
Begitu aku memasuki kelas, pemandangan menarik menyapaku. Setangkai bunga mawar tersimpan rapi di tempatku duduk. Rasa hangat menyergap dadaku.
Pemandangan yang ingin kulihat setiap pagi.
Aku melihat sobekan kertas notes kecil di sampingnya. Aku sudah tau pasti siapa si pengirim. Dia tidak menyebutkan nama, tapi ada tertulis pesan singkat di sana.
Be my prom date, please?
Aku tersenyum lebar. Ini pertanda ikatan kami normal seperti biasa. Aku menghambur ke Erika yang sedang sibuk membaca buku saku.
"Lo kesambet apa, An? Masih pagi padahal."
Aku mengeratkan pelukan, "Lo liat Adrian naro bunga ini, nggak?"
"Ya, coba lo tanya langsung ke orangnya," Erika mendelik sebal. "Emang dalam rangka apa dia ngasih lo bunga? Bukannya udah baikan?"
"Kapan ada pesta prom kelas dua belas?"
"Pesta ulang tahun sekolah maksud lo? Bulan depan. Oh, dia ngajak lo pergi bareng?"
Erika tak perlu bertanya. Mataku sudah jelas memancarkan kebahagian. Kalau aku berada di dunia anime, ilustrasinya menjadi bintang kecil di pupil mataku.
Aku mengepalkan tanganku ke depan dada. "Gue butuh bantuan lo lagi, Er."
"Sejak kapan lo bisa hidup tanpa gue? Sekarang lepasin, ah. Geli tau diliatin orang."
Aku duduk dan merapatkan tubuh ke Erika. Fokusnya terganggu karena aku terus menerus menatapnya penuh harap. Akhirnya Erika menyerah. Dia menutup bukunya dan sepenuhnya mengajakku bicara.
__ADS_1
"Mau lo apa?"
"Gue mau ganti penampilan. Gimana menurut lo, Er? Potong rambut atau diwarnain?"
Erika geli mendengarnya. Padahal tak ada yang lucu dari omonganku barusan.
"Gue serius. Bagusan yang mana? Lo kan ahlinya soal mengurus diri."
Erika memindai penampilanku dari atas sampai bawah. Masih ada tatapan tak percaya darinya. Padahal dulu pun aku juga merubah citra demi kencan pertama dengan Adrian.
"Pertama, gue mau nanya dulu. Lo berubah buat lo sendiri atau cuma mau dibilang cantik sama Adrian?"
Pertanyaan skakmat. Aku putuskan membela diri. "Ya buat gue dong. Kalo Adrian juga suka, itu bonus."
Tangan Erika tergerak mengatur-ngatur rambutku. Dia seperti memperkirakan model apa yang tepat untuk cewek tomboy sepertiku. Apapun yang akan dia bilang nanti, aku menurut saja karena selara Erika tak perlu diragukan lagi.
"Gue juga mau diwarnain. Di mata lo yang bagus warna apa?"
Erika kehilangan kesabaran di sini. Tanpa pikir panjang dia menjitak dahiku sampai aku mengaduh kesakitan. Aku yang tidak terima dengan 'hadiah' itu membalasnya cekatan.
"Warnain rambut itu melanggar aturan sekolah, tau?"
"Ya, mana gue tau? Lo baru ngasih tau gue sekarang."
Erika mendesah panjang. Mungkin terlalu cape menghadapi teman macam aku yang suka bertingkah ajaib. "Untungnya gue sabar ngobrol sama lo, An. Gue kasih tau ya, makanya jangan terlalu cuek sama sekitar. Lo udah di tahun terakhir SMA tapi bisa-bisanya lo baru tau peraturan sepele kayak gitu?"
Dia memang gambaran ibu-ibu yang terperangkap di tubuh remaja.
__ADS_1
Tapi aku lebih fokus ke kalimat terakhirnya. Tahun terakhir di SMA? Dalam hitungan bulan aku akan lulus?
Dan tentu saja ini bukan tentang aku yang terlalu cinta dengan sekolah sampai-sampai aku enggan berpisah. Aku memikirkan hal lain, tentang waktu. Rasanya waktu berjalan cepat sekali, aku masih menganggap pertemuanku dengan Adrian seperti baru semalam. Dan perlahan kekhawatiran memenuhi pikiranku. Kalau misalnya masa SMA kami berakhir, bagaimana dengan kami?
Aku masih ingin melihat Adrian yang keren dalam balutan hoodie hitam. Bagaimana helai rambutnya jatuh di telinga. Jangan lupakan bagaimana hangatnya hatiku tiap kali dia memanggilku dengan 'Drea'. Sebutan yang spesial dari orang yang spesial pula.
"An, kenapa jadi ngelamun?"
Setidaknya dengan Erika aku bisa membagi kegelisahanku.
Aku memaksakan senyum dan berpikir membelokkan topik pembicaraan. "Lo sama Nando bakal LDR-an kalau kita udah lulus?"
Topik yang sebaiknya dijauhi kalau sudah bicara tentang hubungan dan komitmen.
"Gue ikut alurnya aja. Gue yakin Nando nggak bakalan pergi ke lain hati."
Aku meraih mawar dari Adrian sambil menimang-nimang. "Kalian udah saling kenal satu sama lain, ya? Maksudnya yang saling kenal sampe tau personality masing-masing." Aku lebih terdengar seperti orang yang iri ketimbang orang yang sedang memberikan pujian. Karena hal kecil seperti ini memang membuatku gelisah. Aku baru merasakan kesenangan yang bisa dibilang sebentar. Aku tidak ingin suatu hari setelah kelulusan Adrian akan mengucap salam perpisahan.
"Lo perlu waktu untuk bener-bener jatuh cinta. Terus juga, semakin lama lo bakal kenal sama Adrian tanpa harus dia kasih tau apa makanan favoritnya, kebiasan dia kalau lagi galau, dan seterusnya."
Mendadak aku teringat hal ini. "Kayaknya gue ngebiarin Adrian sendiri yang berjuang. Lo tau kan, dari caranya manggil gue ratu, ngajak gue ke rooftop, kesannya kayak semua usaha di dia. Sedangkan gue? Gue marah karena dia berantem. Gue merasa gagal mahamin dia," aku menatap sayu mawar di tanganku seolah lewat itu aku bisa menjadi perantara dengan Adrian.
"Lo nggak salah. Tapi gue mau bilang, hubungan itu dua arah. Kalo lo mau semuanya nggak berhenti pas kita wisuda, lo juga harus ngeusahain itu," jelas Erika menggurui.
Gelisahku makin menjadi. Aku melamun dengan tanganku yang masih menggenggam mawar. Tanpa sadar, jari tanganku terasa tergesek dengan duri yang kebetulan tidak terpotong.
Ah, aku lupa aku pernah menyakiti Adrian dengan marah karena dia bertengkar. Hukum alam memberi hukuman yang sama kepadaku hari ini. Tiba-tiba aku merasa jahat karena sudah bersikap judes kepada orang yang sayang padaku.
__ADS_1