Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
13 — the first time didn't feel special


__ADS_3

Pesanan empat piring pasta plus empat gelas matcha latte ukuran large dihidangkan di meja. Aku mengangguk ramah ke pelayan sebelum menyambar minumanku. Hanya ada satu solusi untuk meredam hatiku yang panas. Aku minum tanpa peduli lirikan dari mereka bertiga. Lagian, bukan peristiwa baru melihat seseorang minum seperti kesetanan saat udara sedang panas-panasnya.


Erika berdeham mencairkan suasana. "Selamat makan, guys."


Aku membuang pandangan ke sekitar kafe. Aku rasa kami berempat adalah satu-satunya pengunjung yang masih anak sekolahan di sini. Kafe yang lumayan mahal untuk ukuranku. Tapi Erika bilang, aku nggak perlu repot-repot mengeluarkan uang karena para cowok yang akan membayarnya.


Dan posisi duduk kami saat ini unik. Aku duduk bersebelahan dengan Erika. Nando duduk di seberangku, dan sudah jelas Adrian yang ada di hadapan Erika. Aku nggak habis pikir, kenapa nggak Adrian yang duduk di sampingku? Dia kurang peka meskipun aku sudah mogok bicara dengannya selama perjalanan.


Kami nggak melakukan double date seperti orang-orang umumnya. Eh, aku lupa. Aku kan, nggak pernah diajak jalan sama cowok manapun sebelum ini. Aku nggak tau tolak ukur double date yang benar.


Tapi yang jelas nggak seperti ini. Aku pura-pura nggak melihat saat Erika menyuapi Nando di hadapanku. Aku nggak menaruh minat ke piringku, aku hanya sibuk mengaduk-ngaduk spaghetti carbonara yang kini semakin nggak berbentuk.


"Kamu nggak suka menunya, Drea?" sebuah pertanyaan ditujukan padaku. Aku mengangkat wajah, dan mendapati Adrian mengamatiku lekat-lekat.


Kalau aku berani bilang ini di depan wajahnya, aku sudah melakukannya dari tadi. Masalahnya, kenapa Adrian nggak menyadari mood-ku yang tiba-tiba hilang ini?


Sebentar, sejak kapan dia mengganti sapaan jadi 'kamu'?


Rupanya Nando dan Erika juga memandang ke arahku. Aku gelagapan dengan situasi yang menjadikanku sebagai pusat perhatian. Aku memaksakan diri untuk menarik senyum.

__ADS_1


"Nggak. Nggak papa, a-aku suka makanannya kok."


Bohong. Aku nggak selera makan. Semua rencana double date ini membuatku nggak berselera. Erika seolah nggak mengerti kalau aku butuh privasi di awal kedekatan Adrian denganku. Mungkin Erika berpikir aku butuh merayakan masa 'jadian'. Tapi dia lupa, aku nggak suka perayaan. Aku hanya nyaman dengan orang yang sudah bisa kupercaya. Tentu saja, di antara tiga orang itu aku masih sulit menerima Nando. Sepertinya dia juga malas membuka diri denganku.


Dan lagi, lidahku terasa kelu walau diajak bicara memakai 'aku' oleh Adrian. Ini pertama kalinya. Aku melewati momen itu. Kalau saja mood-ku stabil saat ini, aku pasti merasakan sensasi seperti kupu-kupu terbang di perutku.


"Terus kenapa nggak dimakan?" Adrian bertanya penuh selidik.


"Kayaknya karena aku kebanyakan minum tadi," aku menjawab dengan setengah tak jujur. "Cuacanya lagi panas banget, sih. Kalian ngerasa nggak?"


"Betul banget. Sorry ya beb, aku nggak lagi bawa mobil hari ini," Nando menimbrung dengan kata-kayanya yang menyiratkan kesombongan. Aku muak mendengarnya. Nando memang sering mengandalkan statusnya yang kaya untuk merebut perhatian Erika.


"Ih, nggak masalah. Tapi, lo nggak kenapa-kenapa kan, An?" Erika memberi simpati kepadaku. "Atau lagi nggak enak badan?"


"Iya? Kamu sakit, Drea?" tanya Adrian dengan suara meninggi.


"Oh, gini aja deh. Gue order teh panas buat lo ya?" itu suara Erika.


"Gue telepon supir gue aja deh. Nggak lama kok. Biar Andrea bisa nyaman pas pulang," Nando juga ikut mendesak aku dengan suaranya yang menurutku angkuh. Aku akan lebih menghargai tawaran bantuannya kalau dia nggak berusaha menunjukkan kekayaannya.

__ADS_1


Padahal aku nggak merasa sakit. Sakit yang sifatnya fisik, maksudku.


"Andrea? Lo nggak papa? Jangan ngelamun gitu." tangan Erika tergerak menggapai dahiku.


"Ayo. Kita pulang sekarang aja, Drea."


"Guys, udah berhenti! Gue baik-baik aja!" tanpa sadar aku membentak. Bukan itu saja, aku reflek menggebrak meja. Alhasil, tanganku menyenggol gelasku yang masih tersisa setengah.


Dan gelas matcha latte-ku terbaring di meja. Isinya menggenangi makanan yang kupesan. Sebagian juga tumpah mengenai seragam Erika.


Erika tak menduga itu terjadi. Dia sangat kaget melihat bajunya lembab karena tumpahan itu.


Aku yang merasa sangat bersalah, langsung mengambil tisu. Aku berusaha memperbaiki kekacauan akibat tanganku ini.


"Gue harus bersihin ini," Erika bangkit dari kursi.


"Er, maafin gue. Gue nggak sengaja numpa--"


"Gue bisa sendiri, nggak papa," Erika meyakinkan. "Lo di sini aja istirahat."

__ADS_1


Erika berlari menuju toilet sementara hatiku dipenuhi rasa bersalah. Mood-ku semakin sore semakin buruk saja. Aku bahkan tak bisa menikmati momen yang baru saja kujalin bersama Adrian.


I clearly did something wrong.


__ADS_2