
Malam harinya..
Benar saja Rizal datang ke rumah Risa membawa keluarganya, dan yang paling heboh disana adalah Farah kakak dari Rizal dan juga sahabat dari Risa
Saat makan malam bersama, mata Risa tak lepas menatap keluarga Rizal satu persatu di mulai dari ayahnya, ibu nya kemudian adik bungsunya tapi tidak dengan Farah, bagi Risa wajah Farah sudah terlihat membosankan karena dari dulu saking seringnya ia selalu bersama Farah.
Nasib Risa akan di tentukan malam ini, dengan persetujuan nya kedua orang tua Rizal akan pernikahan ini. Sejak tadi ia sudah menyiapkan argumen terbaiknya supaya mereka mau membatalkan pernikahan konyol ini dengan bocah nakal itu
Sebenernya saat ini juga perasaan Risa sudah sangat kacau, ingin sekali sekarang Risa melemparkan piring tempat makan nya di depan ini kemudian ia mengambil pecahan piring itu dan mengancam keluarga nya bahwa ia akan bunuh diri dengan menggoreskan pecahan piring pada pergelangan tangan nya jika keluarga nya ini masih memaksa dirinya untuk menikah. Akan tetapi seorang Risa tetaplah Risa. Ia tidak punya perilaku buruk seperti itu dan juga ia tidak punya keberanian sejauh itu, ia masih sayang dan takut kepada orang tua nya.
setelah selesai makan malam, semua keluarga berkumpul membicarakan intinya yaitu tentang pernikahan mereka, argumen yang sudah sedari tadi Risa siapkan hanyalah sia-sia karena kalimat itu tidak jadi ia ucapkan saat ia melihat senyuman menyejukkan dari laki-laki yang menjadi calon suaminya yang berani berkata dengan lantang bahwa ia siap menjadi suami untuk Risa. Namun, jika di fikir-fikir lagi apa Rizal si bocah ingusan ini sudah mengerti bahwa pernikahan adalah sebuah janji suci yang bukan main-main dan akan hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup? Risa yakin bahwa Rizal belum mengerti akan hal itu jika dilihat-lihat dari gayanya saja selangit tapi pengetahuan nya tidak ada.
Risa kembali menimbang-nimbang haruskah ia mengatakan argumen nya atau tidak? dalam fikiran nya juga selalu terbersit jika memang benar pernikahan ini akan membahayakan untuknya tidak mungkin juga ayahnya akan bersikeras menikahkan nya dengan Rizal, Risa yakin dan selalu percaya bahwa pilihan orang tua untuk anaknya akan selalu jadi yang terbaik dan tidak akan pernah salah, semoga saja. Ia harus banyak berdo'a pada Allah meminta supaya Rizal benar-benar bisa menjadi suami yang baik sekaligus imam yang bisa membimbing nya kelak
Rizal sedari tadi asik memainkan game mobile legend di handphone nya terperanjat saat tiba-tiba ada seseorang yang merebut ponselnya ia mendongak ke atas dan mendapati Risa yang tengah berdiri sembari memegang Handphone nya, perempuan itu lalu ikut duduk di sofa di samping Rizal
"Zal, kita perlu bicara!"
"Nanggung banget Risa! Bentar lagi aku savage padahal mah itu" protes Rizal kesal
__ADS_1
"Gimana ceritanya coba kerjaannya aja masih suka main game kaya anak kecil udah sok-sokan mau jadi suami aku" omel Risa sembari melayangkan tatapan tajam laki-laki yang tengah duduk di sampingnya itu
Nyali Rizal langsung menciut seketika, ia terdiam menelan ludahnya dengan susah payah
"Rizal, ini udah hampir malem dan sebentar lagi juga kamu sama orang tua mu pulang, kita perlu bicara sebentar"
Rizal membenarkan posisi duduknya "oke, mau ngomongin apa nih? Mau ngomongin masa depan kita atau mau ngomongin masalah kita punya anak berapa?"
"Ih apaan coba, dasar mesum! Aku serius loh Rizal!" Tegas Risa tak lupa dengan pelototan nya
Rizal memutar bola matanya malas, ia paling malas jika melihat calon istrinya ini sedang dalam mode galak seperti sekarang "iya iya serius"
Rizal langsung mengerti akan apa yang Risa rasakan saat ini jika dilihat melalui gelagat nya "terus kenapa? Sepertinya ternyata kamu masih belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya?"
Risa menggelengkan kepalanya "bukan gitu, tapi aku takut kamu yang masih belum bisa menerima pernikahan kita"
"Bukan nya kamu udah liat dengan jelas tadi apa yang udah aku lakukan itu adalah sebagai bukti kalau aku udah Nerima pernikahan ini dengan sepenuh hati" Rizal mengangkat salah satu alisnya
"Sebelum tadi kamu bilang kaya gitu apa kamu udah bener-bener mengerti kalau pernikahan itu harus terjadi satu kali dalam seumur hidup, kamu harus udah bisa jaga hati buat istri kamu yang mungkin aja suatu hari nanti bakal engga secantik seperti sekarang lagi karena sejatinya manusia engga selamanya muda, apa kamu udah bisa menerima apapun itu konsekuensi nya setelah menikah? Dan juga yang paling penting disini adalah apakah kamu bisa mencintai istri kamu? Apalagi kita masih belum mengenal satu sama lain dengan sepenuhnya, kita cuma baru kenal dengan sebatas guru dan murid aja"
__ADS_1
Rizal langsung mengerti dengan apa yang dirasakan oleh perempuan itu, Risa pasti khawatir akan kehidupan nya setelah menikah dengan dirinya kelak, akankah Risa bisa bahagia bersamanya ataukah sebaliknya? Harapan besarnya tentu saja rizal sangat ingin perempuan itu bahagia bersamanya tapi apakah dirinya bisa menjamin kebahagiaan itu akan ada? Namun Rizal mencoba menutupi perasaan dirinya yang seperti Risa itu kuat-kuat
"Kamu percaya aja sama aku ya, insya Allah aku bakal bisa jadi suami yang bisa kamu andalkan dan juga aku akan berusaha menjadi suami seperti apa yang kamu harapkan dalam do'a do'a kamu selama ini" jawab Rizal yakin
"Aku engga mengharapkan lebih kok, aku cuma minta suami yang setia, yang bisa dan mampu menafkahi anak istri secara lahir batin, yang bisa membimbing ku supaya lebih dekat kepada Allah suami yang engga suka main tangan atau kasar, yang bisa Nerima segala kekurangan aku beserta keluargaku, dan yang paling penting suami yang bisa menghargai aku sebagai istrinya" Risa menjelaskan semua itu dengan suara yang terdengar lirih
"Aku yakin kok, engga akan terlalu sulit buat aku menjalani kewajiban ku sebagai suami kamu, dan juga kamu tidak perlu khawatir soal di hargai, kamu adalah orang yang pantas aku hargai, Clarissa Andini" ujar Rizal dengan tersenyum lebar
"Dan aku juga pasti bakal berusaha buat menjadi istri yang baik untuk kamu, akan tetapi aku manusia masih seperti yang lain yang tidak bisa lepas dari kesalahan, kamu sebagai suami tegurlah aku disaat aku melakukan kesalahan. Tapi tolong jangan kasar, aku engga mau di sikapi secara kasar" tutur Risa
Rizal terkikik dalam hati mendengar penuturan Risa. Calon istrinya ini memang sedikit aneh, sendirinya hobi sekali bersikap galak dan kasar kepada muridnya namun sendiri nya malah tidak mau jika ada orang lain yang menyikapi nya dengan kasar
"Oke pasti. Aku yakin kamu pasti bisa!" Seru Rizal dengan tangan yang di kepalkan ke atas memberikan semangat untuk calon istrinya
"Ya udah cuma itu aja yang mau aku sampaikan, sampai jumpa lagi besok di sekolah" Risa berdiri dari duduknya beranjak pergi, namun baru beberapa langkah berjalan. ia kembali memutarkan tubuhnya ke arah Rizal "oh iya, satu lagi ada yang ketinggalan. Tolong kalau di sekolah jangan songong, walaupun kamu calon suamiku tetep aja aku engga bakal segan-segan hukum kamu kalau kamu melakukan kesalahan"
"Siap Bu guru!" Rizal langsung berdiri tegap dengan tangan hormat pada Risa membuat Risa terkikik geli
"Tapi, kalau udah jadi suami masa Bu Risa masih mau tetep galak aja?" Tanya Rizal
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu udah mulai berani ngatain aku galak? Iya. Gitu?" Pekik Risa dengan wajah yang di buat-buat segalak mungkin pada lelaki muda yang kini akan berstatuskan sebagai suaminya dalam satu Minggu ini.