Watch Your Step, Darling

Watch Your Step, Darling
18 — caught up


__ADS_3

"Andrea...buka pintunya. Ada tamu tuh, di depan!" teriak mama di suatu Minggu siang yang hening. Aku menyahut seadanya. Aku yang sedang tidur-tiduran bangkit dengan malas.


Aku jarang keluar rumah tiap akhir pekan. Biasanya aku akan menemani Erika cuci mata di mall, tapi kali ini dia memilih pergi sama pacarnya. Aku memanfaatkan waktu ini sebagai waktu tambahan untuk tidur. Lagian, sorenya aku sering latihan basket di halaman belakang. Jadi hari liburku tak pernah dihabiskan cuma-cuma.


"Emangnya Mama lagi ngapain?"


"Lagi masak ini, nggak bisa ditinggal. Nanti malah gosong," balasnya.


Aku tau agaknya kurang ajar karena mengharapkan mama yang membuka pintu. Tapi aku terlalu malas beranjak. Lagi pula, kamarku ada di lantai dua. Aku harus menuruni tangga untuk siapapun itu yang memencet bel.


Yang lebih malas, tidak semua bel yang berbunyi itu benar-benar manusia. Bukan dalam artian makhluk halus, maksudku. Ada beberapa anak yang sengaja memencet bel berkali-kali. Mama pernah terjebak prank seperti itu. Tapi tidak lagi setelah aku berhasil memergoki anak-anak kurang kerjaan yang mampir ke gerbang rumahku itu dari lantai dua.


Aku bisa menyeramkan saat dibutuhkan. Jadi, setelah aku membentak mereka, mereka tidak pernah lagi iseng seperti itu.


Yang satu ini sepertinya memang tamu.


"Hhh," aku bergumam malas. "Iya, aku turun sebentar lagi!"


Aku sedang dalam mode hemat energi di hari libur seperti ini. Kalau ada saudara mama yang bertamu, pasti aku lelah setengah mati menanggapi mereka. Aku harus berdiri dan duduk diam di ruang tamu sampai mereka pulang.


Bel ditekan lagi. Aku berpikir, siapa yang mungkin datang di jam seperti ini? Kalaupun kurir paket, pasti barangnya sudah diletakkan di atas meja teras kan?


"Iya, tunggu sebentar," kataku sambil memutar kunci.


Siapa sih, tamu yang nggak sabaran seperti ini?


"Oke, Drea."


Aku membulatkan mata sempurna. Aku selalu mengenali suara itu, dan panggilan yang khusus ditujukan buatku. Pertanyaannya, ngapain dia datang ke rumahku di hari libur? Dengan cekatan aku membuka knop pintu.


Itu memang Adrian di balik pintu. Ia memberikan senyum yang sumringah. Dia berdiri dengan wajah berseri dalam setelan kemeja flannel dan jeans warna putih tulang.


Aku mematung untuk beberapa saat. Seperti menanyakan kepada diriku sendiri. Apa aku mengalami delusi parah sampai membayangkan Adrian saat ini ada di hadap-- maksudnya di depan teras rumahku?


Tapi dia benar benar memanggilku. Suaranya terdengar nyata.


"Hai, Drea. Kenapa ngelamun gitu kayak abis ngelihat hantu?" kata Adrian. Dia menjentikkan jari beberapa kali sampai aku mengumpulkan lagi kesadaranku.


Aku seperti terbata-bata membalas sapaan Adrian. Kenapa dia bisa ada di sini, di saat yang nggak diduga?

__ADS_1


"Adrian?" ulangku dengan nada tak percaya.


"Kamu kayak baru aja ngeliat hantu gentayangan."


Dengan segera aku menutup setengah daun pintu. Dengan pintu yang terbuka tidak terlalu lebar, aku bisa bersembunyi di baliknya. Dia tidak boleh memerhatikan penampilanku yang tak karuan seperti ini.


"Kamu..." aku menyipitkan mata, bersiap untuk menyerangnya dengan kata-kata sinis andalanku.


"Kamu abis bangun tidur, Drea?"


"Hah? Kok kamu bisa sih..."


Adrian mengernyit. "Bisa apa? Kan, aku udah sering ke rumah kamu."


"Emang kamu beneran Adrian?" kataku mengajukan pertanyaan bodoh.


"Ya, jelas. Memangnya siapa lagi? Aku bukan hantu yang tiba-tiba muncul di siang bolong, Drea."


Sejenak aku melupakan kemunculan Adrian yang tiba-tiba di rumahku. Aku menyadari penampilanku saat ini. Kaus putih kebesaran yang lecek, belum lagi ditambah dengan rambutku yang acak-acakan.


Aku terlihat berantakan sekali di mata Adrian.


"Kan, biar surprise. Emangnya aku nggak boleh ketemu kamu?"


"Tapi kenapa mendadak begini?" aku menekan suaraku supaya nggak terdengar mama di dapur. Beliau pasti bingung siapa yang datang tanpa dipersilakan masuk.


"Itu siapa, Andrea? Kok pintunya nggak dibukain buat tamunya?" suara mama terdengar dari dalam rumah.


"Bukan siapa-siapa, Ma." aku menyahut cepat. Pintunya kututup sedikit, menyisakan ruang sedikit bagi Adrian untuk melihatku sekilas. Bahaya sekali kalau mama tau siapa yang mengunjungi anak perempuannya tanpa izin.


"Itu suara nyokap, Drea? Aku mau ketemu, dong," kata Adrian bersiap menahan pintu yang tadinya ingin kututup sempurna. Aku hilang kendali, hingga Adrian bisa melangkah masuk. Aku tak bisa melawan tenaganya yang terlalu kuat. Dia bisa menarik daun pintu dengan mudahnya.


"Eits, jangan!" aku menghalanginya saat dia persis ingin melewati pundakku. Jujur, aku tidak bisa berpikir panjang saat dilanda panik. Setengah berteriak, aku mengancamnya.


"Jangan masuk atau aku nggak mau diantar jemput sama kamu lagi," hanya itu ancaman yang paling masuk akal. Tapi Adrian tidak mudah digertak seperti itu.


"Kamu nggak bakalan bisa nolak ajakan aku, Drea."


"Jangan pikir aku nggak bisa nolak!" jawabku garang. Aku menampilkan wajah paling sangar yang kubisa.

__ADS_1


"Nggak bisa, kalau aku yang ngajakin kamu." Adrian menikmati aku yang sedang merajuk.


Sesaat kemudian aku mengganti ekspresi menjadi memohon. Sambil menyatukan telapak tangan di depan dada, aku berbisik lagi.


"Jangan masuk, Yan. Mending kamu yang pulang sekarang. Nanti aku ketemu kamu di pertigaan depan komplek."


Adrian tak mengindahkan permintaan itu. "Aku tau apa yang bikin kamu khawatir. Tapi aku malah jadi pengecut kalau aku nggak berani ngadepin mama kamu."


"Tuh, kamu aslinya ngerti kan?" aku berusaha mendorong pintu agar dia mau mundur ke belakang. Kalau sudah begitu, aku bisa mengunci pintunya lagi dan kembali ke kamar.


Suara dari mama menginterupsi, "siapa sih, di depan sana?"


"..."


"Dey, mama nanya siapa?"


Adrian berhasil lagi mendobrak pintu hingga terbuka lebar. "Temannya Andrea, Tante."


"Kurir paket, Ma."


Adrian dan aku mengucapkannya secara bersamaan. Aku mendelik sebal ke arahnya. Sebagai balasan, dia mengacak-acak rambutku sampai aku minta ampun.


"Berisik banget suaranya?" suara mama terdengar seantero ruang tamu.


"Kurir paket, Ma. Ini dia udah mau pergi."


Kalau boleh, aku ingin membekap mulutnya. Adrian memang harus belajar agar tidak membuatku kesal. Aku di situasi yang terdesak sekarang, tetapi dia tidak bisa diajak kerja sama. Kalau mama tau ada kehadiran seorang cowok di rumah, pasti aku sudah diinterogasi habis-habisan.


Dan seperti yang sudah-sudah, aku kehabisan tenaga melawannya. Adrian bisa menghindariku dengan mudah. Dalam waktu sepersekian detik, dia berhasil menangkup wajahku. Dengan begitu, aku tak bisa memberontak lagi.


"Hai." katanya dengan sangat manis. Padahal beberapa detik yang lalu dia bersikap sangat menyebalkan.


"Hai?" aku bingung disapa seperti itu olehnya.


"Aku lagi nikmatin semua ciri khas wajah kamu. Supaya aku bisa miripin kamu sama nyokap."


Aku merasa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutku. Ayo, Andrea, jangan lengah!


"Emang kamu abis dari abis mesen apa lagi dari...eh?"

__ADS_1


Benar, itu suara mamaku. Aku tertangkap berduaan dengan cowok dengan jarak yang sangat tipis.


__ADS_2