
Ketimbang merangkum satu bab sosiologi pada jam pelajaran pertama, aku memilih menidurkan kepala di meja. Aku tidak berminat membaca walau satu paragraf. Semangatku meluap entah kemana. Senin pagi memang selalu jadi musuh besarku.
"Lo sakit, An?" Erika mengguncang pundakku kasar.
"Ganggu tau, nggak?"
"Ya dari tadi lo diem aja. Pasti ada yang nggak beres sama lo."
"Iya. Harusnya gue duduk di tempat lain biar nggak diganggu sama lo," aku membalas pedas.
"Kayaknya gue tau kenapa," nada suaranya berubah menjadi lebih centil.
"Lo bukan nyokap gue, nggak usah sok tau."
Erika bersikeras mengganggu. Kalau boleh aku ingin menyumpal mulutku dengan segumpal tisu supaya aku bisa tidur tenang tanpa diinterupsi suaranya.
"Tapi gue temen lo," Erika menarik bangkunya ke depan dan berbisik di telingaku. "Gue tau kenapa lo jadi hopeless kayak gini."
Aku memejamkan mata. Erika pasti bisa menilai segala situasi.
__ADS_1
"Berisik. Gue lagi mau sendiri, Er."
"Asal lo tau, dia anak sini juga."
Sontak aku menegakkan tubuh. Rasa malas dan kantuk yang hinggap musnah dalam waktu singkat. Barusan Erika bilang apa?
"Apa!?"
"Kelas XII IPS 3. Gue siap nganterin kalo lo mau ke sana."
"Lo tau dari mana, Er?"
Oh ya. Aku ingat saat Adrian bilang dia temannya Nando saat aku kembali mengambil gelas soda.
"Jadi selama ini gue satu sekolahan sama dia? Dan gue malah nggak kenal sama temen seangkatan sendiri?"
"Lagian lo terlalu cuek untuk mau kenalan sama orang-orang, An."
Aku langsung membela diri, "nggak. Gue nggak begitu pas kenalan sama dia."
__ADS_1
"Adrian itu pengecualian. Lo nggak suka pesta, dan kebetulan ada Adrian juga di sana. Begitu dia ngajak lo ke rooftop, lo langsung tergila-gila sama orang yang nyelamatin lo dari situasi yang nggak lo suka."
Aku terduduk lemas. Aku baru saja mencerna informasi yang efeknya membuatku makin kalang kabut. Aku dan Adrian ternyata satu sekolah? Oke, aku makin memikirkan apa yang mungkin terjadi ke depan.
Mungkin ia akan menjemputku ke kelas dan menunggu kedatanganku di lobi setiap harinya. Atau mencuri pandang ke arahku saat pelajaran olahraga.
Aku tersadar aku benar-benar gila memikirkan kemungkinan sejauh itu. Tapi jujur, hatiku bilang aku mau semua itu terjadi.
"Mungkin nggak, Er? Mungkin nggak kita bisa bareng?"
"Gue yakin lo bukan satu-satunya orang yang jatuh cinta kemarim malam, An."
Aku harap itu benar, jadi--
"Emang menurut lo dia punya perasaan ke gue?" aku butuh merasa diyakinkan.
"Ya iyalah!"
Aku mengulum senyum. Aku menarik pundak Erika merapat padaku. Di tengah pelukan itu, aku membisikkan terima kasih.
__ADS_1
Erika balas memelukku bahkan lebih hangat. Aku butuh dukungan dari orang sepertinya, yang bisa garang dan juga lembut. Mungkin dia satu-satunya orang yang paling bersemangat saat mendapatiku jalan bersama cowok. Karena aku pernah mengaku padanya, aku tidak pernah disinggahi cinta di masa remajaku.