Will You Marry Me Teacher?

Will You Marry Me Teacher?
Eps. 28 ~After Marriage


__ADS_3

"bang, nanti aku tidur dimana ni?" Tanya Faris yang tengah menatap layar laptop milik Rizal, setelah tadi selesai makan ia langsung memainkan game yang ada di laptop sang kakak


"Di sofa lah" jawab Rizal ketus, ia masih kesal pada adiknya yang sudah dua kali mengganggu kemesraan nya bersama Risa


"Kalau kamu pengen tidur di kamar, itu masih ada kamar kosong kok. tapi beresin sendiri ya" timpal Risa, ia mencoba menghilangkan perasaan canggung pada adik iparnya


"Siap mba! Makasih" seru Faris


Risa ikut duduk di sofa di samping suaminya walaupun sebenernya ia sudah sangat ngantuk, dengan terlihat berkali-kali Risa terus menguap, namun sebisa mungkin ia tahan karena tidak enak dengan Faris yang masih asik memainkan game nya


Rizal yang mengerti bahwa istrinya sudah mengantuk pun menghentikan bermain game nya


"baby.. ayo tidur, kamu keliatan udah ngantuk banget tuh" ajak Rizal, ia berdiri dari duduknya dan meraih kedua tangan Risa untuk membantunya berdiri


"Faris, mba masuk duluan ya" pamit Risa


"Iya mba Risa, silahkan" kata Faris manggut, dan tatapan nya berpindah pada Rizal "bang Ijal mau nyicil bikin keponakan buat Faris kan?" Kata nya setengah berbisik, namun masih terdengar oleh telinga Risa, membuat pipinya merah menahan malu


"Apaan nih, bocil." Rizal menoyor kepala Faris membuat si empunya mengaduh "kamu masih bocah, diem aja engga usah banyak omong"


"Mana ada, aku udah gede bang. Aku juga udah bisa bikin sendiri kalau ada pasangan nya." Desis Faris, kesal


"Jangan macam-macam kamu. Sekolah dulu yang bener!" Omel Rizal


"Padahal bang Ijal juga masih sekolah!" Bantah Faris


"Abang kan istimewa!" Sengit Rizal tak mau kalah


"Udah, udah jangan bertengkar. Kamu jadi tidur engga mas? Kalau engga, ya udah aku juga bisa tidur di kamar sendiri" dumel Risa


"Eh ya engga bisa gitu lah baby." Rizal menahan tangan Risa yang hendak pergi "jangan lupa pakai headset ya ris, biar kamu engga denger apa-apa soalnya bahaya kalau sampe denger, nanti kamu jadi makin pengen" perkataan Rizal barusan langsung dihadiahi cubitan di perut oleh istrinya


"Kurang ajar kamu, bang!"

__ADS_1


...


Rizal dan Risa sama-sama membaringkan tubuhnya dengan saling berhadapan setelah ia memastikan pintu kamarnya tertutup rapat dan di kunci sesuai permintaan Risa, tiba-tiba Rizal Terkekeh tanpa sebab membuat Risa mengerutkan keningnya bingung


"Kenapa, mas?" Tanya Risa


Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya "kenapa kamu engga langsung tidur aja? Padahal dari tadi mata kamu udah keliatan ngantuk berat gitu"


"Emang engga apa-apa, mas?" Risa malah balik bertanya dengan raut wajah yang terlihat polos


Rizal yang melihat itu langsung tertawa gemas pada istrinya "engga apa-apa sayang, emang bulanan kamu udah selesai?"


"Udah kok, tadi kan aku mandi keramas buat bersih-bersih" jawab Risa


"Ohh, ya udah. Tidur aja, mata kamu udah loyo tuh"


"Bener? Takutnya kamu pengen ngajak aku lembur malam ini"


Rizal menundukkan wajahnya kemudian ia mengecup kepala sang istri, lalu turun ke kening, kedua kelopak mata, kedua pipi hidung dan yang terakhir adalah bibirnya. Risa hanya bisa memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan lembut bibir suaminya yang bertubi-tubi mencium seluruh wajahnya. Saat bibir Rizal menyentuh bibir Risa, perempuan itu ikut membalas setiap *******-******* kecil yang di berikan oleh suaminya, ia mengalungkan tangan nya pada belakang leher Rizal. Kedua nya saling berbagi kehangatan yang menguar di tubuh mereka dengan di tambah cuaca yang dingin karena hujan di luar masih tak kunjung mereda


"Good night, Risa istriku" ucap Rizal


"Night too, mas Rizal suamiku" Risa meringkuk di bawah selimut dengan kepala yang tersandar pada dada bidang milik sang suami. Ini adalah posisi tidur favorit nya yang paling nyaman


...


Jam dinding besar yang terpajang di dalam sebuah masjid di tengah komplek perumahan itu berbunyi terdengar jelas di seluruh penjuru komplek dan sampai ke dalam rumah warga "tepat pukul satu"


Di tengah-tengah tidur lelapnya samar-samar Risa mendengar suara seseorang merintih ketakutan


"Ayah.. jangan tinggalin Rizal, ayah. Rizal takut, ayah.." katanya entah Rizal sedang mengigau atau tidak


Risa langsung mengerjap bangun saat mendengar suara itu. namun ia kaget saat membuka matanya dan seluruh ruangan kamarnya sangat gelap, tak terlihat setitik pun cahaya, dengan cepat tangan Risa meraba-raba atas bantalnya mencari keberadaan ponsel miliknya yang tersimpan disana, ia langsung menyalakan senter di ponsel itu dan menyoroti ke arah Rizal yang tengah meringkuk di samping Risa dengan tubuh yang menggigil hebat, keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya, Rizal terus bergumam memanggil ayahnya

__ADS_1


"Mas, mas Rizal. Kamu kenapa mas? Bangun mas!" Teriak Risa panik, namun rupanya Rizal tidak tidur dengan cepat Risa mengangkat kepala Rizal dan menidurkan di atas pahanya


"A.. ayah, jangan tinggalin Rizal" katanya masih dengan suara yang bergetar dan terdengar lemah, air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya


"Mas, mas kenapa?" Kepanikan Risa yang berlebihan membuat ia tidak bisa melakukan apa-apa


"Farissss!!!! Bangun!!!" Teriakan suara Risa menggema di seisi rumah itu berharap sang adik ipar bangun mendengar suara teriakan nya, dan benar saja tidak lama Faris datang dengan tergopoh-gopoh sembari memegang senter besar di tangan nya


"Ada apa mba?" Tanya Faris yang ikut panik


"Ini, mas Rizal kenapa? Mas Rizal!!" Kata Risa dengan suara yang ikut gemetar, rupanya Risa ikut menangis karena paniknya


"Bang Ijal!" Faris ikut berteriak menghampiri Rizal "dia engga bisa ada di ruangan yang gelap, mba. Mba punya senter yang lebih besar? Atau kalau engga ya lilin, tapi yang banyak!"


"Lilin? Ada banyak di laci dapur, cepat ambil" perintah Risa, dengan tak henti-hentinya mengusap rambut sang suami


Faris mulai menyalakan lilin satu per satu di seluruh sudut ruangan kamar itu dan tak lupa ia mengangkat gorden jendela kamarnya ke atas supaya tidak terjangkau api dari lilin, setelah seluruh ruangan kamar itu cukup terang karena cahaya dari lilin yang banyak, perlahan Rizal kembali tenang, keringat dingin nya mulai berkurang walau gemetar di tubuhnya masih sedikit ada, sementara Risa masih setia mengusap wajah suaminya dengan kompres air hangat yang tadi Faris bawakan dan Faris juga masih setia menemani kedua kakaknya disana


"Seperti nya mas Rizal punya trauma ruangan gelap, benar Faris?" Tanya Risa pada adik iparnya yang tengah melamun di atas kursi meja belajar milik Rizal


Faris mengangguk "benar, mba. Semua ini karena ayah"


"Gimana? Bisa kamu ceritakan sama, mba?" Pinta Risa penasaran


Mata Faris menatap lurus kedepan seolah sedang menerawang dan mengingat dengan baik kejadian apa yang pernah terjadi sebelumnya


"Dulu, waktu masih kelas 3 SD, bang Ijal engga naik kelas selama tiga tahun berturut-turut, ayah marah. Beliau menghukum bang Ijal dengan cara mengurungnya di sarang burung walet. Entah itu mungkin ayah khilaf atau apa, tapi waktu itu ayah marah banget, ayah terobsesi ingin semua anaknya menjadi anak yang pintar di sekolah, engga ada yang menyangka bahwa perbuatan apa yang ayah lakukan ini sangat berakibat fatal, setelah kejadian itu bang Ijal suka nangis sendiri, suka tiba-tiba teriak sendiri, cukup sulit bagi kami sekeluarga untuk mencoba menyembuhkan trauma yang di alami bang Ijal supaya bisa sembuh seperti semula.." Faris menghentikan ceritanya tidak kuat melanjutkan, ia mencoba menahan air mata yang hendak keluar dari matanya yang terasa panas ia merasa sedih jika harus mengingat kenangan buruk yang di alami kakak laki-lakinya


Hati Risa terasa sakit seperti teriris mendengar cerita dari sang adik ipar, tak pernah ia sangka muridnya yang tengil yang suka membuat masalah di kelas yang pernah ia sangka sebagai anak nakal yang hobi main di klub, ternyata anak itu punya masa lalu yang cukup mengejutkan, kini laki-laki itu telah menjadi suaminya, orang yang kini sangat di cintai nya. Air mata Risa jatuh menetes mengenai pipi Rizal


"Mba, sebaiknya tidur lagi ya. Ini masih tengah malam, aku mau tidur di sofa, pintu kamarnya di buka aja ya. Biar kalau ada apa-apa, mba gampang tinggal manggil aku" kata Faris berdiri dari duduknya "besok juga mas Rizal bangun, emang gitu mba kalau udah merasa tenang dia langsung tidur pulas, nanti pas bangun dia engga akan ingat kok sama kejadian barusan" jelas Faris, kemudian ia berjalan keluar dari kamar


Risa mengangguk, ia memindahkan kepala suaminya ke atas bantal dengan memastikan posisi nya sudah nyaman, tak lupa juga ia menyelimuti tubuh Rizal dan mencium kening suaminya cukup lama, lalu ia pun kembali ikut terlelap

__ADS_1


__ADS_2