Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
14 — confuse things


__ADS_3

Kami memutuskan untuk segera pulang. Sudah jelas rencana kami adalah rencana yang nggak dipikirkan secara matang. Tidak ada satupun yang menyenangkan dari double date ini.


Aku mengemasi barang-barang Erika yang masih tergeletak di meja. Nando menyusul Erika ke toilet, sedangkan aku langsung ditarik Adrian turun tangga menuju parkiran kafe.


Insiden tadi seakan menghantam kepalaku. Aku merasa bersalah, tapi aku nggak diizinkan Erika membantunya. Situasi menjadi berbalik sekarang. Sepulang sekolah tadi aku yang kesal padanya. Sekarang, dia yang diam-diam kesal padaku.


Adrian mengusap pundakku pelan. Aku tidak tertarik memandang wajahnya untuk saat ini.


"Kenapa, Drea?"


Aku menggeleng. Aku membuang pandangan ke arah lain sehingga dia tidak leluasa menatapku.


"Kafe yang di sini kurang enak, ya? Kayaknya gue harus nyari tempat lain kapan-kapan," katanya tanpa tau kalau itu membuat mood-ku semakin hancur. Aku nggak peduli tentang kafe dan menu makanannya. Aku benci dengan rencana double date ini.


"Ya, terus kenapa?"


"Gue kan udah bilang nggak kenapa-napa," balasku singkat. Rasanya aku ingin mengatakan padanya aku ini sedang dalam mode hemat bicara.


Adrian terkekeh, ciri khasnya untuk menanggapi ucapanku. "Biarpun lo lemes begitu, nada sinis lo tetep aja nggak ilang, ya. Gue pikir sekali aja lo bisa lemah lembut."


Kali ini aku baru tertarik menoleh padanya. Kerutan di ujung matanya muncul ketika tertawa. Dia juga balas menatapku, alisnya dinaikkan.


Adrian sudah gila. Lalu, maksudnya barusan itu apa? Dia mau pamer ke Erika dan Nando soal hubungan kami yang sudah naik level? Dia merasa hebat karena sudah memulai langkah sejauh ini?

__ADS_1


Tapi kenapa dia mengganti lagi sapaan kami seperti baru pertama kenal?


"Kenapa natap gue kayak gitu?"


"Coba ulang," aku melipat tanganku di dada. "Coba ngomong apa barusan?"


"Ngapain? Bagian mana, ya? Gue juga lupa," balasnya dengan nada jenaka. Dia pikir dia lucu saat bertingkah pura-pura bodoh seperti ini.


"Adrian. Ngomong apa barusan?"


Aku tak habis pikir. Di kafe tadi, dia mengganti sapaan kami! Sekarang kenapa dia ngomong denganku seperti sedia kala?


"Gue nggak ngerti maksud lo, Adrian," aku dari mana datangnya keberanian ini. Aku akhirnya menyerangnya. "Gue pikir gue spesial, Yan. Lo punya panggilan khusus buat gue. Lo ngajak gue ke rooftop belakangan ini."


"Kayaknya lo emang beneran lagi sakit," Adrian hendak menarik tanganku, tapi aku berhasil bertahan di tempat.


"Gue nggak ngerti lo topik lo ini mengarah ke mana, Drea?"


"Tentang lo, Adrian! Lo yang bikin gue kesel setengah mati. Kenapa dari tadi lo nggak nyadar gue lagi kecewa sama lo?" tanpa sadar aku membentak Adrian di tempat umum. Tapi setidaknya, suaraku nggak membangkitkan rasa penasaran pengunjung lain.


Aku marah sekali, apalagi dengan sikapnya yang seolah tarik-ulur.


"Gue sendiri nggak ngerti. Coba kasih tau gue, salah gue di mana?" Adrian terdengar nggak sabaran menghadapiku yang tiba-tiba marah seperti ini. Dia sedikit berusaha menenangkan diri supaya dia tak ikut menjadi api yang bisa membesar-besarkan masalah.

__ADS_1


"Lo bikin gue seneng, Yan. Tapi cuma setengah! Maksud lo apa ngeganti jadi 'aku-kamu' tadi? Sekarang lo beda lagi!" aku menormalkan suaraku. Walaupun sebenarnya usaha yang sia-sia karena bagaimana pun suaraku tetap sinis.


"Oh, lo marah karena itu, Drea? Itu kan masalah kecil. Nggak usah dipikirin yang kayak gitu."


"Masalah kecil lo bilang?" aku menajamkan tatapanku padanya. "Justru yang sepele itu banyak mengartikan sesuatu, Adrian. Itu nunjukkin kalau lo emang bener-bener suka sama gue!"


"Drea, denger ya. Nggak usah ngeraguin gue. Dari awal aja gue udah tertarik sama lo," suara Adrian melembut. Ia meraih kedua tanganku, dan berniat membawanya ke belakang lehernya.


Dengan cepat aku menepisnya.


"Nggak tau, deh. Gue harus nenangin diri dulu," aku berhasil menemukan kata yang halus untuk menolak.


"Tapi lo tau kan, gue nggak berniat bikin lo sedih kayak gini," Adrian sedikit menunduk, matanya menatapku lekat-lekat.


Aku mengalihkan wajahku. "Terlambat. Tapi, gue mohon lo nggak plin-plan kayak gini."


"Gue bisa ngeusahain itu buat lo, Drea."


"Lo tau nggak? Gue nggak mau salah tangkap sama semua sikap-sikap lo ke gue, Yan," pipiku memanas, bukan jenis yang memanas setelah dia berkata manis padaku. Mungkin aku terlalu naif mengeluarkan amarahku. Dadaku sedikit sesak.


"Tapi gue nggak main-main sama lo, Drea."


"Kalau gitu, coba selalu cari cara biar lo bisa deket sama gue," kataku tegas. "Gue harus jujur, double date kayak gini itu udah basi, tau nggak!?"

__ADS_1


Dan setelahnya aku meninggalkan dia lebih dulu. Adrian sepertinya sedang mencerna apa saja yang aku inginkan darinya.


Yah, ini kali pertamaku terjebak di hubungan. Aku banyak mendengarnya dari orang-orang. Sekarang aku mengerti mengapa masa-masa awal memang nggak pernah stabil. Tapi, bukan salahku menuntut yang seperti itu ke Adrian, kan?


__ADS_2