
"bagaimana, mau tidak bu?" Tanya pak Ardi yang masih belum mau menyerah menawarkan tumpangan nya
"Eh iya pak, emm.. itu" Bu Risa terlihat gelagapan bingung mau menjawab apa
"Kalau memang tidak mau ya sudah tidak masalah Bu, akan tetapi saya akan merasa jauh lebih baik kalau Bu Clarissa mau menerima niat baik saya" ucap pak Ardi dengan raut wajah yang di buat-buat kecewa
Mereka tidak menyadari bahwa dari jarak beberapa langkah mereka berbincang, ada seseorang yang menyimak percakapan mereka dengan tangan yang mengepal marah akan tetapi orang itu tidak bisa berbuat apa-apa, ia juga mengerti tentang calon istrinya yang mengakuinya sebagai adik pada teman sekantor nya akan tetapi entah kenapa ia merasa ada sesuatu mengganjal di hatinya karena ia tentu saja akan merasa sangat senang jika calon istrinya itu mengatakan bahwa ia akan pulang bersama calon suaminya
Bu Risa makin merasa tampak canggung karena ia merasa tidak nyaman, ia malah salah tingkah dengan menggaruk rambutnya
Rizal yang mengerti dengan gelagat calon istrinya seperti sedang merasa canggung dan kebingungan, ia pun mengumpulkan segala keberanian nya untuk berhadapan dengan pak Ardi sang guru olahraga nya
"Sama adik ya.. baiklah aku akan mengikuti permainan nya" gumam Rizal kemudian ia berjalan menghampiri Bu Risa
Tanpa aba-aba Rizal langsung memegang tangan Risa "Hai kak, ayo pulang. Maaf udah bikin kakak nunggu lama"
"Apa, hai?" Bu Risa menjawab sekenanya karena ia kaget tiba-tiba tangan nya ada yang narik
"Rizal?" Raut wajah pak Ardi nampak terkejut "jadi, Rizal ini adiknya Bu Clarissa?"
"Iya saya adiknya Bu Risa" jawab Rizal ketus dengan ekspresi wajah yang di buat-buat datar dan judes
Sebenernya sudah dari dulu dari sejak guru muda tampan itu mulai mengajar di sekolahnya Rizal tidak suka padanya, mentang-mentang pak Ardi di karuniai wajah tampan, ia suka tebar pesona seenak jidatnya bahkan suka menggoda siswi-siswi cantik secara terang-terangan membuat Rizal jijik melihatnya. Menurut Rizal sangat tidak pantas seorang guru berbuat demikian pada muridnya, Rizal yakin sudah pasti gurunya ini suka menggoda wanita-wanita di luar sana dan memang sudah pantas di juluki sebagai playboy cap buaya darat
"Kok saya baru tau ya, saya memang sudah tau kalau kamu punya seorang kakak perempuan tapi saya tidak tau ternyata kakak perempuan kamu ini Bu Clarissa" kata pak Ardi
"lagian buat apa juga bapak tau"
"Rizal kamu jangan engga sopan gitu!" Tegur Bu Risa
Rizal hanya memutar bola matanya malas saat ini suasana hatinya sedang tidak mendukung karena ulah pak Ardi yang berani mendekati calon istrinya
__ADS_1
"Karena Rizal adik Bu Clarissa, jadi tidak masalah Bu, saya maklumi itu tenang saja" pak Ardi terkekeh
Rizal berdecih
"Ayo kak, buruan pulang" Rizal menarik tangan Bu Risa mengajaknya pergi, karena semakin lama ia melihat wajah pak Ardi semakin membuatnya merasa muak dan jijik apalagi dengan kata-kata manisnya yang suka terlontar pada semua wanita
"Mohon maaf, saya permisi duluan ya pak" pamit Bu Risa dengan perasaan yang tidak enak
"Oh iya Bu tidak apa-apa silahkan"
Rizal membukakan pintu mobilnya untuk Bu Risa "ayo masuk"
Bu Risa menurut, ia langsung masuk dan duduk dengan nyaman
"Mesin mobil udah nyala, Jangan lupa pakai sabuk pengaman" peringat Rizal dengan suara yang terdengar datar
Lagi-lagi Bu Risa langsung menurut, ia mengerti dengan suasana hati Rizal yang sedang buruk saat ini makanya ia melakukan apapun yang Rizal suruh karena tidak mau makin memperburuk suasana hatinya
"Kamu udah lama disana tadi? udah lama nungguin aku?" Tanya Bu Risa mencoba mencairkan suasana di dalam mobil itu yang tampak dingin tak bersuara kecuali suara mesin mobil saja
Risa memutarkan tubuhnya ke samping menghadap Rizal "ngambek karena itu ya'? Maaf ih. Aku kan bingung mau jawab apa, engga mungkin juga aku bilang kalau aku mau pulang bareng calon suamiku"
"Ya apa salahnya bilang? Toh si buaya itu juga engga akan tau kalau yang jadi calon suami kamu itu aku"
"Iya, tapi tetep aja. gimana kalau dia minta undangan pernikahan kita? Kan aku juga engga berniat ngundang" Risa mencoba meminta pengertian
Terdengar suara hembusan nafas kasar dari mulut Rizal pertanda ia masih kesal
"Rizaall" panggil Risa dengan suara yang di buat-buat lembut
"Huh?" Sahutnya dengan masih enggan menoleh
__ADS_1
"Aku pengen nya nikahan kita ini nantinya cuma di hadirin oleh para keluarga kita aja termasuk orang-orang terdekat kita, jangan sampe semua penduduk sekolah tahu tentang pernikahan kita, pokoknya yang simpel aja udah" pinta Risa
Sudut bibir Rizal terangkat "Kenapa? Kamu malu punya suami kaya aku?"
"Ih bukan gitu Rizal! Kamu jangan suka bikin kesimpulan sendiri dong" kata Risa ngambek
"Terus?" Tanyanya cuek
"Kamu tuh harus inget Rizal kalau kamu masih sekolah. Aku cuma kasihan aja sama kamu, kalau sampe temen-temen di sekolah kamu tahu kalau kamu nikah sama guru, apa kata mereka? bisa-bisa nanti temen-temen kamu banyak menggunjing dan menyangka negatif tentang kamu, image baik kamu di hadapan temen kamu bakal hilang semua"
Rizal terdiam memikirkan perkataan guru sekaligus calon istrinya ini. Bagi Rizal, perkataan Risa tidak sepenuhnya salah akan tetapi juga tidak sepenuh nya benar. Rizal berfikir, bahwa tidak ada salahnya dengan menikah, kenapa harus di sembunyikan? Seharusnya yang salah itu mereka-mereka semua yang terang-terangan berpacaran di lingkungan sekolah. Akan tetapi, yang menjadi masalah disini adalah usia Rizal sebagai seorang laki-laki masih terbilang sangat muda untuk berstatus sebagai suami dan itu akan terlihat aneh Dimata teman-teman nya. Pasti mereka semua akan menertawakan dan menggunjing jika sampai mereka semua tahu
"Kalau masalah itu, ya udah terserah kamu aja pernikahan kita mau gimana. Nanti aku omongin juga sama orang tuaku" kata Rizal pasrah mengalah karena ia juga sudah tidak punya alasan apa-apa lagi untuk mengelak
"Beneran engga masalah?" Risa kembali bertanya memastikan
Rizal mengangguk
Risa tersenyum senang, tanpa sadar tangan nya merangkul lengan Rizal yang tengah memegang kemudi mobil membuat Rizal juga ikut tersenyum senang, sekarang ia sudah menemukan kebahagiaan terbarunya yaitu melihat senyuman menyejukkan dari wajah cantik seorang Risa
Mereka terus banyak berbincang di sepanjang perjalanan pulang ke rumah Risa karena suasana hati Rizal yang berangsur-angsur membaik seperti semula, sampai mereka tidak menyadari dan tidak merasa bahwa perjalanan akan segera berakhir dan sampai di rumah Risa
"Stop Rizal, berhenti disini aja. Biar kamu gampang belokin mobilnya" pinta Risa
"Tapi, apa aku engga harus salaman dulu sama om, Tante?" Tanya Rizal
"Engga perlu deh, nanti aku aja yang sampein salamnya. Makasih loh udah nganter jemput aku" Risa membuka pintu mobilnya keluar
"Sama calon suami bukan Sama orang lain, ngapain pakek kata makasih segala" Rizal berdecak
Risa terkekeh "ya udah sampai jumpa nanti, bye"
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Risa mengetuk pintu namun ternyata tidak ada orang di dalam. Ia meraba-raba pot bunga di samping pintu rumahnya barangkali mamahnya meninggalkan kunci rumah disana seperti biasanya disaat bepergian, karena kakak pertamanya sudah berumah tangga dan sudah pisah rumah dengan orang tuanya memilih tinggal bersama suaminya di rumah sendiri
Dan ternyata benar mamahnya menyimpan kunci rumah disana, ia langsung membuka pintu rumah itu dan masuk ke kamarnya kemudian ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Begitu tubuh nya terbaring, Ibu guru muda itu langsung memikirkan Rizal yang tadi terlihat sangat serius ingin menjalin hubungan bersama nya bahkan tadi pagi saja Rizal begitu sangat bersemangat dan antusias ingin mengajaknya kencan berdua malam ini, ia bingung memikirkan apa yang sebenarnya ada di benak fikiran calon suaminya itu? Apakah dia benar-benar suka pada Risa ataukah hanya keterpaksaan belaka karena suatu keadaan yang membuat nya terjebak di situasi seperti ini??