Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
23 — you and me, me and you


__ADS_3

Aku menunggu di halaman teras rumah Erika. Angin malam yang berembus sedikit dingin, tapi aku tidak ingin merusak outfit hari ini dengan sentuhan yang tomboy. Aku suka memakai jaket jeans kemanapun. Khusus hari ini tidak perlu.


Karena hari ini sangat spesial. Tidak banyak waktu yang bisa kuhabiskan dengan Adrian di sekolah. Di malam khusus ini—dan yang pertama kali—aku ingin terlihat cantik dan pastinya feminim.


Aku terlalu banyak overthinking untuk rencana keluar yang mungkin tidak sampai tiga jam inj. Adrian sempat menyinggung batasan jam kita bersama. Karena katanya, dia bertanggung jawab untuk menjagaku dari apapun, termasuk hawa dingin.


Dan sekarang gantian aku yang gelisah tentang kemana aku akan diajak pergi. Sebenarnya itu semua bergantung kepada pakaian yang Adrian kenakan malam ini. Kalau hanya kemeja yang kancingnya dibiarkan terbuka, aku tebak kita akan berakhiran di rooftop malam ini. Tidak ada yang spesial karena setiap pulang sekolah pun aku selalu diajak ke sana. Satu-satunya yang spesial adalah Adrian dan aku memakai warna baju yang senada.


Sejujurnya, aku ingin ada balasan atas usahaku yang ingin terlihat cantik. Aku juga ingin melihat Adrian dengan kondisi yang rapi dan keren seperti biasa.


Aku melirik jam tangan. Sudah pukul tujuh kurang lima, dan jantungku berdebar semakin cepat. Apa penasaran yang akan dia katakan saat pertama kali melihatku dengan balutan dress ini?


Tak lama, seperti ada insting yang menyuruhku bersiap. Aku mempertajam pendengaran. Suara mobil berderak dan akhirnya berhenti di depan pagar rumah Erika.


Aku menyipitkan mata. Dan benar saja, dari bayangan kaca mobil aku lihat seorang cowok tampan yang mengenalkan aku pada perasaan berbunga ini. Rasanya seperti mimpi—aku sampai tak sadar aku meremas rok gaunku saking merasa gugup.


Seorang satpam membukakan pagar. Kulihat si pengemudi alias Adrian keluar mobil. Aku memberi lambaian tangan begitu dia memasuki pekarangan rumah Erika.


Dan, itu dia. Adrian yang selalu keren dan tampan. Dia memakai tuksedo dipadu dengan kemeja merah marun. Hatiku tampaknya makin berbunga. Ternyata dia nggak main-main soal syarat baju yang harus aku pakai. Dia berjalan ke arahku sambil memamerkan senyum lebar.


Ketika kami berdiri berhadapan, kami sangat serasi! Secara hiperbolis aku ingin menyamakan diriku sebagai ratu dengan Adrian sebagai rajanya. Sedikit kilas balik dengan bagaimana perlakuan Adrian padaku di rooftop, tanpa kuduga dia menawarkan lengannya lagi kepadaku. Kami berjalan bergandengan dan mengangguk sopan kepada satpam yang barusan membuka pagar.


Adrian memberi kode lewat senyuman. Kurang lebih seperti mengatakan 'this is going to be the best night you ever had".

__ADS_1


Lagi-lagi kalimatnya beracun. Tapi bagaimana sesuatu yang berbahaya bisa begitu indah dan menarik?


Dia membukakan pintu untukku di kursi depan. Aku tersenyum menyambut uluran tangannya sebelum masuk ke mobil.


"Siap berangkat?"


"Lebih dari siap," aku tersenyum sumringah. Aku sudah membuang jauh kata malu dari kamus hidupku kalau sedang berada di samping Adrian.


Adrian menepuk puncak kepalaku sebelum menyalakan mesin mobil. Aku mengulum senyum, ditambah lagi hatiku seolah menjerit histeris. Kalau dia melakukan ini sepanjang waktu, mungkin aku sudah menjadi orang yang nggak waras di masa remajaku.


Sebelum pergi, aku minta tolong ke Adrian untuk menurunkan kaca mobil. Aku menemukan Erika berdiri di belakang jendela besar ruang tamu. Erika tengah berdiri mengawasi keberangkatan kencanku ini dari balik jendela. Ia memberi senyum yakin sambil mengacungkan jempol. Aku tau apa yang ingin dia katakan. Aku mengangguk dan melambai ke arahnya. Terima kasih bantuannya mulai dari gaun cadangan sampai make-up yang bagus ini. Tanpa Erika aku nggak akan merasa begitu percaya diri di kencan pertamaku.


Dan mobil Adrian mulai meninggalkan komplek perumahan Erika sampai akhirnya bergabung ke jalan raya.


"You look gorgeous, sweety."


Aku mengulum senyum. Tapi karena malam ini malam yang sangat spesial dan aku sangat siap untuk itu, aku membalas pujiannya.


"Kamu juga keliatan keren banget, Rian."


Adrian sampai mengalihkan pandangannya dari jalan demi melihat ekspresiku saat mengatakannya. Padahal tidak ada yang salah dari kalimat itu. Tapi ia memandangku seolah tidak percaya, dan luar biasa kaget.


"Kayaknya ini pertama kalinya aku dipuji sama kamu," saat tertawa, aku suka memerhatikan lesung pipitnya yang samar di pipi kiri.

__ADS_1


Aku mencibir, "Jadi kamu aslinya nggak suka?"


"Kalo kamu yang muji gimana bisa aku nggak suka?" balas Adrian menatapku lekat. Aku sudah terbiasa ditatap seperti itu. Mungkin di sisi lain Adrian juga senang dengan acara-tatap-menatap karena bisa menikmati pipiku yang perlahan merona.


Sudah cukup basa-basinya. Aku akhirnya mengganti topik yang membuatku hampir mati penasaran.


"Kamu mau ngajak aku ke mana?"


"Tenang aja, kamu pasti suka," ujar Adrian seratus persen yakin.


"Nggak ada jawaban lain?" aku lupa aku sedang berada dalam balutan dress. Tapi personality-ku tetap tidak berubah. Aku gagal menjadi cewek yang lemah lembut meskipun hanya semalam.


"Kadang-kadang aku suka tiap kamu ngomong selalu galak begini," katanya tanpa menoleh ke arahku. "Kalau begitu kan, artinya nggak ada cowok lain yang berani deketin kamu. Ibaratnya kamu itu punya aku. Jadi, cuma aku yang boleh ngomong sama kamu."


Adrian tidak salah. Toh, dia memang cowok pertama yang berhasil merebut hatiku. Besok-besok aku harus mulai belajar mengurangi sikapku yang sinis. Aku sepenuhnya setuju dengan kalimatnya barusan.


Mobil Adrian perlahan berhenti karena kami tiba di persimpangan jalan yang sedang lampu merah. Adrian tidak memulai percakapan apa-apa lagi, ia hanya menyampingkan tubuh ke arahku. Lampu merah menjadi momen yang tepat bagiku mengamati wajahnya, tuksedonya yang keren, dan senyumnya tidak memudar sedikitpun—bahkan sejak dia menjemputku di rumah Erika.


"Kamu mau tau sesuatu?"


Aku mengangguk semangat.


Aku pikir dia akan segera mengatakan sesuatu. Alih-alih, ia meraih pergelangan tanganku untuk ia genggam. Aku tidak menduga di detik setelahnya dia mencium tanganku dengan kilat. Aku tak habis pikir. Setelah dia meraih tanganku itu dia masih bisa pura-pura seolah barusan tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Pipiku memanas dan merah. Saat itu kendaraan lainnya mulai melaju karena sudah lampu hijau. Adrian melirik ke arahku sekilas sebelum kembali menginjakkan gas.


Yang terjadi setelah itu hanya aku dan Adrian yang sama-sama diam. Mungkin Adrian tidak menyadari. Aku tersenyum tanpa henti sambil melempar pandang keluar jendela sampai kami tiba di tujuan.


__ADS_2