
Sudah kali ke-berapa Erika mencoba bermacam heels, namun tak satupun berhasil ia bawa ke meja kasir. Aku sudah menerapkan taktik jika ia bertanya pendapatku, aku bakal mengangguk mantap dan bilang cocok-banget-buat-lo, tapi detik berikutnya dia terpikat dengan model lain dan mencobanya.
Aku hitung dia sudah mencoba tujuh belas sepatu, yang artinya sama saja dia mencoba keliling toko ini dari pintu masuk sampai pintu keluar. Aku prihatin dengan pegawai toko yang harus merapikan heels itu kembali ke kotaknya.
Erika masih mengobrol dengan pegawai toko ketika aku sudah mulai kelaparan. Mereka berbincang seru, tapi aku tak bisa lagi mengikuti alur obrolan mereka. Kalau dilihat dari penampilannya, aku taksir usia pegawai ini berada di bawah dua puluh lima tahun. Kesabarannya patut dihargai karena dia tahan mendengar celotehan anak SMA. Herannya aku dengan perempuan, mereka kuat sekali berdiri berjam-jam demi menemukan barang yang cocok buat mereka. Kapan-kapan aku harus belajar dari Erika supaya tak asal mengeluarkan uang untuk barang yang pertama kali tertangkap di mataku.
Adrian menghampiriku dengan mata yang sama lelahnya. Dia sepertinya kapok kalau diajak berbelanja dengan cewek.
"Kamu udah punya persiapan?" dia memulai obrolan saking lamanya menunggu.
"Persiapan buat apa?"
"Prom. Kamu kan pasangan aku nanti."
Aku berdecak, "kan masih lama, Rian. Masih banyak waktu buat nyiapin ini-itu."
Wajah Adrian cerah seketika. Dia memuji, "kamu memang lain dari cewek lain, ya." lengkap dengan belaian di kepalaku yang makin lama makin gencar.
Alhasil rambutku menjadi setengah kusut.
__ADS_1
"Adrian, cukup!" aku menghindar dari jangkauannya. "kamu bisa bikin rambut aku jadi kayak singa yang abis berantem, tau."
"Kan udah pulang sekolah? Ngapain kamu masih ngatur rambut rapi-rapi?"
Kadang dia harus disentak supaya akhirnya peka. "Kan aku lagi jalan sama kamu. Aku nggak mau keliatan berantakan di hadapan kamu." kataku malu. Hebat sekali aku merendahkan ego untuk mengakuinya.
Adrian terkekeh. Demi Tuhan, aku serasa kehilangan kemampuan bernapas karena melihat dia tertawa. Tawa yang menular—yang membuatku senang ketika melihatnya. Kadang aku berpikir aku cewek yang beruntung seantero sekolah karena bisa mengenalnya. Kalau disandingkan dengan cewek populer dengan riasan tebal, aku pasti jauh di bawah.
Adrian tidak ada lelahnya untuk menepuk-nepuk puncak kepalaku. "Kamu itu ngasih mantra apa ke aku?bikin aku Tiap hari aku makin suka sama kamu, Drea."
"Memangnya apa yang kamu suka dari aku?"
Jangan tanya bagaimana reaksiku. Meski sudah sedekat ini dengan Adrian, aku masih salah tingkah tiap kalimat manis keluar dari bibirnya. Selalu.
Aku melirik ke arah dalam toko. Erika dikelilingi empat sampai lima heels yang dengan sabar ia coba satu per satu. Waktu satu jam tidak akan cukup baginya untuk mencobanya semua.
Akhirnya satu ide nakal terlintas di benakku.
"Rian? Kita cari makan dulu, yuk?"
__ADS_1
Adrian tampak tidak percaya. "Lho, kenapa? Kita bisa pergi bareng-bareng nanti."
"Pasti lama kalo nungguin Erika selesai belanja."
"Jadi kamu mau ninggalin Erika sendiri? Dia temen kamu, lho." Adrian sepertinya ada di sisi baik dan punya sayap seperti malaikat karena menasihatiku untuk setia kawan.
Tapi masalah kesabaran itu lain lagi. Semua orang punya batasannya. Aku sudah tidak kuat menungguinya satu jam mendatang.
"Nggak apa-apa. Erika itu bukan anak kecil yang harus ditungguin," aku belum menyerah merayunya ke arah eskalator untuk turun satu lantai ke kedai makanan.
Adrian menurut. Percuma dia berdebat denganku karena ujungnya, dia membiarkanku menang. Aku suka caranya membuatku merasa spesial. Tak lupa, dia mengambil alih ranselku sehingga aku tak harus membawa apa-apa.
"Kita mau ke mana, Ratu?"
"Kita mau cari makanan. Harus yang junk food. Aku mau merayakan sesuatu hari ini," ujarku penuh semangat.
Adrian mencari jawaban. "Aku ngelupain sesuatu hari ini? Emangnya ini tanggal kita pertama ketemuan di pesta Nando? Kamu nggak mungkin ulang tahun hari ini, kan?"
"Bukan, bukan dua-duanya," aku menjawab geli. Banyak hal yang aku suka dari Adrian, terutama ekspresi bingungnya. "Kita bakal ngerayain hari di mana aku makin jatuh sama kamu."
__ADS_1