Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
16 — i fell harder


__ADS_3

Dalam dua minggu terakhir, sudah tak terhitung berapa kali Adrian mengajakku ke rooftop. Tidak hanya sepulang sekolah, tetapi juga pada malam harinya plus akhir pekan. Kami tak pernah kehabisan topik. Rasanya saat Adrian membuatku tertawa, aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Aki terlalu larut dalam suasana, dan Adrian selalu punya cara agar aku bisa mengandalkannya saat aku butuh sesuatu.


Pernah suatu saat pada pelajaran olahraga, dia menonton pertandingan basket putri kelasku dari pinggir lapangan. Aku yang heran mengapa Adrian bisa disana mendapat jawaban tenang bahwa gurunya berhalangan hadir. Jadi, bagi Adrian ini kesempatan emas untuk memandangku dari jauh. Tetapi karena ada guru piket yang selalu berjaga di lantai dua, dia harus menyelinap. Pak Gunawan terkenal tegas memberi hukuman bagi murid-murid yang berkeliaran di jam pelajaran.


Entah bagaimana dia berhasil turun ke lapangan. Dia duduk sambil menyamar di kerumunan cowok kelasku. Usaha Adrian memang sia-sia, dia tetap mencolok karena dia memakai kemeja putih di antara sekelompok cowok yang memakai seragam olahraga. Tapi dia tidak peduli. Dia datang demi melihatku.


Aku sangat menghargai alasan itu.


Semuanya berjalan baik-baik saja. Aku bermain dengan lincah, karena aku memang diandalkan tim untuk mencetak skor. Semua kawan perempuanku bersorak heboh. Mereka meneriakkan namaku, namun aku hanya berfokus memberi kemenangan buat timku. Hingga menit ke-sepuluh permainan berlangsung, sesuatu yang buruk menimpaku. Memang memalukan, tapi bagiku nyeri dari luka di sekujur kaki jauh lebih hebat.


Saat aku mau memasukkan bola ke ring, aku terpeleset di daerah lapangan yang berpasir. Aku nggak bisa menyeimbangkan tubuh. Alhasil, aku jatuh dengan kaki yang langsung mencium tanah. Permainan langsung terhenti. Aku memindai ke arah bola yang tadinya ingin kumasukkan ke ring menggelinding ke luar lapangan.


Sesaat aku menormalkan napasku yang tersengal-sengal. Sialan, aku harusnya tidak boleh gagal kalau ingin skor timku lebih ungul. Koor yang menyemangatiku selama pertandingan langsung terhenti. Semua mata kini tertuju padaku.


Aku memeriksa kondisiku. Rasanya ada sensasi hangat dari darah yang mengalir di lutut dan betisku. Benar saja, aku juga menemukan luka di beberapa bagian. Kulitku seperti tergesek dan mengelupas.


Aku merutuk dalam hati. Aku mengusahakan untuk bangun, tetapi seperti ada sesuatu yang mencengkram kaki. Beberapa temanku langsung mengerubungiku layaknya semut yang menemukan gula. Aku juga melihat Erika yang langsung merangkulku agar bisa berdiri. Aku berhasil dibawa ke luar lapangan menuju UKS. Semua orang sepertinya berbisik-bisik karena aku jatuh dengan posisi yang mengenaskan.


Erika menuntun aku naik satu undakan tangga. Ruang UKS memang berada di lantai dua, dan itu sangat menyulitkan orang-orang yang cedera saat pelajaran olahraga. Samar-samar aku mendengar pluit dibunyikan. Itu artinya pertandingan dilanjutkan lagi tanpa kehadiranku.


Kalau boleh jujur, rasanya nyeri saat dipaksa berjalan. Masih untung saat itu tidak terluka parah. Sebaiknya aku tidak boleh terlalu brutal saat bermain basket.


Setengah perjalanan di tangga, aku dikejutkan dengan tangan yang tersampir di pundakku. Aku menoleh, dan menemukan Adrian mengambil alih pegangan Erika. Dari tatapannya dia nampak khawatir.


"Drea, mana yang sakit?" tanya Adrian lembut.


"Nggak kok. Cuma luka kecil," aku membela diri. Dalam hati aku menjerit. Aku berdarah cuma karena bermain basket dan gagal mencetak skor.

__ADS_1


"Kamu jago mainnya. Tapi jangan bikin diri kamu sendiri jadi korban," Adrian berkata tegas. Aku hampir dibuat diam mendengarnya. Ini adalah sisi yang belum pernah aku lijat dari seorang Adrian.


Dia khawatir melihatku terluka.


"Erika, ke lapangan aja. Gue bisa ngobatin Andrea kok."


Dari nada suaranya, itu bukan saran. Ia serius ketika menyuruh Erika kembali ke lapangan.


"Tapi gue udah dikasih izin sama gurunya," Erika seperti tidak terima diperlakukan begitu. Dia selalu merasa bertanggung jawab untuk membantuku di segala waktu. Termasuk saat ini, dia begitu peduli dengan kondisiku.


"Udah nggak masalah. Justru gue yang lebih bebas sekarang," Adrian meyakinkan.


"Biasanya Andrea nggak suka diobatin. Makanya gue mau mastiin biar lukanya bener-bener diurus."


Adrian belum menyerah juga berdebat dengan sahabatku itu. "Gue bisa mastiin itu, Erika. Tenang aja."


Lengan Erika kembali merangkulku. Dia terlalu teguh pendirian untuk mengantarku ke UKS.


Sebelum sosok Erika menghilang, Adrian berteriak. "Temen lo aman kok, sama gue."


"Awas aja kalo lo nggak becus!"


Dan aku menikmati bagaimana dia khawatir. Bagaimana dia berdebat dengan Erika supaya bisa mengantarku. Di samping rasa perih yang terasa berdenyut, aku juga memikirkan kata-kata manisnya ketika menghampiriku tadi.


Aku rasa Adrian terlalu kasar 'mengusir' Erika agar kembali lagi ke lapangan. Tapi, aku nggak peduli. Erika juga pernah mendahulukan pacarnya daripada aku. Jadi, ini saat bagiku untuk begitu juga. Aku selalu berbunga-bunga saat dia di sampingku, apalagi saat ini aku bisa mengandalkannya.


Di UKS, aku merawat lukaku sendiri. Adrian membuatkan aku segelas teh panas. Kebetulan saat itu tidak ada petugas yang berjaga di UKS. Suasana di antara aku dan Adrian terasa lebih intens.

__ADS_1


"Minum, Drea. Aku maksa. Spesial karena buat kamu."


"Makasih udah nyamperin aku," aku menatapnya tulus. Kini dia duduk di ranjang seberangku. Aku semakin leluasa menatapnya.


"Kamu jangan bikin aku khawatir lagi. Bahaya tau, nggak?"


"Kamu beneran khawatir sama aku?" aku menggodanya. Aku nggak tahan berada di ruangan yang pengap ini. Aku ingin keluar, menyaksikan teman kelasku bermain.


Begitu aku beranjak, aku seakan tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Aku yakin sudah menginjakkan kaki di lantai, namun masih terlalu lemas.


Adrian dengan sigap meraih lenganku sebelum aku kembali limbung. Astaga, hatiku semakin tak karuan. Aku mendongakkan kepala. Adrian memandangku dengan tatapan yang begitu khawatir.


Hatiku bergemuruh. Satu tangannya tepat menyangga pinggangku. Aku hidup seakan untuk menantikan momen ini terjadi—aku diselamatkan oleh seseorang yang aku suka setengah mati. Dan semuanya langsung terasa hening. Mata kami saling beradu, kali ini tanpa takut ataupun malu-malu.


"Dengerin aku, ya. Kamu istirahat dulu di sini."


Seperti yang sudah aku bilang di awal, aku tersihir dengannya. Aku kembali duduk, dan Adrian mengambil tempat di sebelahku.


"Kamu tau kalau di antara kita, aku yang paling jatuh cinta."


Aku tersenyum padanya, "aku nggak percaya. Harusnya aku."


"Terserah. Tapi aku yang paling sayang sama kamu, Drea."


"Emang buktinya apa?"


Tangan Adrian terulur ke belakang kepalaku. Dengan lembut ia melepaskan jepit rambutku dan membiarkan rambutku terurai bebas. Tanpa protes aku membiarkan ia melakukan itu.

__ADS_1


Adrian menyimpan sebagian helai rambutku ke belakang telinga. Aku sepertinya lupa caranya untuk bernapas beberapa saat. Aku hendak memalingkan wajah ke arah lain, tetapi Adrian menahanku. Tatapannya begitu mematikan.


"Kamu mau bukti, Drea?"


__ADS_2