
Kini aku berpakaian seperti maling yang mengendap-ngendap di rumah sendiri. Dengan memakai jaket jeans dan sepatu kets, aku mengunci pintu kamar sepelan mungkin. Sengaja dengan pakaian seperti ini supaya mama tidak curiga.
Tentu saja, hari ini aku ada rencana pergi dengan Adrian. Tapi minta izin dengan alasan yang sebenarnya sama saja dengan masuk ke perangkap singa—akan ada konsekuensi lebih kalau aku tertangkap jalan berdua dengan cowok di luar jam sekolah. Maka aku punya siasat yang cukup pandai. Aku pergi ke rumah Erika dengan segala perlengkapan yang sudah kusiapkan; dress merah marun, make-up dan tas selempang.
Aku bilang mungkin akan menginap, karena kebetulan besok hari Sabtu. Beruntung Adrian memilih saat yang tepat untuk mengajakku keluar.
Setelah memikul tas ranselku yang berukuran jumbo, aku mencari keberadaan mama di dapur. Tapi kebetulan mama sedang tidak di sana. Dengan iseng, aku membuka lemari pendingin. Tidak ada yang bisa kubawa sebagai bekal untuk kubagi dengan Adrian juga. Jadi, aku mengambil botol kemasan jeruk dingin dan meneguknya jauh dari kata anggun.
"Eh, pelan-pelan kamu minumnya!"
Beginilah rasanya tertangkap basah. Untungnya aku tidak sampai tersedak dan menyemburkan jus yang baru kuminum.
"Mama suka banget bikin aku kaget deh," kataku sambil terbatuk kecil.
"Ngapain kamu minum kayak orang kesetanan gitu?"
"Aku lagi buru-buru. Nah, mumpung ketemu mama di sini, aku mau nginep di rumah Erika. Aku pergi sekarang," kataku memamerkan senyum manis supaya prosesku minta izin langsung disetujui mama.
Mama memandangku sedikit curiga. "Kok mendadak?"
"Aku udah bilang tadi pagi pas aku berangkat sekolah?" balasku yang juga tidak yakin.
"Emang Erika ngajakin kamu nginep?"
Aku mengangguk antusias. Padahal semuanya itu ideku.
Raut wajah mama jadi melembut setelahnya.
"Ya udah, hati-hati. Titip salam juga ke mama Erika, ya."
Aku langsung memberi hormat. Sebelum pergi, aku memeluk mama erat.
"Kamu kalau ada maunya emang manis kayak gini, ya."
Aku kembali memamerkan senyum kuda. Dalam hati, aku minta maaf berulang kali. Aku memakai cara yang salah untuk pergi kencan dengan seorang cowok. Tapi kupikir, remaja seumuran denganku sering sekali mengarang cerita untuk hal-hal yang seperti ini.
...----------------...
__ADS_1
"Erika!!"
Tak butuh waktu lama buatnya untuk membukakan pintu kamar. Namun, wajahnya yang sumringah langsung tergantikan sedetik setelah melihatku dengan jaket jeans.
"Jadi lo niat mau nge-date sama Adrian atau gimana, sih?"
"Eh, nggak gampang buat gue keluar rumah, ya. Gue nginep sama lo abis ini. Gue mau ganti baju di rumah lo."
"Kenapa nggak pake dress dari rumah?" tanya Erika memberi tatapan garang.
Butuh tenaga yang besar untuk menjelaskan ke temanku yang lemot ini. "Ya, nanti mama gue curiga dong. Masa mau nginep sama lo pake baju bagus?"
Erika ber-oh panjang.
"Ayo, kita mulai make over. Lo janjian jam berapa sama Adrian?"
"Hmm, aslinya masih lama. Nanti kasih tau gue kalo udah deket jam tujuh, ya. Gue belum ngabarin dia biar jemput di komplek lo," jelasku lebar.
"Jam tujuh?" ulang Erika sambil berteriak. Ia jadi terlihat gelisah. "Ini udah jam lima, An. Kita nggak punya banyak waktu. Sekarang lo pergi ke kamar mandi, coba. Abis ganti baju lo harus make-up juga."
"Nggak usah banyak tapi-tapian. Lo harus kerja kilat. Udah, jangan cuma diri aja. Langsung ganti baju."
Erika persis seperti ibu-ibu yang selalu melihat cela dari anaknya. Tapi, aku tetap menurut. Aku meminjam kamar mandi Erika untuk memakai baju.
Rasa ragu tiba-tiba menyelinap di hatiku. Aku tak percaya aku sebegitu peduli dengan rencana ini. Bahkan memakai dress marun seperti yang diminta Adrian. Gugup dan bercampur takut. Bagaimana kalau Adrian tidak suka penampilanku?
"An, nggak usah banyak mikir. Cepetan keluar sini. Gue mau lihat temen gue yang paling cantik!" Erika menggedor pintu kamar mandi. Aku menghembuskan napas pasrah. Tampil di depan Erika saja sudah gugup, apalagi saat Adrian tiba?
"Gila! Bentar, gue mau pingsan dulu, An."
"Lebay banget manusia satu ini," aku mendelik. "Gue nggak keliatan aneh?"
Tidak setiap hari aku merasa cantik dengan gaya yang sangat feminim seperti ini.
"Mana ada aneh, sih? Sini, duduk dulu. Rambut lo jangan dikuncir ya."
Aku tidak bisa bohong kalau saat ini aku hanya memikirkan pendapat Adrian, bukan mengikuti kemauanku sendiri. "Yang mana yang menurut lo Adrian bakal suka, deh."
__ADS_1
Erika membawaku ke depan cermin dindingnya. Aku melihat pantulan diri yang rasanya tidak seperti aku. Mungkin ini sisi seorang Andrea yang belum pernah dilihat siapa-siapa. Adrian beruntung sekali. Dia seolah 'menciptakan' Andrea yang peduli dengan penampilan dan anggun.
Aku berputar perlahan. Pertama kalinya aku merasa cocok memakai rok di luar seragam sekolah. I can't believe I'm living until this day—this dress makes me think I'm worth for particular person. I love being a teenage girl, except lack of confidence and naivety.
Aku jadi berpikir, cinta begitu banyak menggerakkan hal. Cinta bagi remaja tanggung sepertiku bukan hanya soal perasaan berbunga tiap kali mendengar namanya. Ini juga soal tentang merasa layak bersama orang spesial itu. Karena itulah, kau rela melakukan banyak hal demi cowok yang menjajah isi pikiranmu.
Akhirnya aku duduk di meja belajar Erika. Aku siap saja didandani seseorang yang memang ahlinya. Tapi tanpa sengaja, aku bersin ketika Erika memoleskan bedak. Tanganku menyenggol pinggiran meja, yang sialnya saat itu Erika menyimpan segelas cokelat panas.
Dan terjadi begitu saja. Minumannya tumpah mengenai dress-ku. Ada sensasi membakar karena kebetulan minumannya belum lama diseduh. Tidak terlalu parah, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah keselamatan dress-ku.
Aku tampak kacau. Aku hampir siap saat itu, tapi rupanya ada satu insiden yang menahanku.
Erika refleks berteriak. Dia mengambil sekotak tisu, menggulungnya dan berusaha membersihkan tumpahan cokelat panas. Padahal semua inisiatifnya percuma. Nodanya semakin melebar dan tampak jelek.
"Andrea! Maaf banget, sumpah. Masih kerasa panas, nggak?"
Mataku mungkin berkaca-kaca saat ini. "Terus gimana gue bakal pergi sama Adrian?" kataku jujur. Aku tidak bermaksud menyalahkan Erika dengan mengatakan itu. Aku hanya khawatir kencan pertamaku batal karena insiden yang tak terduga ini.
Sejenak aku merasa seperti deja vu saat seragam Erika ketumpahan matcha latte di double date kami. Kalau ini dijadikan lomba siapa yang berhasil menumpahkan minuman ke sahabatmu, kedudukan kami berdua seri.
"Ini salah gue, An. Maafin gue, gue janji bisa beresin ini."
Aku bangkit dari kursi. Erika pikir saat itu aku marah sampai ingin keluar kamarnya.
"An, lo ke kamar mandi aja. Gue cariin dress gue sebentar."
Ah, setidaknya aku masih punya harapan untuk melanjutkan kencan ini. Erika meminjamkan midi dress yang juga berwarna marun—bagian atasnya berenda dengan model A-line. Punya Erika jelas jauh lebih cantik daripada punyaku. Aku terlihat lebih feminim.
Aku juga membersihkan tumpahan cokelat panas yang mengenai lenganku. Untung saja tidak sampai melepuh. Begitu keluar kamar mandi, Erika tidak lagi mengomentari aku dan dress pinjamannya. Dia membawakan kabar yang membuatku seperti disengat listrik.
"Tadi gue nggak sengaja angkat telepon dari Adrian. Dia nanyain lo udah siap belum. Gue juga udah bilang biar dia nggak jemput lo dari rumah lo, tapi ke rumah gue aja."
Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus bersiap serapi mungkin untuk kesempatan spesial ini. Aku langsung menyisir rambut dengan cekatan.
Erika juga turut membantu, mulai dari make-up sampai memberi tips yang mungkin berguna selama kencan nanti. Sebagai sentuhan terakhir, Erika menimpakan lip gloss setelah lip cream nude yang kupakai. Aku melihat pantulan diriku di kaca dengan puas.
"Cantik, An. Ntar, Adrian pasti makin suka sama lo."
__ADS_1