Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
21 — am i pretty?


__ADS_3

Aku mengetuk pintu kamar Erika dengan tidak sabaran. Setelah sedikit berbasa-basi dengan mama Erika di ruang tamu, aku langsung meluncur ke depan pintu kamarnya. Sepanjang sore tadi aku merangkai kata-kata yang ingin aku tanyakan ke Erika. Karena masalah yang sedang kuhadapi ini mendesak.


Begitu knop pintu terbuka dari dalam, aku menyerbu masuk ke kamarnya tanpa permisi. Aku tak peduli, kami sudah sering mengunjungi rumah satu sama lain. Aku begitu gelisah saat ini, sampai tak membiarkan dia bertanya apa kepentingan seorang Andrea ke rumahnya tiba-tiba.


"Gue butuh bantuan lo," kataku setelah menghempaskan diri ke kasur Erika.


"Gue aja belum nanya ya, ngapain lo nggak ada angin nggak ada ujan dateng ke sini?" tanya Erika sambil berkacak pinggang.


Erika ternyata banyak belajar dariku. Buktinya, dia berhasil memakai kalimat andalanku yang sinis.


"Nggak penting. Sekarang, kasih tau gue. Tell me, what is the best mascara brand?" kataku diburu napas yang tersengal. Sejak tadi aku dibikin pusing dengan semua hal kecil yang memenuhi pikiranku.


"Hah? Seorang Andrea nanya gituan? Lo mau belajar make-up ceritanya?"


Sebenarnya tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Aku hanya memberi alasan singkat. "Ya, gue penasaran. Gue mau beli itu aja tapi gue sendiri nggak tau apa bedanya dari yang lain."


"Aneh. Lo aneh, deh. Sejak kapan lo peduli sama yang kayak gituan?" Erika memindai aku dari kepala sampai ujung kaki, seolah ada yang salah menurut penglihatannya.


"Nggak salah, dong? Anak seumuran kita kan banyak yang udah peduliin penampilan."


Dan aku tidak bohong soal itu. Kemarin, aku menghabiskan waktu berkaca di cermin—mematut diri dengan dress yang berwarna maroon. Kebetulan sekali aku punya warna yang Adrian inginkan.


Jangan tanyakan bagaimana perasaanku saat memakainya. Aku seperti ingin pergi ke acara peresmian perusahaan ketimbang diajak kencan. Kadang aku merasa konyol. Secara tiba-tiba aku langsung tertarik belajar make-up yang lebih menarik—yang tidak sekadar memoles foundation, bedak dan memberi sentuhan merah alami di bibir. Aku mau tau lebih dari sekadar itu.


Entah ini hanya perasaanku yang gugup atau aku tak merasa cocok dengan gaun ini? Terakhir kali aku memakai dress barang kali saat acara ulang tahun—waktu umurku sebelas! Namun, beberapa hal memang harus dipaksakan. Berhubung ini kali pertama selama aku hidup, tidak salah untuk terlihat cantik, kan?


"Bohong. Cepetan ngaku, ini ada apa aslinya?"

__ADS_1


"Adrian ngajakin gue--"


"Wah! Gila, kenapa nggak bilang dari awal!? Hebat banget temen gue bisa digebet sama cowok ganteng."


Erika dengan mudah membongkar niat asliku. Aku tidak berniat berbohong. Karena kalau dia tau, dia pasti akan bereaksi berlebihan.


"Suara lo pelanin dikit bisa, nggak? Ntar nyokap lo denger tau," aku mendelik ke arahnya. Erika langsung membuat gestur mengunci mulut rapat-rapat.


Tapi kegembiraan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Dia sangat bersemangat dengan rencanaku jalan-jalan dengan Adrian. Padahal, harusnya aku yang lebih bersemangat.


Aku penasaran saat dia pertama kali diajak Nando kencan—atau apalah mereka menyebutnya—Erika juga dilanda kebingungan seperti ini?


Karena aku terus memikirkan itu. Bagaimana caranya aku tampil menawan saat Adrian mengajakku pergi? Gaya rambut apa yang cocok buatku? Tak ketinggalan, aku jadi memikirkan wajahku butuh riasan sedemikian rupa agar serasi dengan dress yang akan kupakai.


"Ah, lo nggak usah khawatir, An. Gue bakal kasih tau lo semua cara-cara make-up buat pemula. Kalau sama gue, semua urusan lo beres, An."


Erika tertawa terbahak-bahak karena kalimatku. Perasaan aku nggak ada yang lucu?


"Persis. Waktu Nando ngajak gue jalan pertama kali, gue juga mikirin itu. Gue sampe ganti baju tiga kali karena ngerasa nggak cocok."


"Jadi lo itu tertawa di atas penderitaan orang lain, gitu?" aku memberengut.


Erika berjalan menghampiriku. Ia juga turut duduk di sebelahku, dan tangannya merangkul bahuku.


"Pertama, lo nggak usah terlalu pusing mikirin apa-apa. Lo itu cantik, An. Nggak heran kenapa Adrian langsung suka sama lo dari awal."


Aku senang dipuji seperti itu. Namun, aku tetap gelisah dengan rencana ini. Aku tak punya banyak persiapan. Aku terlalu canggung dan cuek, tidak seperti Erika yang begitu lemah lembut.

__ADS_1


"Gue takut gue nggak bisa jadi diri gue sendiri di hadapan Adrian," akhirnya aku berani mengutarakan hal yang aku takuti.


Sekali lagi, aku merasa kurang nyaman dalam balutan dress. Warna marun agaknya punya efek tertentu yang seakan membuat mataku sakit saat melihatnya. Hitam dan biru navy lebih cocok disandingkan dengan seleraku. Tapi aku begitu menurut dengan permintaan Adrian.


"Iya, gue tau. Lo nggak mau ngerubah gaya lo demi Adrian biar dia makin terpesona sama lo. Sekarang, keputusannya tetap sama lo, entah lo mau pakai baju yang model apa. Di mata dia lo tetap berharga."


"Justru itu. Kayaknya, gue harus pake dress bagus kayak yang dia mau. Tapi, gimana kalau dia ngeliat gue aneh?"


"Lo terlalu banyak takutnya, An."


"Karena ini pertama kalinya buat gue?"


"Sebentar, kayaknya lo lupa. Gue di sini siap bantuin lo."


Aku tersenyum haru. Meskipun kadang aku cemburu sejak dia pacaran dengan Nando, dia tetap sahabatku yang paling baik.


"Gue mau rambut gue juga dicatok kayak lo, Er. Gue mau nyoba sesuatu yang beda," kataku dengan yakin.


"Lo berubah buat diri lo sendiri atau Adrian?"


Jeda panjang sebelum aku menjawab. Dalam beberapa kesempatan dalam hidup, aku merasa penting untuk mendengar pendapat orang lain tentangku. Tentu saja Adrian yang kumaksud orang lain di sini. Aku mau membuat dia terpukau denganku.


Dan ini kesempatan bagiku untuk menunjukkan sisi lain yang belum pernah dia lihat dariku. Aku bisa menjadi keduanya—cewek cuek yang suka sinis saat bicara dan cewek yang tak pernah luput dari perhatiannya karena gaun yang dipakai. Aku ingin memastikan matanya menatapku lekat-lekat, antara kagum dan takjub karena aku ini ratunya.


Tapi, toh kujawab lain. "Buat gue. Kalau misalnya nanti dia nggak suka, gue nggak peduli. Gue cuma merasa harus berbuat sesuatu demi merasa cantik, bukan karena orang lain."


Erika berseru semangat, "Sekalian gue pakein tangan lo kutek ya, biar cantik."

__ADS_1


Aku beruntung karena aku tidak menghadapi masa remajaku sendirian. Aku punya Erika sebagai teman bahkan merangkap juga sebagai saudara yang tidak pernah kupunya. Ditambah dengan kehadiran Adrian. Duniaku jungkir balik semenjak aku menyukainya, dan dia menjadi alasan bagiku untuk semangat berangkat ke sekolah. Saat itu, aku merasa masa SMA-ku lengkap.


__ADS_2