Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
31 — only you


__ADS_3

Adrian ikut mencuri pandang ke arah ponselku. Aku tau dia sedang memerhatikan gerak-gerikku. Aku inisiatif memberi tahunya tanpa dia minta.


"Dari Erika," kataku tak bersemangat. Maaf sekali, aku perlu menomorduakan temanku demi menghabiskan waktu yang berkualitas dengan Adrian. "Aku nggak biasa ngidupin mode silent."


Kami saling terdiam beberapa saat. Sial, kenapa aku jadi terjebak di dalam kecanggungan? Aku mengucap selamat tinggal pada momen berharga tadi. Nyaris saja. Beberapa detik yang lalu mungkin kakiku tidak terasa memijak tanah karena perasaan senang yang begitu hebat.


Adrian terdengar kecewa. Dia menyugar rambutnya ke belakang, mengusir kesal karena 'gangguan' tadi.


"Mungkin kamu harus belajar silent HP mulai sekarang," ujar Adrian. Dia mencari kesibukan dengan menendang kerikil yang ia temukan di tempatnya berdiri. Cara yang hebat untuk menyalurkan kecewa.


Aku baru saja ingin menangkup kedua pipinya sampai sebuah suara menghentikan niatku. Sumbernya dari pintu masuk rooftop. Aku menoleh dan menemukan Erika membungkuk lemas.


Ia menyuarakan namaku di tengah-tengah napasnya yang pendek dan terpotong.


"Erika?"


Dan inilah gangguan jilid kedua.

__ADS_1


"Gue tau gue nggak mungkin salah nemuin lo di sini," katanya berbangga diri. "Sejak sama Adrian lo gampang lupa, ya? Lo udah janji sama gue bakal nemenin gue ke mall!"


Ah, benar juga. Aku jadi ingat janjiku sewaktu di kelas tadi. Erika butuh heels baru untuk pesta ulang tahun sepupunya. Tentu saja aku yang jadi sasaran empuk. Nando, pacarnya sendiri kadang tidak kuat diajak bepergian karena Erika mendadak lupa waktu dan kalap setiap berada di mall.


Ketimbang minta maaf, aku mengacungkan dua jari tanganku. "Gue lupa. Kirain gue kita batal pergi hari ini."


"Iya, soalnya mau lo berduaan di sini sama Adrian, kan?"


Aku melirik Adrian setelah dituduh begitu. Tapi Adrian nampak oke-oke saja. Dia makin keliatan keren dengan pose bersandar dan sebelah tangannya ia masukkan ke saku. Ia nampaknya suka menyaksikan perdebatan kami.


"Yah, lo sendiri juga tau, Er."


Aku meliriknya lagi, kali ini untuk meminta persetujuan. Sayangnya aku tak mendapat dukungan darinya. Ia menaikkan bahu sekilas sebelum membelakangi kami melihat pemandangan di bawah. Dia sedang memberiku waktu untuk berpikir.


"Hmm, gue pikir dulu ya," kataku terpaksa. Aku tak ingin meninggalkan rooftop ini sebelum Adrian menyuruhku pergi dengan Erika.


"Udah, pergi aja, Drea." kata Adrian menjawab gelisahku. "Erika mau ditemenin sama kamu."

__ADS_1


"Emangnya kamu nggak ke--"


"Kamu nggak usah bawel. Masih ada lain waktu kok. Lagian aku nggak mau ngerebut waktu kamu sama Erika," ujar Adrian penuh pengertian. Entah di mana lagi aku bisa menemukan cowok yang seperti dia. Eh, tapi buat apa aku mencari cowok yang sejenis dia kalau aku sudah punya satu yang bernama Adrian?


Erika mengepalkan tangannya ke atas. Dia membuat pose kemenangan--yang kalau boleh jujur aku muak melihatnya--dan terpaksa menghampirinya.


Sudah kuduga Adrian juga enggan melepasku pergi. Terbukti saat aku melambaikan tangan, ia hanya menatapku tanpa reaksi apa-apa.


"Gimana kalo...aku ikut kamu juga, Drea?"


Mendadak aku senang karena dia berusaha untuk tetap bersamaku.


"Kamu mau?" aku memotong pembicaraannya girang. "Eh, maksudnya kamu nggak keberatan?"


"Kebetulan hari ini aku bawa mobil," kata Adrian seolah itu bukan persoalan besar. Aku tenggelam dalam lamunanku. Kalau ia kebetulan mengendarai mobil hari ini, artinya dia ingin membawaku ke suatu tempat?


Aku beradu pandang dengan Erika, meminta persetujuan. Erika akhirnya mengangguk lemah karena dia tau kami memang sedang lengket sekali, alias sulit dipisahkan. Wajahku langsung semangat kembali. Seperti dialiri semangat yang berapi-api.

__ADS_1


Adrian menyusul kami. Akhirnya ia kembali dengan wajah normalnya yang tersenyum menawan. Dia menggamit tanganku tanpa berniat melepaskannya.


Saat itu yang terpikir olehku adalah cara menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan Adrian. Maaf sekali karena aku menganggap Erika sebagai penganggu waktu berdua kami. Tapi memang benar adanya, karena aku hanya ingin ada di rooftop bersamanya. Tak ada hal lain di kepalaku selain itu.


__ADS_2