Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
7 — deep into your eyes


__ADS_3

"Gue punya kabar baik buat lo," seru Erika dari berlari ke arahku. Aku reflek menoleh ke arah kedatangannya, berharap ada satu kabar yang bakal membuatku kegirangan.


Koridor telah menyepi. Setidaknya sudah hampir setengah jam dari waktu pulang sekolah. Tapi aku masih duduk di bangku depan kelas karena Erika memintaku menunggu. Sekarang, apa pun yang dia bicarakan dengan Nando, aku harap ada sangkut pautnya dengan Adrian.


"Tadi lo ketemu Adrian?"


Erika menggeleng, alisnya membentuk kerutan. "Kenapa lo bisa mikir gue ketemu sama Adrian juga?"


"Yah, penonton kecewa."


"Nggak usah cemberut gitu. Gue dikasih ini dari Nando, katanya suruh kasih ke lo," Erika menarik paksa tanganku. Dia menyelipkan segulung kertas lusuh padaku, yang aku yakini isinya dari Adrian.

__ADS_1


"Dari Adrian, bukan?"


"Iya, tadi dia nitip ke Nando. Buruan dibaca. Gue juga mau tau dia ngomong apa ke lo."


Aku membukanya. Tulisannya acak-acakan, tapi bukan soal selama Adrian-lah yang menulisnya.


Gue tunggu di rooftop sekolah.


Singkat, padat, dan jelas. Erika mencak-mencak dan berkomentar pedas. Katanya bukan begitu cara mengajak cewek PDKT-an.


"Kenapa sih demen banget di rooftop kalian?"

__ADS_1


"Tempat pertama yang kita datangi bareng," Aku dengan sabar menjelaskan, dan hanya butuh hitungan detik untuk mengulang semua adegan di kepalaku. Kalau saja waktu bisa berjalan lebih lambat saat Adrian menggenggam tanganku, atau saat kami berbaring bersebelahan tetapi mulut kami terkunci.


Sederhana, tapi aku mau mengulangnya.


"Lo harus ngasih credit ucapan terimah kasih ke Nando karena lo berdua ketemu di pestanya," Erika menyombong.


"Gue tebak abis ini lo bakal ngomong 'untung aja gue ngajak Andrea ke pesta pacar gue'. Ya kan?"


"Udahlah, nggak penting. Pergi ke sana, cepetan. Nggak pake lama."


"Tapi, Er. Kalo dia jadi orang yang beda pas di sekolah gimana?" ketakutan menyelinap ke hatiku kalau saja dia menjadi sosok yang berbeda. Aku takut Adrian yang kutemui di pesta hanya eksis malam itu saja.

__ADS_1


"Lo banyak khawatirnya, An. Dia aja nggak mikir dua kali biar bisa ketemu sama lo, nggak peduli lo bakal excited kayak kemarin atau nggak. Sekarang, samperin Adrian. Nggak boleh segala ragu-ragu kayak gini."


Aku mencarat saran Erika di kepala. Erika sekali lagi meyakinkanku semua baik-baik saja. Aku beranjak dari tempat duduk perasaan yang campur aduk, takut dan juga excited.


__ADS_2