
"Gue punya kabar baik buat lo," seru Erika dari berlari ke arahku. Aku reflek menoleh ke arah kedatangannya, berharap ada satu kabar yang bakal membuatku kegirangan.
Koridor telah menyepi. Setidaknya sudah hampir setengah jam dari waktu pulang sekolah. Tapi aku masih duduk di bangku depan kelas karena Erika memintaku menunggu. Sekarang, apa pun yang dia bicarakan dengan Nando, aku harap ada sangkut pautnya dengan Adrian.
"Tadi lo ketemu Adrian?"
Erika menggeleng, alisnya membentuk kerutan. "Kenapa lo bisa mikir gue ketemu sama Adrian juga?"
"Yah, penonton kecewa."
"Nggak usah cemberut gitu. Gue dikasih ini dari Nando, katanya suruh kasih ke lo," Erika menarik paksa tanganku. Dia menyelipkan segulung kertas lusuh padaku, yang aku yakini isinya dari Adrian.
"Dari Adrian, bukan?"
"Iya, tadi dia nitip ke Nando. Buruan dibaca. Gue juga mau tau dia ngomong apa ke lo."
Aku membukanya. Tulisannya acak-acakan, tapi bukan soal selama Adrian-lah yang menulisnya.
Gue tunggu di rooftop sekolah.
Singkat, padat, dan jelas. Erika mencak-mencak dan berkomentar pedas. Katanya bukan begitu cara mengajak cewek PDKT-an.
Buatku, aku senang di skala nomor sepuluh. Rooftop, tempat yang bersejarah buat kami. Ternyata aku tidak butuh menunggu lebih lama karena dia pun segera mengajakku bertemu, di tempat yang sama pula.
"Kenapa sih demen banget di rooftop kalian?"
"Tempat pertama yang kita datangi bareng," Aku dengan sabar menjelaskan, dan hanya butuh hitungan detik untuk mengulang semua adegan di kepalaku. Kalau saja waktu bisa berjalan lebih lambat saat Adrian menggenggam tanganku, atau saat kami berbaring bersebelahan tetapi mulut kami terkunci.
Sederhana, tapi aku mau mengulangnya.
"Lo harus ngasih credit ucapan terimah kasih ke Nando karena lo berdua ketemu di pestanya," Erika menyombong.
"Gue tebak abis ini lo bakal ngomong 'untung aja gue ngajak Andrea ke pesta pacar gue'. Ya kan?"
"Udahlah, nggak penting. Pergi ke sana, cepetan. Nggak pake lama."
"Tapi, Er. Kalo dia jadi orang yang beda pas di sekolah gimana?" ketakutan menyelinap ke hatiku kalau saja dia menjadi sosok yang berbeda. Aku takut Adrian yang kutemui di pesta hanya eksis malam itu saja.
"Lo banyak khawatirnya, An. Dia aja nggak mikir dua kali biar bisa ketemu sama lo, nggak peduli lo bakal excited kayak kemarin atau nggak. Sekarang, samperin Adrian. Nggak boleh segala ragu-ragu kayak gini."
Aku mencarat saran Erika di kepala. Erika sekali lagi meyakinkanku semua baik-baik saja. Aku beranjak dari tempat duduk perasaan yang campur aduk, takut dan juga excited.
Di tangga terakhir menuju rooftop, aku bisa melihat sosoknya dari belakang. Dia memakai jaket bahan jeans yang dipenuhi banyak badge dan stiker yang tidak bisa kulihat apa. Belum lagi rambutnya berantakan. Aku akan bilang lagi, mendefinisikan Adrian hanya butuh dua kata, cool and badass.
__ADS_1
Mungkin dari derap langkah sepatuku, dia langsung tau ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Dia langsung menoleh dan menampakkan senyuman lebar begitu mendapatiku datang ke sini. Aku butuh menormalkan deru napasku sebelum membalas senyumnya dengan canggung.
"Hai, Drea."
Aku sempat bingung menyapanya, "hai lagi."
"Lo baca tulisan gue?"
Aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlalu girang mendapat surat darinya. Jadi aku hanya merespon singkat dengan isyarat mata.
"Makasih udah mau nyamperin gue,"
"Jangan ge-er gitu. Kebetulan gue belum pulang pas nerima kertas lo."
"Tapi lo suka, kan?"
Gila. Gimana caranya dia bisa tau?
"Cara lo kuno. Kayaknya lo lupa ya, sekarang ini lo hidup di abad duapuluh satu?" bukan aku kalau tidak membalas dengan sinis.
Adrian nampak teringat dengan sesuatu. Dia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya lantas menyerahkannya ke hadapanku.
"Gue mau minta nomor langsung dari orangnya, nggak ada perantara orang lain."
"Karena gue pikir cara ini lebih gentle?"
"Yes, you are. Lo memang gentle di mata gue, Adrian," aku membatin. Aku senang mendengar katanya yang manis. Aku harap dia benar-benar serius waktu mengatakan itu.
"Lo bisa ngarang banyak alasan, ya." aku mengatakan sebaliknya dari yang ada di pikiranku.
"Nggak apa-apa kan, gue minta nomor lo?"
Aku langsung mengetikkan nomorku. Dalam hati, aku histeris. Seharusnya dia nggak perlu minta izin. Aku sama sekali nggak keberatan kalau dia meminta nomorku!
"Gue selama ini nggak nyadar kita satu sekolahan loh. Gue kira kita bakal susah ketemu. Tapi ternyata, semesta ngatur kita jadi sedekat ini."
Pipiku pasti sudah memerah saat ini.
"Gue juga nggak sadar. But I'm glad to know you."
"Nggak. Gue yang bersyukur kenal sama lo," dia menurunkan nada suaranya. "Drea, lo cantik. Gue mau lo percaya gue orang baik, tapi sayangnya gue egois."
Aku tidak mengerti maksud kalimat terakhir.
__ADS_1
Dia maju selangkah lebih dekat ke arahku. Dia sedikit menunduk agar bisa berbisik ke telingaku.
"Jadi?"
"Maksud lo apa, Adrian?"
"Gue egois. Lo harus bisa ngadepin itu. Gue tau semuanya kerasa singkat banget. Tapi dari yang singkat itu, gue tau satu hal, Drea."
"Kalau lo juga mulai suka mandangin bintang?"
Sejujurnya, aku tak nyaman dengan percakapan ini. Semua katanya begitu ambigu. Jelas aku tidak ingin salah mengartikan.
Adrian terkekeh sinis, "apa omongan gue belum jelas?"
"Gue nggak ngerti kata-kata lo itu mengarah kemana?"
"Iya, Drea! Gue mau mandangin langit sampai subuh sama lo! Tapi lo tau apa? Gue mau cuma gue seorang yang ada di posisi itu." suaranya naik satu oktaf. Aku sedikit ketakutan, tapi aku mulai bisa menyambungkan benang merah dari semua kalimatnya barusan.
"Iya, Adrian. Sikap lo itu emang egois. Bahkan gue yang baru kenal sama lo bisa nyimpulin itu," di tengah keterkejutan itu, aku hanya bisa merespon demikian. Adrian memulai langkah pertama. Dan lagi, pikiranku berantakan. Aku bingung harus menunjukkan reaksi yang seperti apa.
"Jadi apa jawaban lo, Drea?"
Ya Tuhan, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Lidahku terasa kelu. Ini semua salahnya. Dia tidak boleh menyebut namaku terus-menerus setiap akhir kalimat. Aku seperti kehilangan pijakan. Aku bisa meleleh kapan saja.
"Gue--"
"Bentar, gue mau perjelas lagi. Gue mau sama lo di setiap kondisi, Drea. Nggak cuma saat lo butuh ditemenin setiap malamnya. Gue nyaman sama lo, Drea."
"Pertama, bisa berhenti manggil gue pakai nama kayak gitu?" Aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk merangkai kata-kata.
"Lo nggak suka?"
"Gue makin terpesona sama lo tiap lo manggil gue dengan sebutan itu, Adrian! Lo harus tau!"
Senyum mulai merekah di wajahnya.
"Dan iya, gue juga mau ikutan jadi egois! Berkat lo, gue juga bakal jadi orang yang egois. Sekarang lo tau jawaban gue," kataku dengan keyakinan penuh.
Tanpa permisi, Adrian menangkup wajaku dengan kedua tangannya. Ia menatapku tanpa henti, menghilangkan rasa ragu yang awalnya sempat kurasakan. Akhirnya, aku terang-terangan menatapnya juga. Kami saling jatuh di lautan ketenangan.
Aku sudah menilai Adrian dengan nilai sempurna. Semua sikapnya padaku, dan tatapannya, tidak berefek apapun kecuali debaran di jantungku. Aku begitu mudah terbuai padanya.
Sesuatu yang kelak begitu aku sesali karena tidak berpikir panjang.
__ADS_1