
"Andrea, bentar dulu. Lo mau pulang sekarang?" tanya Erika yang melihatku buru-buru merapikan barang-barangku yang berserakan di meja. Mungkin karena aku terlalu bersemangat, aku asal saja memasukkan buku-buku ke ransel. Alhasil, bentuk ranselku jadi tak beraturan. Lebih gembung dibanding tadi pagi begitu sampai di sekolah.
"Iya. Lo kapan? Udah janjian sama Nando di parkiran, kan?" balasku tanpa menoleh sedikitpun padanya. Aku tidak ingin diganggu karena terlalu gegabah saat ini. Tapi aku kesulitan memasukkan buku binder yang terakhir. Aku nggak bisa menyelipkannya di sudut ransel.
Aku merasakan tatapan Erika yang prihatin dengan usaha kerasku. Dia temanku yang mengutamakan kerapihan. Dan, sifatnya keibuan. Dari tatapan itu bisa saja dia gatal sekali ingin mengatakan, "kalau ngerjain sesuatu itu yang sabar."
"Sini deh, gue bantu!" Erika turun tangan merapikan isi ranselku yang acak-acakan. Dalam hati aku lega karena dia peka aku nggak bisa serapi itu saat merapikan barang.
"Makasih. Lo emang perhatian banget deh, jadi orang."
"Giliran yang kayak gini sinis lo ilang. Tapi nggak lama bakal kambuh lagi."
Aku menyengir merasa tak bersalah.
"Kan gue nggak bermaksud jahat sama lo, Er."
Erika menggumam tidak jelas. "Sebenernya ada yang mau gue omongin sama lo, An. Dengerin dulu ya?"
Tidak biasanya dia serius seperti ini. Aku kalimat yang mungkin saja ingin dia bicarakan.
"Lo mau minta gue nemenin lo ke apartemen Nando lagi?" aku langsung teringat ini. Ini jenis bantuan yang paling Erika inginkan selama aku kenal dengannya. Dia bisa memohon padaku tanpa henti sampai akhirnya aku menyerah.
"Bukan itu, kok!" Erika menggeleng cepat. "Jangan salah paham dulu. Jadi gue mau--"
Pintu kelas didobrak. Sontak aku dan Erika menoleh ke sumber suara. Aku menyipitkan mata begitu tau siapa pelakunya.
__ADS_1
"Adrian?" aku berseru, entah kesenangan atau bingung sendiri. Karena dia bukan satu-satunya orang yang kulihat. Ada juga Nando di sebelahnya.
"Nando!" Erika meringis. Dia melayangkan isyarat yang aku nggak mengerti. Nando seolah masa bodo 'diceramahi' Erika.
Aku berpaling lagi mengamati Nando. Dia dengan hoodie hitamnya yang entah bertuliskan apa. Sempurna. Sudah seperti kelebihannya karena bisa terlihat keren kapan saja.
Tapi, dia juga mengirim sinyal ke Erika. Adrian tersenyum penuh kemenangan, sementara Erika mendelik ke arahnya sebagai respon.
Aku bisa merasakan ada sesuatu di antara mereka. Mereka bertiga saling memandang satu sama lain, hanya aku yang tidak tahu apa-apa soal kedatangan mereka berdua. Mereka seperti merencanakan sesuatu dengan tetapi aku nggak terlibat di rencana itu.
Aku memandang Erika untuk meminta jawaban.
Erika mendengus sebelum menjawabku. "Kejutan sedikit. Jadi gue punya rencana."
"Rencana apa? Kok lo nggak ngasih tau gue?" aku langsung mencecarnya dengan ganas.
"Langsung aja apanya? Nggak ngerti. Gitu ya, sekarang lo mainnya di belakang."
"Eh, nggak yang aneh-aneh kok. Ini kita bertiga ngerencanain mau double date. Spontan aja biar nggak jadi wacana gitu. Adrian baru bilang ke gue pas pelajaran terakhir kok," jelas Erika. Dia tau sekali bagaimana meredam kekesalanku.
"Hah?" aku masih merasa seperti domba yang tersesat. "Adrian? Kenapa nggak ngasih tau ke gue dulu?"
"Surprise. Lo nggak nyangka, kan?"
"Jadi kita nggak bakal ke rooftop hari ini?" aku nggak bisa nggak kecewa menanyakan hal ini.
__ADS_1
"Kan masih ada hari lain. Sekarang kita hang out berempat. Seru kan, Drea?"
Aku tak menyahut. Harusnya dia bisa memberi tau rencananya juga padaku. Aku sedikit sedih karena Erika dan Nando bakal 'mengganggu' waktu yang kupunya bersama Nando.
"Eh? Sejak kapan lo manggil dia pake 'Drea'?" sambar Erika sedikit galak.
"Nggak penting. Ayo, kita langsung cabut."
Mereka bertiga sangat bersemangat. Erika beranjak lebih dulu meninggalkan aku yang masih terduduk. Aku membuang napas kasar. Kenapa hal sepele seperti ini bisa membuatku mood-ku hancur?
Saat menuju parkiran, aku membiarkan mereka jalan lebih dulu. Aku melihat mereka dari belakang—Erika yang bergandengan dengan Nando dan Adrian yang heboh membicarakan kafe yang akan kami datangi.
Aku melipat tangan di dada. Padahal siang tadi saat aku suntuk dengan pelajaran, aku membayangkan kejutan apa yang mungkin Adrian bawakan saat kami di rooftop. Yah, manusia memang nggak selalu dapat yang mereka mau. Terkadang kita ditakdirkan merasa kecewa. Aku memberengut menyadari aku tertinggal jauh dari mereka. Tapi satu pun dari mereka nggak memanggilku.
Aku melewati Erika dan Nando yang tertawa entah karena apa. Mereka sudah siap meninggalkan parkiran. Sedangkan aku baru mendekati Adrian yang tidak banyak bicara denganku sejak tadi.
"Silakan pakai helm dulu, Ratu," katanya sambil tersenyum. Dua hari kemarin aku bisa menikmati senyumnya itu. Sekarang aku agak terpaksa menanggapinya.
Aku mencibir mendengar panggilan itu.
"Eh, iya lupa. Sini gue yang pasangin," Adrian menyela. Dia mengambil lagi helm itu dari tanganku. "Siap jalan?"
Adrian menunggu reaksiku. Aku hanya menatapnya datar, berharap dia bisa menangkap kekesalanku. Tapi sepertinya dia nggak tau apa yang jadi masalah buatku di sini.
Adrian kembali menampakkan senyuman lebar. Dia menepuk kepalaku yang sudah terlindungi helm.
__ADS_1
"Aman. Kita jalan sekarang, ya?"
Dan aku agak nggak peduli dengan rencana double date ini. Sulit mendapatkan mood-ku seperti sedia kala walau aku berada dalam jarak yang sedekat ini dengan Adrian.