
Angin sore menerbangkan rambutku yang dibiarkan tidak terikat. Sudah cukup lama aku menunggunya kembali lagi ke sini. Detik pertama aku menginjakkan kaki di rooftop, Adrian pamit untuk ke bawah sebentar tanpa ingin membuatku frustasi menunggu lama. Dan meskipun matahari tidak seterik siang tadi, aku tetap merasakan panas dan berkeringat.
Aku menerawang sehari sebelumnya. Aku benci mengakui ini, tapi aku merasa pesona Adrian naik dua kali lipat ketika ia terlibat pertengkaran. Maksudku, lihat saja bagaimana rambutnya jatuh di dahinya. Dia nampak begitu serius dan kalau boleh aku katakan dia sangat gentle. Adrian bisa menjadi sangat humoris di depanku, dan di sisi lain dia menjadi buas seperti singa.
Aku mengatakan ini bukan karena aku menormalisasikan kebiasan para cowok yang menyelesaikan masalah dengan berantem. Sama sekali bukan, karena aku benci melihat siapapun terluka setelah itu. Bahkan kalau orang yang terluka adalah orang yang pertama kali menyerang, aku tetap mengasihani si pelakunya.
Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini. Jujur, aku masih kesal padanya. Dia muncul secara tiba-tiba dengan harapan supaya aku memaafkannya. Tapi aku tidak tersanjung dengan cara itu seperti biasanya. Sepertinya aku benci melihat wajahnya yang masih dihiasi luka.
Aku belum ada rencana untuk melupakan Adrian yang bertengkar. Biarkan saja seperti ini dulu. Dia harus tau kalau aku serius dan sangat khawatir walaupun dia tersenyum tanpa merasa bersalah.
Suara langkah kaki perlahan mendekat ke arahku. Aku memilih menyibukkan diri dengan ponsel supaya aku tidak harus diajak bicara dengannya. Tenagaku habis menghadapi Adrian. Sekarang saja aku ingin sekali segera pulang tanpa diantar olehnya, kalau bisa tanpa harus diajak ke rooftop seperti sekarang ini.
Sensasi dingin menyengat pipiku. Tanpa aku menoleh aku pun tau Adrian-lah yang menempelkan botol air mineral dingin ke pipiku. Sejujurnya aku terganggu.
"Kamu nggak tau berapa banyak kuman yang nggak keliatan di kemasan botolan kayak gitu. Jangan sembarangan, deh."
Alih-alih minta maaf, Adrian terkekeh. "Kamu tuh lucu kalo lagi marah."
"Dengan kamu bilang begitu sebenernya udah bikin aku tambah marah," balasku tajam. Sampai sekarang aku masih menolak menurunkan senjata. Aku masih marah.
__ADS_1
"Kamu nggak biasanya nggak lihat ke arahku kalau lagi ngomong, Drea," kata Adrian sebelum meneguk air dinginnya. Adrian mampu menghabiskan seluruh isinya dalam hitungan detik.
"Kamu tau sendiri aku masih marah."
"Tapi itu kan udah kemarin, Drea. Mau sampai kapan? Kalau aku boleh egois aku juga bakal marah sama kamu gara-gara tangan kamu luka pas lagi masak di dapur."
Aku seperti tersentak karena kalimat itu.
"Beda cerita sama kamu yang berantem, Rian."
Adrian memilih tersenyum ketimbang melanjutkan perdebatan kami. Dia seperti berpikir harus mengatakan apa supaya aku berhenti mendiamkannya dalam dua puluh empat jam terakhir. Aku suka akhirnya dia mengalah demi aku, karena aku keras kepala soal keselamatan orang di dekatku. Terlebih, ini pertama kalinya aku bisa mengkhawatirkan seorang cowok. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengagumi semua hal kecil yang dia lakukan padaku.
"Aku ngerti kenapa kamu masih marah sama aku," Adrian tersenyum jenaka. "Artinya kamu sayang sama aku, ya?
"Kamu sayang banget sama aku ya?"
"Kamu stress gara-gara kalah sama tiga orang itu, kan."
Adrian semakin gencar menggodaku. Dia merapatkan tubuhnya hingga pundak kami bersentuhan. "Sekali bilang iya ke aku nggak ada salahnya, Drea."
__ADS_1
"Kalau iya, kamu mau bilang apa? Kamu udah berhasil buat aku khawatir, tapi kamu malah kesenengan."
"Coba sebutin apa yang buat kamu khawatir sama aku, Drea. Itu kan cuma berantem kecil. Kamu pasti bisa wajar kenapa cowok nanganin masalah dengan cara kayak gini."
"Mungkin kamu cuma seneng merasa sok jago kayak gitu. Aku lihat sendiri gimana kamu nggak bisa ngelawan tiga orang sekaligus. Aku yakin kalau aku ngelarang kamu berantem kemarin, kamu bakal berantem juga akhirnya," aku mengeluarkan semua amarahku. Ketika aku bersiap berdiri meninggalkannya, tangan gesit Adrian berhasil mengurungkan niatku.
Ah, aku kalah. Adrian sudah melihat kilatan air mata yang menggenang di pelupuk mataku.
"Aku nggak mau jadi alasan kamu nangis," bisik Adrian lembut.
"Udah terlambat. Selamat ya, Rian."
Adrian menyandarkan kepalaku di dadanya. Anehnya, aku tidak berniat memberontak ataupun menjauh. Aku membiarkan semua amarahku runtuh dan semua khawatirku terhapuskan karena perlakuannya ini.
Dan Adrian menepuk kepalaku lembut. Aku menggigit bibir, air mata semakin deras turun di lengkung pipiku. Aku kalah. Aku tak ingin mengaku bahwa aku memang tidak bisa sepenuhnya marah padanya. Khawatir yang berlebihan sudah mengambil alih perhatianku, padahal aku sangat peduli pada Adrian.
"Aku maksa kamu. Jangan nangis lagi karena aku, Drea."
Aku juga memaksanya untuk tidak meminta maaf lagi. Detik itu aku tau, aku hanya butuh komunikasi dan penjelasan darinya. Sengaja mendiamkan Adrian mungkin hal yang paling jahat yang sudah kulakukan sejauh ini.
__ADS_1
"Aku emang brengsek. Aku bersedia janji sama kamu biar kamu nggak khawatir lagi. Tapi please, Drea. Nangisnya udahan."
Aku tidak menjawab. Pertahananku runtuh. Aku sudah tidak sanggup lagi marah padanya. Akhirnya aku melingkarkan kedua tanganku ke belakang punggungnya, menikmati bagaimana angin berembus di rooftop yang hanya disinggahi kami berdua.