!" tanpa sadar suaraku meninggi saat itu. Aku langsung berbalik membuka pintu tanpa repot-repot menutupnya kembali dengan sempurna.
Dan aku membiarkan Adrian merenungkan kata-kataku di sana.
__ADS_1