
Lagi lagi Razuna mencengkram kuat, agar tangannya tak terlepas dari sang menantu. Berbeda dengan Rose yang pasrah + jantung yang dibuat naik turun ala Roller coaster karena tindakan Razuna.
" Huh lama lama gue isdet duluan ini mah!!" Celetuk Rose meronta ronta kayak cacing kepanasan ditempat. Sungguh tidak enak rasanya.
Efran terlihat capek, pasalnya sudah sedari tadi ia berjalan & belum dibiarkan beristirahat. Nafasnya satu satu hampir putus, ditambah lagi ia hamil, tentu dirinya kesusahan.
Sifra yang biasanya punya dendam kesumat dengan Efran, terpaksa membantu. Karena dilihat Efran benar benar tak kuat lagi. Bisa barabe jadinya kalau nih anak pingsan. Wah Sifra bakal repot, kalau sampe ditanya ama Juna nantinya.
" Huh jika bukan karena emak gue yang ngajak, gue nggak bakal kesetanan datang kemari. Bisa bisanya Emak gue kagak ajak Mas gojou. Kan jadi repot!!" Omel Efran duduk disebuah bangku.
" Lagian sapa suruh elu punya emak kayak nyonya besar!" Sambung Sifra dengan nada rendah. Terdengar menjengkelkan ditelinga.
Efran mendelik
" Kamu nanya? Kamu bertanya tanya hah? Tanya aja sama bapak gue itu, kenapa dia bisa jatuh cinta ama emak!! Coba bapak gue single atau cari wanita lain!"
" Maaf ni ye .... loh barusan bilang apa? Gue nggak salah dengar apa? Hei saus tartar. Kalau bapakkmu itu singel alias milih wanita lain, maka Elu ama Bos nggak bakal ada didunia ini. Kan Tuan besar yang bercocok anak diladang nyonya besar, baru Elu bisa lahir. Paham kagak apa yang gue maksud? Coba elu bayangkan. Kenapa sih Juna mau sama wanita sinting, gila, mengong kayak loh?" Sifra berbalik nanya. Apakah Efran tak sadar dengan apa yang ia katakan?
Efran terlihat berpikir sejenak, sebelum berbicara.
" Ya cintalah!"
" Nah itu dia. Cinta Sayang ..... Bapakmu suka ama emakmu ya karena cinta. Masih pake nanya lagi nih anak!!" Jelas Sifra akhirnya.
Ditengah suasana Kota yang begitu Ramai.
Ada seseorang yang menarik perhatian Rose. Kening samar menghiasi wajahnya.
Ia menatap pria bersurai hitam yang tengah gagah berdiri didepannya.
" Eh Sif ...." Panggil Rose seraya menunjuk kearah pria itu.
__ADS_1
" Itu bukannya calon lakik loh ya? Kenapa malah jalan sama perempuan Lont* sih?"
Efran yang kepo juga ikut berbalik. Ternyata benar, bahwa Count Dierez lagi jalan jalan ditemani wanita cantik, yang sekilas mirip pelacur.
" Eh anjirrr, Sif itu beneran Dierez kampret. Wah bisa bisanya dia main dengan perempuan Lont* dibelakangnya Elu!! Kurang ajar banget tuh brengs*k!!" Umpat Efran kelewatan kesal. Gimana nggak kesal coba. Ini nih ciri ciri pria tidak tahu diri, yang modelnya kek Dierez.
Sifra diam terpaku ditempat. Menatap dari jauh kedua pasangan itu.
Melihat keadaan Sifra, Razuna seolah olah mengerti. Ia perlahan mendekati Sifra, Guna membisik ditelinganya.
" Kenapa diam? Hajar saja ....." Ucap Razuna memberi kode.
Segera Sifra berjalan menghampiri kedua pasangan itu.
" Kalian?" Ucapnya mengagetkan kedua pelaku.
Wanita pelacur yang tidak tahu malu itu, kemudian menoleh kebelakang.
Eh malah disambut ama lima pancasilanya Sifra. Kasian sekali.
" Si - Sifra?" Dierez kaget.
" Hai ..." Sapa Sifra tersenyum manis yang malah membuat Dierez semakin ketakutan.
Sifra yang marah. Langsung menarik rambut wanita ******* itu, kemudian menjatuhkannya ditanah. Semua mata tertuju pada mereka.
Dierez yang khawatir segera menghampiri kekasihnya itu guna membantunya.
" Apa yang kau lakukan hah?"
" Bajing*n sialan" Maki Sifra dengan tangan terkepal.
__ADS_1
Dierez langsung mengerti. Ternyata Rahasianya sudah terbongkar. Ya jelas udah terbongkarlah.
Sepandai pandainya kau menyembunyikan ******, tetap aja baunya akan tercium jelas.
" Hubungan Loh ama gue berakhir disini!!"
Seketika Dierez tertawa.
" Hahaha. Kau pintar juga. Baguslah, aku juga tak butuh bantuanmu lagi. Kau tidak ada gunanya lagi disini!!"
" Eh buset tuh mulut perlu dirabek kayaknya!! Berani beraninya dia ngomong kayak gitu didepan bestie gue!!" Pekik Rose protes dengan kepala menggeleng cepat.
" Maksud Loh apaan?" Sifra berbalik nanya.
Entah urat malu udah putus, atau otaknya yang tak beres lagi. Nyatanya Dierez, sangat memandang Remeh terlebih lagi memandang Rendah Sifra.
" Kau tahu alasan terbesar, mengapa aku memlihmu sebagai kekasihku adalah karena Gelar Count ini. Sederhana saja, orang tuaku akan memberikan gelar count padaku dengan satu syarat, aku harus memiliki kekasih!!" Jelas Dierez tanpa Dosa.
" & Akhirnya Loh milih gue karena mau manfaatin gue doang. Terus pas udah dapat tuh gelar. Loh mau campakan Gue? Oh omg. Pantas saja tampang loh, nggak ada bedanya dengan pria bejat pada umumnya!!" Balas Sifra mantap. Sekali lagi Dierez dipermalukan.
Emang pantas sih!
" Semoga hubungan Elu hancur ama tuh pelacur!!"
& pada akhirnya Sifra memilih pergi. Ia tidak akan menangis. Masa ditinggalin pria brengs*k kayak Dierez nangis. Hello, nggak salah dengar apa? Air matanya jatuh sia sia untuk tuh pria?
Tidak, Terima kasih .....
.....
TBC.
__ADS_1