
Malam hari itu, di luar terdengar suara hujan yang deras, dan saat ini seorang istri muda yang bernama Risa tengah memasak makanan untuk makan malam
"Uuhh.. senangnya hujan di malem-malem gini di tambah sama makanan sup yang anget-anget" gumam Risa sembari mencicipi kuah sup yang sedang ia masak "sedikit kurang garam"
Di tengah ke asikan Risa memasak, ada sebuah tangan yang tiba-tiba saja melingkar erat ke sekeliling perut langsing nya
"Wah.. ini wanginya enak banget sih sayang, udah pasti rasanya jauh lebih enak nih" kata si pemilik tangan itu
"Pengen nya sih gitu, tapi gimana aku bisa masak dengan tenang kalau cara mas terus aja nempel kaya gini sama aku" omel Risa
"Aduh.." karena tidak fokus, tanpa sengaja jari telunjuk Risa menyentuh panci panas yang berisikan sup mendidih
"Kenapa baby?" Tanya Rizal panik
"Aduh panas ih, kamu sih mas ngeganggu aku masak aja" Risa memerhatikan jari telunjuk nya yang terasa panas
"Eh maaf baby, engga sengaja" Rizal membalikkan tubuh Risa supaya menghadap dirinya "sini mana mas Rizal liat sakitnya" kemudian ia mengambil jari telunjuk sang istri yang katanya terasa panas kemudian ia memasukkan jari itu ke mulutnya
"Eh?" Jantung Risa berdebar-debar
"Kamu ini, kadang bisa ceroboh juga ya, Rizal menarik ikatan rambut yang mengikat rambut Risa" Rizal semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Risa membuat Risa harus mundur hingga bokong nya terjedug pada tembok meja kompor
"Sengaja mancing aku ya?" Tangan Rizal memegang dagu Risa
"Eh apa sih mas? Eng.. engga kok" Terkadang Risa juga merasa gugup jika Rizal berlaku seperti ini
"Hem.. oh, ya?" Rizal menempelkan bibir miliknya pada bibir Risa
Namun, baru saja mereka saling menempelkan bibirnya satu sama lain tiba-tiba saja suara ketukan pintu kembali mengganggu kemesraan mereka membuat tubuh Rizal langsung merosot antara lemas dan kesal, ia menenggelamkan wajahnya pada dada sang istri
Risa yang mengerti suaminya sedang kecewa, ia terkekeh sembari mengusap belakang kepala Rizal "kecewa lagi ya, mas?"
"Kemarin di ganggu pak RT, sekarang siapa lagi yang berani mengganggu?"
"Buka dulu sana pintu nya, mas"
"Engga mau, lagipula siapa orang yang ngetuk pintu rumah di tengah hujan deras gini" Rizal masih betah menyembunyikan wajahnya di sana
"Eh engga boleh gitu, makanya kita harus bukain dulu pintu nya biar tau siapa yang dateng, takutnya tamu penting"
__ADS_1
"Kamu aja ya yang bukain pintu nya, by?" Kata Rizal
"Bukain ya, mas Rizal sayang" perintah Risa dengan nada suara yang di buat selembut mungkin
Tentu saja Rizal langsung luluh dan nurut jika mendengar suara istrinya yang di buat seperti ini, tetapi dengan langkah malas ia berjalan ke arah pintu depan "tamu engga tau diri mah gitu, datang nya suka engga tepat waktu" gerutu Rizal dengan suara yang pelan
Matanya membulat lebar karena terkejut saat ia melihat siapa tamunya dan mendapati sosok yang tengah berdiri di balik pintu yang tak lain itu adalah Faris, adiknya!
"Assalamu'alaikum, bang Ijal" ucapnya sembari mengambil tangan kakaknya yang masih terbengong-bengong, kemudian ia mencium tangan kakaknya itu
"Mas.. siapa tamu nya?" Tanya Risa yang berjalan dari arah dapur
"Assalamu'alaikum, mba Risa" ucap Faris pada kakak iparnya, dengan buru-buru ia langsung membuka jas hujan yang ia kenakan kemudian ia masuk ke dalam rumah itu mendekat pada Risa tak lupa juga ia menyalami tangan Risa
"Wa'alaikumsalam. Eh, Faris kan ya?" Tanya Risa, memang Risa masih belum terlalu kenal dengan adik iparnya, ia hanya baru dua kali bertemu dengan Faris yakni saat acara pelamaran dan acara pernikahan nya dengan Rizal, memang ia sempat satu rumah dengan orang tua Rizal namun tidak lama dan selama ia tinggal disana ia jarang bertemu dengan anak itu, karena Faris juga jarang di rumah, ia lebih sering ikut ayahnya kerja
"Iya, mba" jawab Faris sopan
Risa menggoyang-goyangkan bahu Rizal yang masih tengah mematung seolah tidak percaya dengan kedatangan sang adik "mas Rizal. Eh, ngapain kamu malah bengong-bengong gitu"
Tatapan mata Rizal malah melirik ke arah Faris kemudian ia menguyel-uyel pipi adiknya, membuat Faris mengaduh "sakit bang!" Katanya
"Woy bocah, ngapain kamu kesini malam-malam gini, sampe nerobos hujan deras gini?!" Tanya Rizal tiba-tiba ia sewot
"Mba Risa, liat nih si Abang langsung marah-marah aja engga nyuruh aku duduk dulu" lapor Faris pada kakak iparnya
"Iya ih mas, seharusnya kamu suruh Faris duduk dulu liat dia lagi kedinginan gitu" timpal Risa
"Engga di rumah engga dimana mana kerjaan nya ngadu aja terus nih bocah. Dasar tukang ngadu" cibir Rizal kesal
Faris hanya tersenyum penuh kemenangan dengan tatapan yang jahil pada kakaknya
"Jadi gimana? Ngapain kamu kesini?" Tanya Rizal lagi tanpa menghiraukan gurauan adiknya
Guna memberikan ruang pada kakak beradik yang akan berbicara, Risa pun memilih masuk ke dapur membuatkan minuman hangat untuk Faris minum
"Mamah sama ayah pergi ke Cianjur tadi pagi, terus aku di suruh jagain rumah" jawab Faris
"Nah itu di suruh jagain rumah, ngapain kamu malah kesini?" Tanya Rizal lagi setengah jengkel
__ADS_1
"diem dulu bang, yaelah aku juga masih belum selesai ceritanya ini. Aku kesini gara-gara suara air galon di rumah bunyi sendiri" jelas Faris
Rizal langsung tertawa terbahak-bahak "terus, kamu kabur kesini gara-gara takut sama suara itu?"
Faris memutarkan bola matanya kesal padahal ia masih belum selesai cerita, kakaknya malah sudah tertawa terbahak-bahak "belum selesai bang! Kali ini suara air galon nya kedengeran beda, di tambah sama suara hujan di luar, apalagi aku lagi sendirian dirumah jadi menambah aura menyeramkan disana" Faris memegang belakang lehernya yang terasa merinding membayangkan kejadian barusan
Rizal mengambil koran yang terlipat di atas meja kemudian ia menggulungkan koran itu dan memukulkan pada jidat Faris "bunyi suara galon itu udah hal biasa, perasaan takut itu cuma bayang-bayang kamu aja! Aslinya mah engga ada apa-apa"
Faris berpindah duduknya ke samping Rizal dan merapatkan posisi duduknya pada sang kakak
"Bukan cuma itu bang, pas perjalanan mau ke sini jalanan di perumahan ini kebetulan lagi sepi, mungkin efek hujan. Lampu motorku engga sengaja menyorot ke batang pohon nangka yang ada di jalan masuk ke perumahan ini. sekilas, Aku kaya liat putih-putih ngegantung di sana"
"Beneran?" Tanya Rizal setengah takut dan di balas anggukan oleh Faris
"Beneran apa mas?" Tanya Risa yang tiba-tiba ikut nimbrung dengan membawa dua gelas teh hangat untuk suami beserta adik iparnya membuat kakak beradik itu saling mengerjap kaget
"Oh engga bukan apa-apa, ceritanya nanti aja" Rizal menyengir, bukan apa-apa ia tak mau istrinya ketakutan apalagi Risa sering sendirian di rumah
"Ish gitu" gerutu Risa sebal "oh iya mas, aku lagi masak, garam nya habis, bisa tolong belikan garam di toserba sana?"
Memang di daerah sana tidak ada warung sembako terdekat, para masyarakat disana jika harus belanja kebutuhan dapur harus ke toserba yang letaknya tepat di depan komplek masuk ke perumahan
"Garam ya?" Rizal menelan ludahnya susah payah
Risa mengangguk "nih uangnya" sembari menyodorkan satu lembar uang sepuluh ribuan
"O.. oke" dengan berat hati Rizal menerima uang dari tangan Risa sementara adiknya di samping tengah cengengesan menertawakan dirinya yang sedang ketakutan
"Pakek motorku aja bang biar cepet, nih kunci nya." Kata Faris
Rizal menerima kunci tersebut sembari menatap tajam pada adiknya "jagain kakak ipar-Mu di rumah, jangan di apa-apain jangan macam-macam, awas aja kalau sampe macam-macam engga bakal abang bawa pulang lagi motor kamu" ancam Rizal
"Mas... Udah ih sana pergi, ngapain coba nakut-nakutin adik sendiri" Risa menarik tangan Rizal supaya mau berdiri, dan mengantarkan Rizal ke depan pintu
"Dadah" teriak Rizal, padahal ia cuma pergi ke depan komplek tapi entah kenapa harus pake acara dadah-dadah segala
"Jangan lama-lama ya mas."
Aduh, jantung ku kenapa berdebar terus jadinya, kenapa wajah mas Rizal makin hari makin tampan gini, apalagi sikapnya yang semakin manis. Padahal ini bukan pertama kali lihat, tapi kenapa selalu bikin wajahku terasa panas. Seperti nya aku masih belum terbiasa Dengan sikap nya, ah ini sangat menyebalkan! Mas Rizal selalu memberi aku kejutan di setiap harinya, entah kejutan apa lagi yang akan dia berikan di kemudian hari, aku berharap semoga rumah tangga kami selalu harmonis selamanya. Gumam Risa, ia terus berbicara sendiri di sepanjang jalan ia menuju dapur, bahkan ia tidak menyadari bahwa sang adik ipar sudah tidak ada lagi di sofa
__ADS_1