
Aku tidak bisa menceritakan secara detail bagaimana jalannya kencanku dengan Adrian. Yang kuingat, aku sudah benar-benar gila kemarin malam. Aku tersenyum tanpa henti karena Adrian memperlakukan aku seperti ratu. Aku terlalu dimabuk rasa senang sampai rasanya hatiku ingin meledak.
Adrian membawaku ke rooftop gedung salah satu shopping center. Aku geleng-geleng kepala karena idenya ini di luar nalar. Dia tidak pernah bosan mengajakku ke tempat sakral ini.
Awalnya kupikir semuanya berjalan seperti umumnya. Pergi ke rooftop memang agenda rutin kami sepulang sekolah—kalau aku tidak menemuinya di sana rasanya aneh. Tapi kali ini, ada yang berkali-kali lipat lebih spesial.
Pertama, suasananya temaram dan romantis. Aku tidak pernah merasa sedekat ini dengan Adrian—karena di malam hari, dia lebih sering gombal dan humoris. Kami seperti dibawa kembali ke malam saat kami bertemu.
Di luar itu, aku tak menyangka Adrian menyiapkan kejutan yang luar biasa. Dia menggelar tikar dan membawa keranjang makanan berisikan roti kering dan dessert lainnya. Ia bilang, anggap saja seperti piknik di malam hari. Selain itu, dia menyiapkan puluhan lilin dan korek api.
"Tunggu aja di sana, Drea. Aku mau nyalain lilinnya dulu."
Aku bingung sekaligus bersemangat dengan idenya yang konyol itu. "Aku juga mau bantuin kamu."
"Nggak perlu. Korek api itu bahaya di tangan kamu, Drea," katanya mengacak rambutku pelan.
Padahal aku menyiapkan banyak waktu untuk bersiap-siap dari ujung kepala sama ujung kaki. Namun, Adrian lebih senang mengacaknya daripada melihat rambutku tertata rapi.
"Kamu dapet ide darimana?" aku mengajaknya bicara di tengah kesibukan Adrian menghidupkan api di sekeliling tempat duduk kami.
"Dari kamu yang suka mandangin bintang." Adrian berhenti sejenak untuk melirikku. "aku liat perkiraan cuaca sebelum pergi. Sayang banget malam ini berawan. Jadi, lilin ini untuk gantiin cahaya yang kamu suka banget."
Astaga, dia berpikir dengan sangat detail. Jangan tanya perasaanku saat seseorang mengingat Hal kecil yang kusukai. Adrian tidak pernah melupakannya.
"Kamu perhatian banget," kataku tulus.
"Aku nggak perlu mikir dua kali buat bikin kamu seneng, Drea."
Rasanya aku ingin berteriak hingga pengendara dan orang-orang di bawah sana tau level kebahagiaanku. Malam ini sangat berkesan buatku, setidaknya selama tujuh belas tahun terakhir aku hidup.
Begitu urusannya selesai, Adrian bangkit lalu menghampiriku. Aku sudah bersiap memejamkan mata kalau-kalau dia ingin memberiku kejutan. Tak lama, dia mundur sedikit dan menyalakan korek api di tengah-tengah kami. Aku selalu ingin mengakui Adrian itu keren di setiap waktu, bahkan saat penerangan minim seperti saat ini.
"Aku nggak bisa ngatur cuaca untuk malam ini," katanya memulai obrolan.
"Rian, aku nggak ngerti."
"Ya, pertama kamu harus tau dulu aku nggak bisa ngeramal cuaca. Kalau bisa milih, aku mau malam ini cerah, supaya kamu bisa ngitungin jumlah bintang sama aku."
"Kenapa kamu ngomong seolah kamu merasa bersalah?"
__ADS_1
"Aku pikir aku belum cukup nyenengin kamu," balas Adrian yang entah kenapa terdengar seperti anak kecil yang polos. Aku gemas untuk tidak merapatkan jarak agar aku bisa berada dalam pelukannya.
"Kamu salah, Adrian."
"Kamu udah seneng aku ajak pergi?"
Aku menatapnya tak percaya. "Pasti lah! Kamu nggak nyadar dari tadi aku nggak bisa berhenti senyum?"
"Senyum kamu bikin aku overdosis."
"Ah, Adrian yang gombal. Sudah cukup, aku geli dengernya," kataku dengan nada merajuk.
"Tapi, dengerin aku dulu," Adrian menggunakan tangannya yang lain untuk menjaga apinya tetap menyala. "Kamu harus nurut sama perintahku, ya."
Jantungku seolah loncat dari rongganya. Astaga, aku khawatir aku harus memeriksa kondisiku ke dokter karena tak bisa berhenti tersenyum. Masalahnya, Adrian selalu menatapku tepat di manik mata saat bicara denganku. Sebagian wajahnya yang tertimpa cahaya dari nyala api membuatnya terlihat dua kali lipat menarik.
"Perintah diterima, Yang Mulia."
"Karena hari ini nggak ada bintang, gimana kalau aku bikin sesuatu yang mirip?"
Aku mendengus. "Kamu? Kamu mau buatin aku bintang dari origami, gitu?"
Aku mencerna dalam beberapa detik. Kadang rencana Adrian bisa jadi sesuatu yang di luar nalar.
"Boy, tell me more about it."
Adrian mendekatkan korek api yang masih menyala cukup dekat ke wajahku. Aku hampir takut apinya menyambar kalau aku lengah. Aku memberi tatapan penuh tanya bergantian ke Adrian dan korek api itu.
"Karena nggak bakal ada bintang jatuh sekarang ini, kita jadi nggak bisa ngasih tau keinginan masing-masing. Tapi nggak usah khawatir, aku punya penggantinya."
Yang dimaksud Adrian 'penggantinya' adalah korek api ini.
"Even though there is no shooting star tonight, I want you to take this candle light as your guide star. Make a wish, quickly."
"Adrian, kamu tau kan itu cuma khayalan anak kecil?"
"Jadi kamu nggak mau niup lilin ini?"
Padahal acara tiup lilin identik dengan ulang tahun. Aku akui idenya kreatif, tapi di saat yang bersamaan juga terlalu absurd. Bagaimana pun bintang jatuh dan korek api adalah dua hal yang sangat berlainan.
__ADS_1
Dan malam ini, aku tidak mau menolak permintaannya. Aku berusaha yang terbaik untuk tidak merusak acara kencan kami. Termasuk dengan tidak merusak mood Adrian. Aku tidak ingin egois, aku juga harus memahami Adrian dan pola pikirnya yang kadang sulit diterima.
Aku menghembuskan napas sebelum masuk ke permainannya. "Jadi gimana aturan mainnya?"
Aku bersumpah raut mukanya dua kali lipat lebih cerah. Dia bersemangat sekali menanggapi pertanyaanku. "Kamu harus buat satu permintaan. Aku juga begitu."
"Bebas? Tentang apa aja yang aku mau selama hidup?"
Adrian tampak tidak senang ketika aku memotong pembicaraannya. "Yang paling kamu inginkan saat ini. Alangkah lebih bagus kalau namaku juga ada di permintaan kamu."
Aku menepuk pundaknya pelan karena digoda seperti itu. Untung saja dia tetap menjaga korek apinya tetap stabil.
"Kamu udah siap?" tanya Adrian yang kedua kalinya.
"Aku udah kepikiran satu permintaan," jawabku sambil mengangguk mantap.
"Sama. Sekarang, di hitungan ketiga kita sama-sama tiup apinya, paham?"
"Sekalian kita nyanyi selamat ulang tahun?" tanyaku dengan wajah datar.
"Drea, aku serius. Tiup apinya barengan di hitungan ketiga. Siap?"
Aku kembali menyela. "Sebentar. Emangnya kamu yakin permintaan kita bakal jadi kenyataan?"
Adrian menjawil pipiku gemas. Mungkin dalam hati ia sedikit kesal karena aku tidak bersikap serius dari tadi.
"Aku nggak mau ada alasan lagi. Lagian, kita bisa tau dari mana kalau nggak dicoba?"
Akhirnya aku menurut. Kami memejamkan mata perlahan dengan membayangkan permintaan khusus di benak kami. Tepat di hitungan ketiga, api di antara kami padam. Suasana menjadi gelap. Namun terbantu dengan cahaya lilin yang Adrian nyalakan di belakang kami.
"Kamu tau, nggak? Permintaan aku dikabulkan sejak tadi."
"Emangnya tadi kamu nyebut apa?"
"Aku minta supaya ada kamu di hadapanku malam ini."
Aku merasa kedua lututku melemas. Tanpa pikir panjang aku langsung menghambur ke pelukannya. Adrian yang keren. Adrian yang spesial. Adrian yang egois. Adrian yang banyak akal. Adrian yang beruntungnya punyaku seorang.
Aku tak bisa menceritakan lebih banyak lagi karena aku sedang sibuk menyembunyikan rona merah di pipiku saat aku kembali mengingatnya.
__ADS_1