Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
19 — i would like to spend more time with you


__ADS_3

"Siapa, Dey?" tanya mama menatap Andrian tajam. Mama suka mengamati orang dan menyimpulkan sekilas sifat orang tersebut. Tapi aku nggak mau tatapan penuh selidik dari mama ke Adrian. Aku nggak mau dengar penilaian mama tentang pacarku ini, karena menurutku Adrian sempurna dengan caranya sendiri.


Kalau aku lebih subjektif, dia selalu sempurna saat dia memberikan perhatian kecil. Menurut tes di internet yang aku lakukan karena iseng, aku ini suka act of service dari orang spesial. Jelas itu cocok sekali dengan love language yang selalu Adrian berikan saat bersamaku.


Aku memberi kode ke Adrian agar tidak mengatakan apa-apa. Dia tau benar apa maksudnya, tapi memilih untuk cekikikan. Dia sepertinya nggak ngerti kalau aku ini berada di posisi yang tertekan. Kalau aku jujur, sama saja aku mengorbankan kebebasanku untuk pergi keluar dengan Erika.


"Siapa?" nada suara mama tak lagi dingin.


Aku mencari alasan yang lebih logis daripada sekadar teman yang ingin kerja kelompok di rumah. Kalau kujawab begitu, pasti timbul pertanyaan lainnya seperti 'kenapa nggak dikerjakan di sekolah?'. Aku baru saja membuka mulut saat kudengar suara Adrian memotong.


"Adrian, Tante. Teman sekelas Erika," Adrian menunduk sopan. Huft, untuk dia bisa diajak bekerja sama.


"Oh ya?" perhatian mama beralih padaku untuk meminta penjelasan. "Mama kayaknya nggak pernah denger yang namanya Adrian?"


Seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan. Aku berdeham kecil, berusaha menyamarkan kegugupanku. Aku mengulas senyum terpaksa.


"Kan aku nggak pernah ngasih tau mama temen sekelasku siapa aja," suaraku sedikit bergetar saat mengatakan ini.


Aku takut mama menyadari letak kebohonganku. Mudah saja bagi mama untuk mengetahui aku berbohong—terlebih aku tidak terdengar meyakinkan.


"Iya, mama taunya si Deri atau Niko. Nggak ada tuh mama denger yang namanya Adrian."


"Tapi sekarang udah denger kan, Tante?" Adrian tersenyum jenaka.


Aku hampir menginjak kakinya karena memancing mama untuk bertanya lebih jauh.


"Jadi kamu sekelas sama Andrea?"


"Iya tante," Adrian mengangguk sopan. Dia begitu tampang tenang di saat aku panik sambil menggigit bibir.


"Kok si Andrea nggak pernah bilang, ya?" ujar mama yang terasa seperti bertanya ke dirinya sendiri.


"Benar, tante. Aku mampir sebentar karena buku Andrea nggak sengaja kebawa di ransel aku."

__ADS_1


Adrian pintar juga kalau urusan berbohong. Kalau klub drama sekolah sedang kekurangan pemain, dia pasti bisa berakting dengan bagus.


"Oh, begitu. Kamu harusnya jaga barang-barang kamu, Dey. Jangan ngerepotin temen kamu kayak gini."


"Ya kan, waktu itu aku nggak nyadar, Ma."


Mama nggak tertarik meresponku. Dia balik bertanya ke Adrian.


"Jadi gimana Adrian? Bukunya udah dikasih ke Andrea?"


"Oh iya. Itu bukunya ada di jok motor, Tante. Ngomong-ngomong, Tante suka melihara tanaman hias juga?"


Pertanyaan Adrian berhasil menerbitkan semangat mama. Mata mama langsung berbinar ketika berbicara dengan topik ini. Mama langsung menyebutkan nama-nama tanaman dari pot bunga kesayangannya. Aku sendiri malah nggak tau satu pun dari koleksi tanaman mama. Aku membiarkan mama hanyut dalam percakapan yang dibuka Adrian.


Dan sebenarnya agak mengejutkan karena kecurigaan mama pelan-pelan menghilang.


Adrian menanggapi mama dengan baik. Mungkin karena dia tampan dan sopan. Kalau aku bisa terbuka dengan mama, aku pasti membanggakan Adrian sebagai pacar yang bisa menyenangkan aku setiap saat.


Sayangnya tidak bisa karena aku merahasiakan kehidupan sekolahku dari mama. Yang mama tau hanya Erika, dan selebihnya mama hanya ingin tau kalau nilaiku berada di angka yang aman.


Percakapan keduanya semakin seru. Aku nggak bisa mengikuti apa yang mereka tertawakan. Sepertinya ada kesamaan di antara mama Adrian dan mamaku karena fakta mereka sama-sama menyukai tanaman hias. Tak terhitung berapa pot gantung dan pot yang berderet di rak-rak teras rumah. Aku bersyukur karena Adrian mengalihkan perhatian mama ke hal lain. Aku jadi tidak perlu mengarang cerita soal siapa cowok yang tiba-tiba muncul di teras rumah.


"Ya, udah. Tante ke dapur dulu. Kamu mau dibuatin minum apa, Adrian?"


"Oh, nggak perlu Tante. Aku cuma sebentar di sini," Adrian berkata seperti itu sementara aku menatapnya bingung.


Sebentar sekali? Aku tau pasti tujuan awalnya bukan seperti itu. Itu hanya nasibnya yang ternyata kurang beruntung harus berhadapan dengan mama. Aku kira, kedatangan Adrian di hari Minggu seperti ini karena ingin mengajakku pergi.


Tapi yah, mungkin lain kali. Akting Adrian pantas dinilai 10/10 karena dia sama sekali nggak menyebutkan kata 'pacar' selama ngobrol dengan mama.


"Oh begitu. Oke deh, makasih ya repot-repot datang ke sini. Kalau gitu, Dey, anter si Adrian ke depan gerbang." seperti ini jadinya kalau mamaku tidak menaruh curiga pada siapapun, termasuk kepada aku, putrinya sendiri yang aslinya sering diajak ke rooftop dengan cowok yang nggak sengaja dikenalnya.


"Lho, ma?"

__ADS_1


"Anterin, ya ke depan. Sekalian dikunci pagernya," itu adalah perintah.


Adrian melambai kepada mama yang pamit kembali ke dapur. Ketika mama sudah benar-benar pergi, aku memberinya hadiah.


"Aw! Kenapa dipukul?"


"Kamu bisa banget bohongnya."


"Harusnya tadi aku bilang aku ini pacarnya kamu, ya?"


"Bukan itu maksud aku," aku tertawa tapi juga pura-pura kesal padanya.


"Oke, Dey. Ternyata panggilan kamu di rumah itu lucu, ya. Dey. Kayak anak TK yang masih cadel."


"Ish! Itu panggilan sayang, tau!" aku kembali menyerangnya, kali ini dengan cubitan.


"Kalau begitu aku juga boleh manggil kamu 'Dey'?"


"Kamu mau?"


"Eh, tapi jangan deh. Drea, itu udah cocok buat kamu. Cuma aku yang boleh manggil kamu dengan sebutan itu," katanya sambil mengacak rambutku.


Hatiku berdesir karena hal sepele itu.


"Aku bakal sering dateng ke sini. Boleh kan?"


"Kenapa? Kamu mau ngobrolin tanaman hias sama mama lagi?" sudah kebiasanku menyerangnya dengan kalimat bernada sinis.


"Oh, kamu cemburu? Maunya ngobrol sama kamu aja?"


"Tapi lain kali kamu harus bilang kalau mau dateng ke sini," aku berbisik mendekat ke arahnya. "kamu boleh dateng ke sini selama tuksedo kamu disimpan di lemariku."


Bagaimana pun, tuksedo selalu melambangkan hari saat aku bertemu Adrian pertama kali. Buatku itu menjadi sangat spesial. Dia cowok pertama yang berhasil membuatku overthinking semalaman. Apakah besok aku akan bertemu dia lagi? Kalau iya, di rooftop sepulang sekolah atau membawaku menyelinap ketika hari sudah gelap?

__ADS_1


Adrian tersenyum sumringah. Ibaratnya, aku sudah memberinya peluang untuk lebih mengenalku. Dan sekarang ini, aku nggak lagi takut mengungkapkan perasaanku di dekatnya.


__ADS_2