
Esoknya, Adrian kembali memintaku datang ke rooftop sepulang sekolah.
Dari atas, kulihat murid-murid menyebar seperti kawanan lebah. Jam pulang sekolah memang selalu ramai dan kacau. Apalagi di jam 3 sore seperti ini. Murid yang membawa kendaraan ke sekolah pasti merasakan hambatan untuk bergabung ke jalan raya.
Berbeda dengan keadaan di atas sini. Hening. Adrian malah asyik memerhatikan chaos yang lazim terjadi tiap harinya. Aku, sebagai pihak yang diundang jelas nggak mau memulai obrolan lebih dulu. Aku mau dengar dari mulutnya kenapa dia mau menemuiku di sini.
Tempat yang katanya sakral karena pertama kalinya aku menemukan sikap Adrian yang kemudian paling kusukai. Terang-terangan dan gentle.
"Coba liat ke arah parkiran mobil," Adrian akhirnya mengatakan sesuatu. "Ada yang salah."
Aku mengalihkan pandanganku ke parkiran. Satu per satu mobil bergantian keluar. Aku nggak menemukan ada yang lain dari pemandangan ini.
"Gue nggak tau apa yang salah," aku berujar polosnya.
"Kayaknya lo nggak ngeliat ke arah yang gue tunjuk, ya?"
"Apa sih yang harus gue liat? Apaan yang ada di tempat parkir?"
"Coba lebih teliti lagi," Adrian menyinggungkan senyum tipis. Sepertinya dia senang membuatku kebingungan.
"Nggak ada yang nggak normal. Yang ada di sana cuma mobil sama motor."
"Masa lo nggak bisa nangkep sih, Drea? Padahal sejelas itu," katanya sambil menggeser tubuhnya lebih dekat ke arahku. Dia menunjuk kepada entah siapa, atau objek apa. Dia senang membiarkanku penasaran.
"Sumpah, gue nyerah Yan. Bendera putih. Lo yang menang, sekarang kasih tau gue ada apa," aku nggak mau berlama-lama dibuat bingung. Masa dia memulai obrolan dengan sesuatu yang nggak bisa kutangkap maksudnya?
__ADS_1
"Apa lo nggak merhatiin, Drea, cewek-cewek yang pulang sama pacarnya?"
Lantas? Itu wajar di tingkat SMA.
"Terus?"
"Lo nggak merhatiin gimana pacarnya terlalu kaku ke mereka?"
"Kaku yang kayak gimana?"
"Kaku. They don't treat their girlfriends like a queen. Bayangin coba, tadi ada cowok yang nggak ngebukain pintu buat pacarnya?"
"Menurut gue nggak perlu segitunya. Ya, mereka begitu karena mereka mandiri," aku di sini melawan pendapat Adrian. Kaum cewek nggak harus bergantung sepenuhnya ke pacarnya kan?
"Salah, Drea. Cewek harus dianggap seperti ratu. Nggak ada ratu yang ngelakuin semuanya sendiri. Minimal, cowoknya ngasih perhatian lebih. Bukain pintu itu sederhana, Drea."
Astaga, aku salah memakai kalimat.
Adrian mendengus senang. Dia nampak suka sekali dengan topik yang seperti ini, karena inilah kesempatannya menggombal.
"Lo mau tau jawabannya?" kini mata Adrian menatapku lekat-lekat. Aku bisa meleleh dihujani tatapan yang seperti itu. Tatapan yang posesif. Dia tidak membiarkan aku menatap ke arah lain karena dia berhasil mengunci tatapanku.
"Lupain aja," kalau aku bicara sama dia lewat WhatsApp, dalam hitungan detik aku pasti bisa menarik kembali pesan yang sudah terkirim.
Tapi ini di dunia nyata, aku harus menahan malu karena ucapanku seperti memancingnya untuk melakukan hal kecil yang membuatku seperti seorang ratu.
__ADS_1
Tangan Adrian terulur untuk menyelipkan sehelai rambutku ke belakang telinga. Dia mendekat, dan sedikit menunduk. Aku seolah seperti boneka kaku yang tidak tau caranya bernapas. Kenapa dia selalu menghapus jarak tiap kami berduaan seperti ini?
"Lo ratu di mata gue, Drea. Gue harus nurut. Nggak ada perintah ratu yang boleh gue tolak."
"Gue nggak perlu perhatian sebegitunya dari lo, Adrian."
"Gue maksa. Oh, ngomong-ngomong soal perintah, gue nggak boong," dia memberi jeda sebelum berbisik lagi di telingaku. "Kalo lo minta gue ke rumah lo sekarang, pasti gue bakal laksanain."
Aku langsung mundur beberapa langkah. Oke, yang satu itu sukses membuat jantungku berdetak dengan cara yang tidak normal. Apa sih maksudnya? Adrian memang sialan. Dia harus meninggalkan hobinya yang sering mendatangkan sengatan di hatiku.
"Adrian, kayaknya lo demam deh. Lo harus istirahat," aku sama sekali nggak mau merespon kalimatnya yang menjebak itu.
"Itu perintah?" katanya tak berhenti tersenyum. "Boleh, tapi setelah gue datang ke rumah lo, ya?"
"Nggak masuk akal."
"Kenapa? Kan tuksedo gue ada sama lo?"
Oh, aku hampir lupa. Jujur, aku masih mau menyimpannya lebih lama. Tapi rasanya aku tak sanggup mendengarnya berkata manis seperti ini terus menerus tanpa rasa menggelitik di perutku.
Aku menyentuh dahinya yang sebenarnya bersuhu normal. Tapi kelakuannya tidak waras. "Lo panas, Adrian. Omongan lo makin nggak nyambung."
"Kalau gitu ratu bisa sembuhin?"
"Adrian, stop. Gue nggak mau denger ratu lagi, gue bukan ratu lo," kataku pasrah.
__ADS_1
"Berarti pacar?"
Semua katanya memang mengandung racun. Aku nggak mau mengingat percakapan tidak jelas ini. Kubilang dia memang berbahaya, tapi aku malab terperangkap ke jurang yang dibuatnya.