
Sama seperti perjalanan ke kafe, aku diam saja saat Adrian mengantarku pulang. Aku senang dia mengaku dia juga salah. Yang paling penting buatku, aku sudah berani mengatakan aku nggak suka dia tarik ulur perasaan.
Kalau aku bagi Adrian aku ini ratunya, dia harus ikut perintah.
Harusnya fakta bahwa aku makin dekat dengannya sudah cukup membuatku senang. Tapi sebagai perempuan, aku mau perlakuan yang lebih luar biasa.
Sebelum pulang, aku sempat menemui Erika. Dia membasuh bajunya yang terkena tumpahan matcha latte. Seragamnya jadi lembab, tapi ia menutupinya dengan jaket yang diberikan Nando.
"Sumpah. Gue nggak sengaja, Er."
"Udah santai aja. Mending lo pulang, terus langsung istirahat," katanya pelan. Aku tak bisa menebak ekspresinya. Namun, siapa yang nggak kesal saat seragamnya kotor?
"Duh, gue minta maaf banget ya. Terus gue nggak sakit kok, beneran."
"Gue nggak mau denger maaf lo lagi. Udah ya. Makasih buat hari ini," air muka Erika dengan ceria seketika.
Fase 'diam-diam marahan' dengan Erika selesai. Aku mengganti rasa marahku dengan penyesalan. Aku nggak tau berapa banyak stok kesabaran yang dimiliki Erika. Dia bisa bersikap dewasa di saat aku bertingkah seperti anak-anak.
Aku berjalan mendekati motor Adrian. Aku masih menekuk muka di sampingnya. Dia menoleh ke arah Erika dan Nando yang sudah menyalakan mesin motornya. Aku dan Adrian memasang senyum pada dua sejoli itu. Kami melambai sebelum motor mereka lenyap di tikungan.
"Mereka cocok," komentar Adrian lebih seperti pada dirinya sendiri.
Aku bisa saja setuju. Buatku, Nando yang jadi masalah. Dia terlalu dingin padaku. Seakan statusku sebagai sahabat pacarnya tidak menjadikan dia akrab denganku.
Sekarang hanya tersisa aku dan Adrian. Aku membalikkan badan sementara dia sibuk menyalakan mesinnya.
__ADS_1
Tiba-tiba pundakku ditepuk. Begitu menoleh, Adrian langsung memakaikan helm. Aku tidak ingin terbuai dengan sikapnya sekarang. Aku menatapnya datar, padahal Adrian memberikan senyumnya yang paling hangat. Kami bertatapan seperti itu cukup lama. Sampai akhirnya dia menepuk-nepuk helmku dan menyuruhku naik.
Kalau dia pikir caranya itu bisa menghilangkan marahku, sebenarnya dia berhasil. Sekali lagi, aku butuh waktu supaya aku tidak lagi marah pada hal-hal kecil.
"Kalau mau ke suatu tempat dulu bilang aja, Drea," katanya melawan deru angin.
Aku menganggukkan kepala.
"Gimana? Kamu bilang apa?" tanyanya lagi sementara fokusnya tetap tertuju pada jalanan.
Sadar dia tak bisa melihat jawabanku, aku membalas singkat. "Oke."
Dan pikiranku langsung tertuju pada rooftop, tempat kami pertama bertemu. Dari segala hal, tempat ini memang bersejarah. Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku bisa sebegitu terbuka dengan orang baru. Hingga Adrian secara tiba-tiba mengajakku ke sana seperti dia sudah mengenalku sejak lama.
"Kamu mau mampir?" Adrian kembali berusaha memecah keheningan. Sayang, itu tidak mempan.
"Oh, mau istirahat ya."
"Iya," aku hanya berpikir menjawab 'iya' lebih sopan daripada menggumam.
"Atau kamu masih masih marah sama aku?" dia masih mencari cara agar bisa mengobrol.
Kamu ngapain masih nanya?
"Nggak. Kan, aku udah berhasil ngomong sama kamu. Semuanya beres," aku berkilah. Masalahnya memang sama. Cowok itu nggak perasa.
__ADS_1
"Atau kamu mau ke rooftop, Drea?"
Aku sontak meliriknya lewat spion. Aku bisa melihat bayangan wajahnya melirik ke arahku juga. Dia menampakkan senyum lebar.
Mau tak mau aku melunakkan tatapan. Aku juga balas tersenyum, walaupun samar. Aku tersihir oleh cowok yang belum lama aku kenal ini. Dan tak lama, dia langsung tertawa.
"Kamu cantik, Drea. Bukan cuma cantik sih, gemesin juga," kata Adrian enteng. Seperti biasanya, aku rasa pipiku mulai memerah saat ini.
"Semua orang bisa ngomong begitu," kataku masih menahan diri. Setidaknya dia harus lebih berusaha supaya mood-ku membaik lagi.
"Ya, apalagi aku yang dikasih anugerah ngeliat kamu setiap hari," sahut Adrian sambil menoleh sekilas ke arahku. Alasan yang bagus. Dan aku memancingnya untuk lebih gombal.
"Kita baru kenal sebentar," hampir saja tawaku meledak saat mengatakannya.
"Dari yang sebentar itu justru hebat. Buktinya, kamu bisa di sini sama aku sekarang."
"Cuma itu?"
"Kamu satu-satunya bintang paling terang di dunia aku, Drea."
Tembok pertahananku runtuh. Aku bahkan lupa bagaimana aku marah pada Adrian tadi. Aku juga tertular tawanya. Terus seperti itu hingga aku bisa melihat sisi Adrian saat ia sedang di puncak kebahagiaan.
Bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak terpesona?
Di sela-sela tawa kami yang tidak berkesudahan, aku akhirnya melingkarkan tanganku. Sepertinya memeluk Adrian di atas motor sudah menjelma jadi hobi baru buatku.
__ADS_1
"Drea, aku bersyukur bisa jadi alasan kamu ketawa."
Aku tidak menjawab. Yang aku lakukan hanya mengeratkan pelukanku.