Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
17 — anything for you


__ADS_3

"Adrian, aku harus ke lapangan lagi," satu-satunya yang ada di pikiranku adalah kabur darinya. Hawa di sekitarku begitu panas. Belum lagi aku bisa meleleh kapan saja ditatap seperti itu untuk sekian lama.


"Nggak penting Drea," Adrian menanggapi setengah berbisik. "Aku belum selesai ngomong sama kamu."


Aku memikirkan hal lain. Dalam jarak sedekat ini, aku juga bisa mendengar detak jantung Adrian. Rupanya bukan cuma aku yang tergugup. Dia pun begitu, tapi secuil hatiku tak mau jika dia mencari kesempatan.


Atau sebenarnya aku mau, hanya saja dia yang harus memulai langkah pertama.


Jemarinya mulai menelusuri pipiku. Aku seolah berhenti bernapas sekian detik. Bahkan aku tak berani mengangkat wajah. Aku tak sanggup berhadapan dengannya dalam keadaan yang nyaris tak berjarak.


Hingga akhirnya dia menggerakkan pipiku agar aku bisa leluasa menatapnya. Waktu seperti terhenti. Dia dengan keras memikirkan sesuatu. Sedangkan aku? Sepertinya sudah terlalu terlambat untuk mundur.


Tetapi sebelum ia berhasil menimpa bibirnya denganku, sebuah suara mengejutkan kami.


Kriek...


Sontak aku langsung menjauhkan diri. Adrian bangkit dan langsung bersembunyi di kolong ranjang UKS. Derap sepatu mulai mendekat ke arahku. Karena terlalu gugup, aku langsung meraih gelas teh dan meneguknya sampai habis.


Hatiku seperti baru saja disambar petir. Saking kagetnya, aku bisa merasakan darah di tubuhku mengalir lebih cepat.


Belum lagi wajahku yang pasti merah padam.


Orang yang baru saja membuka pintu tau-tau sudah berdiri di sampingku. Ia meneliti wajahku, dan apa yang mungkin saja aku keluhkan. Sampai akhirnya ia menemukan kakiku yang penuh luka.


"Sorry, gue baru dateng," kata seorang perempuan berambut panjang. Aku yakin dia satu angkatan denganku. Anggota PMR yang masih kelas sebelas pasti akan memanggilku dengan sebutan 'kakak'.


Aku masih kesulitan menemukan ritme napas. Sepertinya suaraku akan terdengar begitu gemetar. "Oh? Y-ya nggak masalah kok. Hm, luka gue udh diobatin."


Ia sedikit menunduk mengamati luka yang kuberi plester.


"Oke. Sama siapa? Kayaknya belum ada yang nugas di sini dari pagi?" ia masih memberi tampang penuh selidik. Aku takut dia menyadari ada satu orang lagi di ruangan ini.


"Tadi gue sendiri."


"Syukur deh," dia beranjak ke ujung ruangan. "Muka lo merah. Kepanasan, ya?"


Dia menyalakan kipas dengan kecepatan maksimal. Aku sedikit terbantu dengan bantuannya itu.


"Makasih," kataku masih dengan suara gemetar.

__ADS_1


"Lho? Siapa yang buatin teh buat lo? Kan pantry lumayan jauh dari kasur?"


Aku langsung terpikir Adrian dan keselamatannya. Aku takut cewek yang aku nggak ketahui namanya ini menangkap basah aku dan Adrian.


"Uhuk,"


"Tadi ada temen gue yang buatin," sahutku reflek mengeraskan suara.


Itu suara Adrian yang terbatuk. Hampir saja. Aku nggak salah satu dari kami ketauan berduaan di UKS.


"Oke deh. Gue mau ngecek aja siapa yang lagi istirahat di sini. Soalnya tadi gue liat pintunya kebuka sedikit."


DEG!


"Gue duluan, ya. Lo istirahat aja dulu di sini."


Cewek itu pergi meninggalkan aku yang diserang panik. Gila, dari tadi pintunya terbuka? Bagaimana kalau ada guru yang melihat?


"Adrian!"


Adrian merangkak keluar dari tempat persembunyiannya. Ia terbatuk keras. Tapi aku tak peduli. Aku langsung menyerangnya dengan pertanyaan.


Adrian langsung membekap mulutku. Aku kesulitan bernapas dan meronta-ronta. Tapi aku punya tenaga untuk memberontak hingga dia nampak kesulitan menghadapiku.


"Tenang, Drea."


"Aku nggak bisa napas," aku menatapnya garang. Entah dia bisa menangkap maksudku atau tidak.


"Ssshh, kamu jangan memancing keributan."


"Dari tadi kamu yang mancing keributan. Gimana kamu bisa lupa nutup--"


Aku tak bisa melanjutkan kalimatku. Aku begitu terkejut saat dia melingkarkan tangannya di pundakku. Bukan cuma itu, sebelah tangannya menyangga lekukan kaki dan menggendongku keluar dari UKS.


"Adrian, turunin. Gila! Adrian, ini perintah ratu!"


Untuk beberapa saat aku panik berlebihan. Aku membelalakkan mata melihat aksinya. Dia memang sedikit nggak waras. Buat apa dia menggendongku segala?


"Aku bilang kamu tenang," katanya enteng.

__ADS_1


Selepas itu, dia benar-benar membawaku keluar dari UKS. Dan dengan sedikit kekuatan yang aku miliki, aku berhasil melepaskan cengkramannya. Aku melompat melepaskan diri. Alhasil, saat aku mendarat ke lantai tubuhku terasa terhuyung ke belakang.


Lagi-lagi Adrian menangkapku sebelum aku jatuh lagi untuk yang kedua kalinya hari itu.


Hari itu memang jadi hari yang sial buatku. Tapi yang lebih penting, aku tak bisa menghitung berapa kali aku dibuat melayang karena Adrian. Jelas sekali semua perbuatan itu tidak baik untuk kesehatan jantung.


"Kalian! Ngapain kalian di luar kelas?" sebuah suara dari ujung koridor membentak kami.


Kami menoleh. Pak Gunawan berjalan menghampiri kami dengan sadis. Dalam hati aku menyiapkan jawaban terbaik jika diinterogasi oleh beliau.


"Ada apa ini? Bukannya ini belum jam istirahat?"


"Maaf, Pak. Barusan saya habis dari UKS," kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.


Pak Gunawan meneliti penampilanku dari atas sampai bawah. Beliau pasti bisa maklum karena aku masih mengenakan seragam olahraga, dan luka yang masih ditempeli plester. Masalahnya, Adrian bisa saja jadi sasaran empuk pak Gunawan.


Karena saat itu bukan jadwalnya berolahraga.


"Kamu, ngapain berkeliaran jam segini? Kelas berapa kamu?"


Aku sudah menduganya. Adrian tertangkap basah mengikuti pelajaran olahraga kelasku, walaupun aslinya tak jadi masalah. Tetapi pak Gunawan suka melihat kesalahan kecil menjadi kesalahan yang fatal. Dan tampaknya ia juga berakhiran malang hari ini.


Adrian berusaha membela diri. Salahku karena aku tak bisa membelanya dengan mengatakan dialah yang membantuku. Ia terpaksa diseret untuk menerima hukuman.


"Saya tidak menerima alasan. Ikut saya ke kantor, sekarang!" Pak Gunawan menunjuk ke arah kantor dengan tegas.


Aku menunduk mendengarnya. Rasanya aku nggak sanggup melirik ke arah Adrian yang disalahkan demi aku. Padahal, aku yang jatuh saat bermain basket itu cuma insiden biasa. Lagipula, sebenarnya Adrian membantuku mengobati luka, bukannya keliaran di luar kelas tanpa sebab.


Tapi tentu saja dia kena musibah karena kebetulan dia nggak memakai baju olahraga.


Adrian yang malang. Dia berjalan di belakang pak Gunawan menuju kantor. Aku mengawasinya. Selang beberapa saat dia menoleh ke arahku.


"Jalannya hati-hati," dia mengisyaratkan itu tanpa suara.


Aku mungkin sudah berkaca-kaca karena dia masih memikirkan aku saat terkena masalah. Aku mengawasi langkahnya sampai sosok Adrian yang tinggi semampai menghilang di balik pintu kantor yang ditutup dari dalam.


Siapa yang menuntun aku berjalan ke kelas? Kalau menunggu Erika, pasti lebih lama lagi. Sedangkan aku rasanya ingin segera berganti baju karena kaos olahragaku sangat kotor setelah jatuh tadi.


Dia memang selalu bisa diandalkan. Dia rela berbuat apapun untukku. Aku tau, jatuh cinta memang racun yang membuatmu ingin berdua dengannya sampai lupa waktu. Cinta adalah degup yang kencang saat dia memperlakukan aku layaknya seorang ratu.

__ADS_1


Aku berjalan menuju kelas dengan rasa nyeri yang menjalar di kaki setiap kali aku melangkah. Kalau Adrian tidak dihukum, pasti saat ini aku bisa menyandarkan kepala di pundaknya.


__ADS_2