
Tidak seperti hari lainnya, begitu aku sampai di rumah, aku langsung mengendap-ngendap melewati dapur. Biasanya sebelum naik tangga ke kamarku aku mampir sebentar ke dapur untuk mengambil makan siang. Tapi sekarang, aku melewatinya dengan suara yang semininal mungkin.
Jawabannya karena Adrian bersikeras datang ke rumahku.
Aku sudah memutar otak untuk mencari-cari alasan, dari yang masuk akal sampai yang sepele. Aku sudah mencegahnya sebisaku. Tapi Adrian tidak mau mengalah. Dia egois, dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan bagaimana dia harus mendapat apapun yang dia mau.
Aku sempat bilang, "Jangan ke rumah gue. Gue melihara kucing yang galak."
"Kucing-kucing langsung jinak kok, sama gue."
"Kucing gue nggak murahan! Dia nggak suka dielus sama orang yang nggak dikenal," aku membalasnya sengit.
"Ya, makanya kenalin kucing lo sama gue. Kan, kucing lo jadi punya orang tua baru," katanya seperti biasa menebar pesona. Dia pikir kucingku anak bayi yang butuh orang tua?
"Pokoknya jangan," aku yakin suaraku sudah memelas saat ini. Masalahnya, aku nggak siap menerima dia di rumahku. Aku memang suka tiap kali dia berusaha ada di dekatku. Dia hanya harus tahu bahwa aku juga punya batasan yang nggak boleh dia lewati.
Aku baru mengenalnya dua hari. Sekalipun dia yang meninggalkan sensasi berbunga di hatiku, bukan berarti dia bisa seenaknya. Aku punya hak untuk menolak.
Karena begitu dia datang ke rumahku, dia bakal mencoba mengenalku lebih dekat lagi. Ini sama dengan jebakan. Dia mau aku percaya padanya lebih dari apapun. Tapi ada bagian hatiku yang tidak boleh diketahui siapapun, termasuk seorang cowok yang aku sukai.
"Plis, Drea. Gue suka banget nganterin lo pulang. Tapi itu nggak cukup, masa gue dijadiin tukang anter aja? Jadiin gue tamu di rumah lo, ya?" katanya dengan senyum yang bisa melemahkan cewek. Termasuk aku, walaupun aku bisa pura-pura tidak salah tingkah di balik fitur mukaku yang sinis dan dingin.
"Lo nggak ada kepentingan buat masuk ke rumah gue, Adrian. Jadi gue, sebagai yang punya rumah boleh nolak."
"Gue mau ketemu nyokap lo," katanya enteng. "Atau adek lo. Pasti lucu."
Sudah jadi ciri khasku dengan membalas dengan sinis, "Sok tau, gue nggak punya adek."
"Nah, kan. Gue belum banyak tau tentang lo, Drea."
Aku mengerucutkan bibir.
"Silakan, Ratuku," Adrian menawarkan lengannya supaya kami saling bergandengan.
__ADS_1
Aku geli mendengarnya, tapi aku suka selama dia yang memanggilku seperti itu.
"Tapi gue mau satu syarat," kataku tegas pada akhirnya. Aku yang menawarkan syarat ini.
"Coba sebutin."
"Karena gue ratunya di sini, gue bebas merintah apa aja. Lo cuma boleh ada di rumah gue selama satu jam."
"Waktu segitu aja nggak cukup untuk buatin gue minuman, Drea!"
"Jadi batal, ya?"
"Lebih lama, dong."
"Katanya gue ratunya?" aku memang suka diajak berdebat dengan orang lain. Lebih senang lagi kalau orang itu dibuat skakmat olehku.
"Tapi, lo harus meluk gue di atas motor," dan datang lagi permintaan aneh yang lain dari mulut Adrian.
"Tapi harus. Demi kebaikan ratu sendiri."
Sudah sering kubilang dia egois, dalam segala hal.
Selama perjalanan menuju rumahku, aku terpaksa menuruti kemauannya. Dia menarik tanganku agar aku tidak lepas memeluknya bahkan saat lampu merah. Cuma dia yang paling menyukai momen ini. Aku harus bersikap normal dan pipiku tidak boleh sampai merah.
Dan walaupun baru saja kemarin dia mengantarku pulang, dia sudah hafal rute jalan ke rumahku dengan sangat baik. Adrian tidak perlu memastikan belokan ke berapa menuju rumahku. Sepertinya dia memang harus menghafalnya, supaya aku makin tertarik pada cowok yang awalnya asing ini. Sesekali ia melirikku dari kaca spion. Aku tidak merespon apa-apa, karena aku memasang tampang masa bodo.
Sekali lagi aku pura-pura memerhatikan laju kendaraan lain saat dia mencuri pandang ke arahku. Sejujurnya aku merasa sedikit tidak nyaman. Aku nggak pernah menyangka cowok yang baru saja kukenal bisa mengajakku pulang dalam waktu yang sesingkat ini, mengingat aku begitu sinis kalau berhadapan dengan orang lain.
Untungnya, semesta membantu mengakhiri penderitaanku di atas motor. Aku sudah tiba di depan gerbang. Aku langsung turun dan membuka gerbang.
Aku harap mama ada di kantornya saat ini. Kalau beliau sedang ada di rumah, aku belum tau harus mengarang kebohongan yang seperti apa.
Adrian melepas helmnya. Rambutnya acak-acakan menutupi keningnya. Dengan gaya yang menurutku sangat keren, dia menyugar rambutnya ke belakang. Aku asyik memerhatikannya.
__ADS_1
Seperti yang pernah aku bilang, tampangnya serasi dengan gaya pakaiannya. Dia selalu tampil baik kapanpun, bahkan setelah pulang sekolah. Setidaknya di mataku, dia selalu keren.
"Kenapa, Drea?"
Sialan. Rupanya dia sadar aku perhatikan. Seperti apa rasanya tertangkap basah memandang ke arah cowok yang kau suka? Persis seperti aku saat ini—memerah. Aku melangkah ke teras.
Sambil bersikap normal, aku berkata. "Gue nungguin lo parkirin motor." Padahal sebenarnya aku masih mau mencuri pandang ke arahnya.
"Nggak ada salam atau penyambutan, gitu?"
"Gue nggak bisa main alat musik. Gue nggak punya karpet merah."
Adrian tertawa. Setelah sekian lama—maksudku selama dua harian ini, aku baru melihat Adrian punya lesung pipit yang tidak terlalu kentara. Nggak heran tampangnya semakin menawan. Aku paling suka alisnya yang tebal.
Adrian menghampiriku menaiki undakan tangga ke teras. Di rumahku, lantai garasi disambung ke teras dengan tiga buah anak tangga. Pintu depan berwarna cokelat tua tanpa dilengkapi jendela di sisi kanan-kirinya. Aku sadar dari tadi dia banyak memerhatikan koleksi tanaman punya mamaku. Mungkin dia punya banyak pertanyaan di kepalanya, namun disimpan untuk nanti.
Aku sempat melihat sekilas Adrian menaruh perhatian ke koleksi tanaman hias. Dia mengamati daun-daun yang bervariasi, bahkan menyentuhnya dengan rasa penasaran. Aku sedikit cekikikan dengan tingkahnya yang seperti anak kecil.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kunci rumah tidak disimpan di bawah pot bunga mana pun. Aku memasukkannya di pouch kecil tadi pagi.
Sejenak aku merogoh ranselku. Pasti benda kecil itu ada di kantung bagian depan. Tapi aku kesulitan mengambilnya.
Adrian sepertinya memerhatikan aku yang sibuk sendiri. Dia langsung melangkah mendekatiku. Dia berusaha mengambil ranselku untuk mencarikan kunci.
"Gue bisa sendiri. Lagian, lo tunggu aja sebentar lagi di--"
Aku tak melanjutkan kata-kataku. Aku terlalu terkejut karena Adrian memelukku dari belakang. Aku tak bisa melepaskannya. Malah, dia mengeratkan pelukan sehingga aku tak bisa bernapas.
Aku harap dia tidak bisa mendegar debar jantungku yang tak keruan.
"Adrian?"
"I want to know about you, is that bad?"
__ADS_1