
Kerumunan perlahan memecah, sorakan yang menggebu akhirnya juga berhenti. Semua mata tertuju pada kami.
Tiga orang lawannya segera kabur melihatku yang melayangkan tatapan sinis. Aku yakin aku mendengar mereka mengumpat dan mengatakan sial berkali-kali. Aku bisa saja membalikkan ucapan mereka dengan berseru, 'Kalian bertiga yang sialan'. Dengan senang hati aku akan menghadiahi mereka dua pasang jari tengah.
Tapi aku membiarkan lawan Adrian itu kabur supaya aku bisa fokus pada kondisi cowok ini.
Tidak biasanya aku menghadapi situasi seperti ini. Sesaat aku tidak percaya yang di hadapanku ini Adrian. Dia sangat lemas seperti kertas yang dicelupkan ke dalam air. Aku menguatkan pijakan kaki agar bisa menopang tubuhnya. Tubuhnya tidak merespon saat aku ingin mengurai pelukan, aku ingin memeriksa separah apa luka di wajahnya.
Yang ada di kepalaku saat ini adalah bagaimana caranya membawa Adrian ke UKS. Kepalaku dipaksa bekerja dua kali lipat di waktu siang bolong. Orang-orang di sekitarku enggan dimintai bantuan, mereka lebih suka menyaksikan dengan penasaran. Ditambah, mereka sepertinya menikmati dan juga membelalakkan mata melihat adegan pelukan yang sangat spontan ini.
"Adrian," bisikku pelan tapi tegas. Urusan marah itu bisa ditunda untuk nanti.
Adrian bergumam tidak jelas. Di sini emosiku memuncak. Kenapa sih, laki-laki nggak bisa menahan diri untuk tidak mencelakakan orang lain? Karena sekalinya niat jahat itu timbul, mereka sendiri juga akan kena batunya. Seperti Adrian yang jadi korban karena kewalahan menahan serangan.
Tapi sebenarnya, Adrian yang lebih seperti korban di sini. Aku masih ingat jelas bagaimana tubuhnya terhuyung menahan serangan dari belakang. Andai aku tau siapa nama pelakunya. Aku tidak segan memintanya berhadapan denganku. Bukannya aku bermaksud sombong. Tapi kalau urusan berdebat, aku-lah juaranya.
"Adrian! Kamu ngapain, sih!" aku bicara seperti itu bukan karena marah dengan acara pelukannya di tempat umum, tapi karena bertarung sengit sampai dia kehabisan tenaga. Pokoknya aku marah sekali. Aku tidak suka tampang jenaka di wajahnya hilang—digantikan dengan wajah lemas dan napas yang tersengal.
__ADS_1
Dalam tenaga maksimal kedua tanganku, aku berhasil mendorong Adrian menjauh. Aku paling terkejut melihat luka di sudut bibirnya—yang semoga tidak perlu dijahit. Keringat bercucuran di dahi hingga lehernya. Aku harus tegaskan nanti aku tidak suka melihatnya yang biasanya keren menjadi gelandangan dan sok jago seperti ini.
"Drea..." Adrian mencoba melingkarkan lengan di sekitar pundakku lagi. Tapi aku berhasil mendorong bahunya agar kami tidak lagi jadi sorotan.
"Kamu ini mikir apa, sih? Emangnya kamu pikir kamu jagoan?" kataku meninggikan suara.
Setidaknya aku tau para cowok tidak suka disalahkan. Aku tidak terkejut dengan jawaban Adrian yang satu ini. "Mereka yang duluan kurang ajar, Drea."
"Kenapa nggak dirundingin dulu baik-baik!? Kamu kan bukan orang sakti yang kebal dari pukulan gitu!" mataku berkaca-kaca karena luapan emosi.
"Jangan dulu marah ke aku kayak gini," balasnya lemah.
"Aku nggak apa-apa, sumpah."
"Kamu gampang bilang kayak gitu. Aku yang khawatirin kamu, Rian!" Aku muak karena dia merasa tidak bersalah karena sudah membuatku menggila melihat kondisinya yang luka seperti ini.
"Kamu ikut aku sekarang. Jangan bilang kamu nggak kuat jalan," kataku pedas. Aku rasa ini kalimat paling sinis yang pernah aku ucapkan ke orang lain—padahal Adrian ini orang spesial buatku.
__ADS_1
Adrian meringis pelan ketika aku seret meninggalkan kantin. Aku tetap dingin menghadapinya—mirip ibu tiri yang pilih kasih. Aku tak membiarkan dia meminta maaf karena ulahnya, yang pertama kali aku lakukan adalah membuatnya sadar aku sangat khawatir kalau sesuatu yang parah terjadi padanya.
"Drea, bisa pelanin sedikit jalannya?" Adrian berjalan dalam susah payah untuk mensejajarkan langkah denganku. Aku berhasil menaiki dua-tiga anak tangga dalam satu langkah yang lebar, sedangkan dia tertatih-tatih sambil bertumpu pada pegangan tangga. Aku tak punya banyak waktu untuk menuntun Adrian berjalan.
"Kamu banyak maunya, Rian. Aku nggak mau tau, jangan pura-pura nggak kuat kayak gitu. Luka kamu makin infeksi kalau kelamaan nggak diobatin," aku mengomel tanpa peduli orang yang juga lalu-lalang menaiki tangga.
Adrian mengerang. Tapi toh, dia menurut juga setelah mendapat tatapan judes dariku.
Setelah itu dia tutup mulut bahkan sampai kami tiba di UKS. Aku menyiapkan air hangat dari dispenser dan mengompres luka lebamnya. Dia meringis kesakitan.
"Kalau kamu tau ujungnya bakal sakit kenapa kamu terusin berantemnya?" kataku dengan fokus yang tidak teralihkan dari lukanya.
"Kamu boleh marah dulu ke aku. Tapi abis itu, giliran aku yang jelasin tapi nggak boleh motong omonganku."
"Aku nggak peduli apa alasan kamu," potongku cepat. Alasan Adrian sama saja dengan pembelaan kalau dia tidak bersalah. Aku benci dengan kekerasan.
Hari itu aku marah sekali. Rasanya baru kemarin aku melihat sisi Adrian yang lembut dan romantis. Aku sama sekali nggak mau melihat sisi Adrian yang garang dan tukang berantem seperti ini. Hilang sudah semua gambaran tentang Adrian yang keren dan penuh pesona setelah aku melihat pertengkarannya dengan adik kelas.
__ADS_1
Apalagi aku terlalu khawatir hal yang buruk akan menimpanya.