
Di perjalan pulang dari rumah Risa, Rizal terus melamun di kursi mobilnya dengan tatapan terus melihat ka arah luar tanpa mau berbicara sepatah kata pun
Menikah di usia yang masih belia seperti sekarang ini tentu saja tidak termasuk ke dalam kategori rencana hidupnya dari sejak Rizal masih kecil. Akan tetapi, siapa yang akan tahu rencana Allah tentang takdir perjalanan hidup manusia? Kini kehidupan Rizal tidak lagi setenang dan semulus saat ia belum bertemu dengan guru nya di kafe malam itu. Kata demi kata yang terucap dari mulut Risa tadi terus terngiang-ngiang di telinga nya, memikirkan kini tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki bertambah besar. Sekarang tugasnya bukan hanya kerja dan sekolah melainkan juga harus bisa menjadi suami yang bisa menjadi panutan bagi istri beserta anak-anaknya kelak
Mengenai masalah harus bisa menjaga hati untuk istri, membuat Rizal banyak berfikir keras. Ia masih cukup tau diri dengan masalah itu mengingat usia nya yang masih terbilang baru puber ia tidak yakin bahwa ia akan bisa menahan diri dari godaan-godaan perempuan yang akan menggoda nya nanti apalagi saat ini adalah sedang ramai-ramainya musim pelakor yang banyak di bicarakan oleh orang-orang di berbagai media. Dan jika benar hal itu terjadi pasti Rizal akan membenci dirinya sendiri karena sudah gagal melaksanakan janji beserta tugasnya untuk menjaga istri, itu bukan menjaga istri namanya melainkan menyiksa istri secara batin, Rizal yakin jika dirinya sampai tergoda oleh para pelakor di luar sana sampai kapan pun ia tidak akan pernah mau memaafkan dirinya sendiri
Rizal membuang nafasnya pelan, ingin sekali saat ini ia bisa berbagi cerita dengan sesama laki-laki yang mau memahami perasaan nya dan juga ia sangat ingin mengeluarkan semua unek-unek yang memenuhi kepalanya. tapi, mau bercerita pada siapa? Ke ayahnya? Tidak mungkin! Bisa-bisa ia akan mendapat ceramah panjang lebar atau bahkan sampai saja ayahnya itu memberikan hukuman karena sudah berani mengeluh tentang pertanggung jawaban nya, pada Bayu? Ini lebih parah lagi! Bukan nya ia mendapat pencerahan dari pemuda itu yang ada Rizal malah akan merasa frustasi sampai ingin bunuh diri karena pasti saja lelaki itu akan menertawakan kebodohan nya dengan habis-habisan atau bahkan lebih parah lagi si bayu pasti malah akan menawarkan diri untuk menggantikan dirinya sebagai mempelai pria. Oh tidak! Rizal tidak akan pernah rela jika sampai itu terjadi
"Ya Allah, ternyata nikah itu sangatt rumit engga seringan aku membalikkan telapak tangan kaya gini.." Rizal menjerit di dalam hatinya "tapi jika di fikir-fikir lagi sih, sayang juga kalau di batalin pernikahan nya, kapan lagi bisa dapet calon istri se-perfect Bu Risa?"
Pagi harinya Rizal terbangun saat mendengar ponselnya terus berdering tanpa henti, tangannya keluar dari dalam selimut meraba-raba meja mencari ponselnya yang terus berdering "ck, siapa coba yang nelfon sepagi ini ganggu orang tidur aja" gumam Rizal dengan masih belum sadar sepenuhnya ia langsung mengangkat telfon itu
"Halo" ucap Rizal dengan keadaan yang masih mengantuk
"Halo, Rizal?"
Wait, suara cewek?. Dengan mata yang setengah terbuka ia melihat nama kontak penelfon nya disana dan ia langsung terperanjat saat melihat nama kontak "My Love teacher" terpampang dengan jelas disana
"Halo, zal? Hei! Jangan bilang kalau kamu masih tidur" bentak Risa di seberang sana
Rizal terkikik "habis sholat subuh ketiduran lagi, maaf ris. Kenapa ya nelfon sepagi ini? Ada apa?"
"Emm, itu... Aku mau minta tolong" suara Risa disana terdengar rendah seperti sedang malu atau tidak enakan
"Minta tolong apa?" Tanya Rizal sedikit khawatir karena ini tidak seperti biasanya
"Barusan mobilku tiba-tiba mogok di jalan, aku udah pesan ojek tapi engga kunjung nyampe, bisa minta tolong engga anterin aku ke sekolah engga? Ya sekalian berangkat bareng kamu"
"Berangkat bareng? Oke otw ngebut!" Rizal langsung loncat mengambil seragam dan langsung mengenakan nya karena ia sudah mandi sebelum ia melaksanakan sholat subuh tadi
"Rizal, jangan buru-buru eh santai dulu. Emang kamu tau sekarang aku lagi dimana? Kamu belum tanya lokasi aku dimana loh"
__ADS_1
Rizal menghentikan aktivitas nya "oh iya ya, kamu ada dimana emang?"
"Tuh kan, aku lagi di jalan. B"
"Oke, aku tutup dulu ya. Ini mau otw"
Setelah di rasa semua sudah siap dan rapi, lelaki itu pun langsung mengambil kunci mobil milik ayahnya, kali ini ia memutuskan untuk berangkat menggunakan mobil karena ia tidak sendirian melainkan bersama ratu cantiknya
Tepat pukul setengah tujuh lebih sepuluh menit, Rizal berangkat menjemput Risa di jalan yang sudah Risa tunjukan alamatnya untungnya jalan itu tidak terlalu jauh dari rumah Rizal yang mana ia hanya akan membutuhkan waktu 5 menit saja untuk sampai di lokasi jika jalanan itu sedang lenggang dan Rizal tambah beruntung pagi ini jalanan itu sedang tidak terlalu ramai membuat ia merasa leluasa mengendarai mobilnya. dari kejauhan ia sudah bisa melihat wanita yang ia cari nampak sedang berdiri di depan halte bus sambil celingukan kesana kesini seperti sedang mencari keberadaan nya barangkali ia berfikir bahwa Rizal sudah sampai disana
Rizal menghentikan laju mobilnya tepat di depan Risa berdiri "hei, udah lama? Ayo masuk"
"Aku udah dari jam enam lewat seperempat loh diem disini" jawab Risa sembari membenarkan posisi duduknya supaya nyaman di atas kursi penumpang
"Kenapa engga langsung telfon aku aja dari tadi?"
"Emm.. engga apa-apa sih" Risa tidak mau jujur mengatakan bahwa awalnya ia sangat malu ingin menelfon Rizal namun akhirnya ia pasrah juga karena tidak ada cara lain
"Oh ini, lebih tepatnya ini mobil ayah aku. Kebetulan juga jarang di pakek sih sama ayah jadi ya udah aku bawa ini aja" jawab Rizal dengan di ikuti anggukan kepala dari Risa pertanda ia mengerti
"Ngomong-ngomong, kita baru pertama kali ini loh bepergian pake mobil berdua kaya gini. Gimana kalau nanti sore kita jalan bareng? Ya hitung-hitung sebagai kencan pertama lah gitu" usul Rizal antusias dengan penuh semangat
"Engga ah, takut ada seseorang yang liat" Risa menolak
"Ya ampun Bu Risa, Bandung itu luas lho engga sekecil yang ada di fikiran kamu. Ayo lah, jalan-jalan biar kaya orang yang lagi pacaran gitu, masa 4 hari lagi nikah engga pernah jalan-jalan dulu?" Kata Rizal merajuk
"Bu Risa nanti pulang jam berapa?" Tanya nya lagi
"Jam tiga, samaan bareng kaya kamu kalau engga ada rapat dadakan"
"Nah, oke deh nanti sehabis Maghrib aku bakal jemput kamu di rumah, kita sholat Maghrib dulu di rumah masing-masing"
__ADS_1
"Hah? Emang kapan aku bilang setuju sama ajakan kamu?"
"Lah itu barusan"
...
Acara ngajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar bahkan Rizal si pembuat masalah di kelasnya itu kali ini tidak membuat masalah sedikitpun, kali ini lelaki itu bersikap normal dengan semestinya di kelas
Kurang dari 4 hari lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri dari Fakhrizal Alghiffari. Namun ia masih belum menceritakan tentang statusnya pada siapapun alias pernikahan nya ini masih di rahasiakan termasuk dari sahabatnya Lita, bukan nya Risa tidak menghargai sahabatnya itu melainkan ia bingung dan malu harus mulai bercerita dari mana dulu?
"Halo Bu Clarissa, sudah mau pulang juga?" Sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya membuyarkan lamunan Bu Risa
"Oh iya pak Ardi" jawab Bu Risa dengan tersenyum ramah
Pak Ardi adalah seorang guru muda yang usia nya tidak terlalu jauh dari Bu Risa, ia mengajar pelajaran olahraga di sekolah itu. Wajahnya yang tampan rupawan membuat ia banyak di kagumi oleh kalangan para siswi-siswi genit, bahkan tidak sedikit siswi di sekolah itu dengan beraninya mengungkapkan isi hati mereka pada pak Ardi
"Kalau begitu bareng saya saja Bu. Saya juga mau pulang" tawar pak Ardi
"Eh, tidak usah pak. Makasih sebelumnya, tapi saya pulang bareng.. adik saya, ya bareng adik saya" Risa menolak secara halus
Tidak mungkin Bu Risa berkata jujur pada pak Ardi bahwa ia akan pulang bersama calon suaminya yaitu Rizal, hatinya merasa sangat geli jika teringat pada anak muridnya itu yang masih belum ia percayai bahwa sebentar lagi akan berstatuskan sebagai suaminya
"Oh ternyata Bu Clarissa punya adik, ya? Kalau boleh tau siapa nama adiknya?" Tanya pak Ardi mencoba basa basi
"Tapi adik saya cowok pak, jadi engga mungkin bisa bapak deketin" canda Bu Risa
Laki-laki itu terkekeh "kenapa harus deketin adiknya kalau bisa deketin kakaknya"
Bu Risa terdiam, ia melirik aneh sekilas ke arah pak Ardi yang tampak cengengesan
"Rumah Bu Clarissa di jalan A blok B kan? Kebetulan sekali searah sama perjalanan ke rumah saya, dari pada Bu Risa nunggu adiknya kelamaan mending sekalian aja pulang sama saya" kata pak Ardi mendesaknya
__ADS_1
Bu Risa tampak menimbang-nimbang, ia merasa sangat bingung. Kalau ia menerima tawaran pak Ardi, bagaimana dengan Rizal? Anak itu pasti akan mencarinya dan kalau anak itu tahu bahwa dirinya pulang dengan laki-laki lain pasti dia akan marah atau kecewa, dan juga bukankah Bu Risa sudah berstatus sebagai calon istri Rizal dan sudah sepantasnya ia tidak boleh berduaan apalagi sampai satu mobil dengan laki-laki lain, mengingat sikap pak Ardi barusan saja padanya yang terdengar kurang pantas. akan tetapi jika ia menolak ia juga merasa tidak enak karena sudah tidak menghargai niat baik pak Ardi. Aaaah sungguh saat ini Risa merasa sangat bimbang!!