Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
20 — i love you for the way you are


__ADS_3

Adrian meletakkan sepiring somay ke hadapanku. Aku yang awalnya sedang sibuk berselancar dengan ponselku langsung mendongak. Sejauh yang kukenal, dia memang selalu tampil keren dengan tambahan outer seperti jaket jeans ataupun hoodie warna gelap. Aku memerhatikan penampilannya lekat-lekat sebelum tersenyum.


Aku tak pernah menduga kehadiran Adrian bisa menjadi percikan api yang membuatku lebih semangat datang ke sekolah. Buatku setiap hari sama saja, bahkan kadang-kadang ada peristiwa yang bikin jengkel. Malamnya aku hanya berkutat dengan buku dan ponsel untuk curhat tentang apa saja dengan Erika (kecuali cowok sebelum ketemu Adrian). Dan kini, aku melihat diriku di cermin sebagai seseorang yang gampang sekali senyum.


Karena sekarang hari-hariku bukan hanya tentang sekolah. Aku juga memikirkan Adrian, dan kejutan apa yang mungkin diberikannya esok hari. Sejak awal, aku suka padanya karena dia memberi sinyal yang jelas buatku. Aku dan Adrian saling tertarik satu sama lain. Dia menegaskan dia mau bersama-sama denganku di rooftop. Dan sebagai cewek, pastinya aku punya firasat. Ajakannya itu tidak murni untuk pengusir rasa bosan. Adrian punya perasaan khusus padaku bahkan sejak malam kami bertemu di pesta.


Dan aku sempat menahan diri untuk tidak tertarik padanya, walaupun akhirnya aku gagal.


Adrian pernah bilang, dia suka cara bicaraku yang sinis. Sebenarnya itu bukan pujian. Erika juga sering menghinaku dengan kalimat yang sama. Tapi kalau Adrian yang mengatakannya, itu lain cerita. Dia sama sekali nggak keberatan dengan itu.


"I love you for the way you are," kata Adrian suatu ketika dia mengantarku pulang di suatu sore yang cerah. Dia memerhatikan aku lama dari kaca spion. Tapi aku baru sadar saat mengurai pelukan dengannya.


"Basi. Kamu tau kalimat itu dari film, kan? Terus kamu ngomong kayak gitu lagi ke aku," tanpa ba-bi-bu aku menuduhnya.


"Kayaknya bakal aneh kalau sehari kamu nggak ngomong sinis kayak gitu," balasnya tanpa rasa tersinggung. Dia tersenyum begitu lebar, sampai-sampai matanya menyipit.


"Iya, terus aja sindir aku terus," aku berniat memasang tampang marah. Tapi Adrian sudah tau gelagat khasku.


"Kamu lucu kalo lagi ngambek gitu," katanya tanpa memikirkan bagaimana responku mendengarnya. Aku suka semua gayanya—baik itu penampilannya saat di sekolah ataupun di luar hingga caranya berbicara.


Menenangkan. Belum lagi kalau suaranya itu dipadukan dengan kata-kata manis yang memiliki racun.


"Ya, udah. Aku mau turun di sini aja."


"Tuh kan, mulai lagi. Jangan gitu ya, Ratu. Tapi kalau mau ngambek juga nggak masalah sih, soalnya mau kayak gimana pun kondisinya kamu selalu cantik."


"Itu beneran kamu yang ngomong? Kayaknya ini bukan Adrian yang aku kenal, deh. Kamu apain Adrian yang asli?"


"Ngapain juga kamu nyariin Adrian yang asli?"


"Jelas banget ini bukan Adrian yang asli, orang gombalannya beda!"


"Aku kan, nggak kemana-mana. Adrian cuma ada di hati kamu, Yang Mulia."


"Adrian, berhenti gombal yang kayak gitu."


"Maaf, Ratu. Untuk permintaan yang itu nggak bisa dilaksanakan."

__ADS_1


"Kalau perintah yang satu ini bisa, nggak?" aku melirik ke arah spion—memberinya isyarat untuk mendengarku.


"Sebutkan saja, Yang Mulia."


"Jangan pernah berhenti jadi alasanku tertawa ya, Adrian."


Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Adrian sudah menarik tanganku untuk kembali memeluknya. Aku tak melawan, dan membiarkan kehangatan menjalari tubuhku.


Saat perjalanan pulang, aku tak peduli dengan apapun. Biasanya aku akan terpikat dengan pantulan cahaya matahari yang memantul di logo-logo restoran cepat saji. Semuanya tampak keemasan dan indah. Tapi sepertinya semenjak aku sering menghabiskan waktu dengan Adrian, aku jarang lagi menikmati momen sebelum matahari terbenam. Bukan berarti aku berhenti terpesona dengan cahayanya yang kemerahan. Aku hanya benci karena senja menjadi lambang hariku akan segera berakhir. Begitu juga dengan momen yang kuiisi bersama Adrian.


Aku harus menunggu esok hari untuk bertemu lagi dengannya. Aku bisa saja mengucapkan ini berkali-kali hingga membuatmu bosan. Tapi selamanya, aku akan terpikat dengan Adrian. Aku akan terus menulis di bab-bab selanjutnya.


"Drea? Kok ngelamun?" kata Adrian sambil menjentikkan jari tepat di depan wajahku.


Aku terkesiap. Berapa lama aku melamun?


"Kamu pasti mau bilang aku ganteng banget hari ini."


Hah? Dari tadi aku melamun karena kehadiran dia? Wajahku pasti sudah merah padam karena malu.


Hari ini aku belajar satu hal berharga. Jangan pernah melamun hanya karena cowok yang kau suka berpenampilan sangat keren.


"Bagus, dong," dia menyuapkan sepotong somay buatku.


Aku memandangnya aneh sebelum menerima suapan itu. "Kenapa?"


"Ya, bagus aja. Kamu menerima aku apa adanya. Walaupun aku narsis, terlalu pede, suka gombal," kata Adrian yang entah kenapa justru terdengar sedih.


Makanan yang sedang dikunyah terasa hambar seketika. "Lho? Kok kamu jadi ngerendah gitu?"


"Kamu sadar nggak, Drea? Kamu itu cantik banget. Aku seneng nggak butuh waktu yang lama kamu mau balas perasaan aku," saat mengatakan ini ia sama sekali tidak melihatku seperti biasanya. Dia jadi fokus mengaduk-ngaduk makan siangnya.


Aku sendiri heran kenapa topik pembicaraan menjadi serius seperti ini. Tidak biasanya dia kehilangan semangat.


"Kok kita jadi bahas ini, sih?"


"Kamu harus tau, kadang aku merasa nggak pantas tiap di samping kamu."

__ADS_1


"Justru aku yang berpikiran kayak gitu," aku mencoba mencairkan suasana yang mendadak gerah seperti ini.


"Kamu nggak ngerti, Drea." Adrian menangkup tanganku yang kusimpan di atas meja. "Makasih banyak udah mau ngeluangin waktu kamu yang berharga buat aku."


"Adrian? Nggak perlu gitu. Kamu ini lagi kenapa sih, sekarang? Aku selalu seneng kok tiap kali kamu ngajak aku ke rooftop."


"Tapi itu nggak cukup, Drea," katanya sambil menatapku datar. Aura Adrian yang selalu keren itu sepertinya sedang meredup untuk beberapa saat hanya karena dia merasa tak cukup baik untukku.


"Kamu nggak udah khawatir. Selama ada kamu, aku udah seneng. Kamu yang jadi alasan aku bahagia."


"Aku punya rencana ngajakin kamu ke suatu tempat," ujar Adrian sambil mengeratkan jemari tanganku padanya.


"Selama itu diajak sama kamu, aku pasti mau."


"Aku punya satu syarat yang harus kamu ikuti," katanya dengan sedikit mengancam.


Kadang pikiran buruk langsung menguasai kepalaku. Aku berpikir sesuatu yang ia perintahkan ada hubungannya dengan aku yang sering sekali meremehkan Adrian. Aku memang harus belajar untuk tidak terlalu sinis, terutama dengan orang terdekat.


"Oke. Aku pasti bisa ikutin syarat yang kamu buat," aku memberikan senyuman terbaik untuk menenangkan hatinya.


"Aku mau kamu datang sama aku. Kita harus pakai warna baju yang sama. Jadi tolong, siapin baju kamu yang warnanya merah marun," perintah Adrian dengan nada serius.


Aku sedikit lega karena syaratnya bukan sesuatu yang memberatkan. Aku pasti punya dress yang berwarna merah marun, walaupun tidak pernah dipakai semenjak aku membelinya.


Aku tidak tau kemana aku akan diajak pergi. Tapi aku punya gambaran, sepertinya ini tempat yang spesial menurutnya. Aku setuju saja dengan syarat tersebut.


"Oke, Drea. Aku seneng kamu langsung paham. Sekarang kamu lanjut lagi makannya."


"Maaf repotin kamu, ya?"


"Maaf juga. Aku jadi nyuri waktu kamu sama Erika, deh."


Ah, itu sama sekali bukan masalah. Pada akhirnya, aku bisa balas dendam dengannya. Erika harus tau bagaimana rasanya ditinggal sendirian di ruang pesta yang tidak ingin aku datangi. Tidak setiap hari aku bisa menghabiskan jam istirahat bersama Adrian. Biasanya dia sibuk bermain futsal dengan tim kelasnya. Suatu anugrah aku bisa melihatnya di jam seperti ini, karena aku baru bisa melihatnya begitu sekolah usai.


"Dia pasti bisa ngerti, kok. Kamu tau sendiri gimana Erika pernah ninggalin aku di pestanya Nando."


Adrian hanya tertawa menanggapinya. Ia kembali menyuapiku sampai piringku tak bersisa.

__ADS_1


"Kamu lucu."


"Iya, aku tau." dan detik itu aku langsung teringat dengan kata-kata yang pernah diucapkan padaku. "I love you for the way you are."


__ADS_2