
Di sekolah, Rizal tengah asik menatap layar ponsel, ia terlihat bahagia mencari-cari tempat wisata atau hotel yang bagus yang berada di puncak Bogor, ia banyak memilih mengira-ngira tempat wisata mana yang bakal disukai oleh Risa, ia sudah tidak sabar ingin segera berkencan lagi dengan sang istri pertama kali setelah menikah. Hatinya mulai merasa sangat lega saat mendengar pengungkapan jujur dari istrinya beberapa hari yang lalu, itu berati ia sudah punya harapan bahwa rumah tangga nya akan selalu baik-baik saja apalagi di tambah dengan ungkapan Risa bahwa ia akan mencoba menumbuhkan rasa cinta dan mencoba membuka hati untuk menerima nya
Rizal juga bertekad bahwa ia akan membuat Risa selalu bahagia bersamanya dan akan menjadikan kencan pertama nya ini sebagai kenangan yang tak akan bisa Risa lupakan, karena sejujurnya saja Rizal sudah jatuh cinta dan menaruh hatinya untuk Risa seorang
Di sela-sela ia melamun tiba-tiba ke tiga temannya datang menghampiri Rizal, yakni Zidan Leo dan Bayu
"Zal, tugas dari pak Ardi Lo udah ngerjakan semua, belum?" Tanya Zidan
Ya, memang tugas itu masih belum di kumpulkan karena dua hari yang lalu pak Ardi tidak datang ke kampusnya, ia izin dengan alasan ada suatu kepentingan sehingga ia memperpanjang waktu untuk siswa mengumpulkan tugasnya
"Udah dong gue mah beres" dengan bangga Rizal mengeluarkan buku tugas dari tas nya dan memamerkan pada temen-temen nya
"Anjer gila, seratus soal. Elu beres semua?" Leo membuka buku tugas Rizal, ia berdecak kagum dengan hasil kerja teman nya yang mana tidak ada satupun soal yang belum terjawab
"Iya dong, pelajaran gampang ini mah" katanya lagi-lagi dengan angkuh, padahal yang sebenarnya itu bukan hasil kerja keras Rizal sendiri melainkan di bantu oleh istrinya yakni Bu Risa
"Engga percaya gue zal kalau ini yang ngerjakan elo sendiri, pasti ada yang bantu ngerjakan ini kan?" Kata Bayu menuduh, walau itu memang nyatanya sudah benar
"Enak aja Lo nuduh" sanggah Rizal
"Halahh engga usah banyak bohong, bilang aja Lo sama kita, dapet contekan dari mana?" Desak Bayu
Rizal berdecak sembari merebut minuman dalam plastik di tangan Zidan kemudian ia menyeruput minuman itu tanpa permisi "oke, gue jujur. Gue di bantuin sama cewek gue"
Memang benar Rizal sudah berkata jujur kan kalau tugas itu dikerjakan sama cewek nya yang tak lain juga bisa di sebut sebagai istrinya
"Wihh, udah punya pacar lagi? Pelit Lo zal engga cerita sama kita" Bayu mencebikan bibir nya seperti cewek sedang ngambek
"Emang perlu cerita sama elo? Yang ada nanti Lo naksir sama cewek gue terus nanti di embat deh" cibir Rizal "oh iya, sabtu besok kan kita bakal ngerjakan tugas kelompok dari Bu Hafsah, maaf gue engga bisa ikut ngerjakan. Ada urusan mendadak soalnya" tambah Rizal
"Lah bro, mana bisa gitu." Protes Zidan
"Kirim aja tugas bagian gue ke email nanti gue kerjakan, terus Minggu sore paling gue kirim ke kalian, terus Senin nya nanti gue traktir kalian makan di kantin, gimana? Deal ga?" Seperti biasa, Rizal pantang menyerah dalam hal membujuk dan merayu seseorang supaya mau menuruti keinginan nya
"Oke lah deal, gue terima itu bukan karena gue gila traktiran. Tapi gue pengen ngasih pengertian aja sama elo secara gue kan sahabat terbaik, Lo!" Sahut Bayu dengan cengengesan nya
__ADS_1
"Yee mulut Lo munafik, bay!" Leo dan Zidan menoyor kepala bayu secara bersamaan
...
"Kaya nya kita kekurangan alat masak deh by." Rizal memerhatikan ke sekiling rumah baru yang sudah ia sewa dengan membayar satu tahun sekali
Mereka baru sampai di rumah kontrakan itu satu jam yang lalu, dan sudah membereskan semua barang-barang yang mereka bawa berdua tanpa di bantu orang lain
"Iya nih, disini engga ada teflon buat bikin pizza atau martabak, terus juga engga punya panci presto, kamu kan suka ayam goreng presto" timpal Risa
Rizal mengangguk "ya udah, kamu mandi dulu sana, kita ke mall beli perabotan yang kurang."
"Oke, malam ini kamu mau makan apa?" Tanya Risa
"Hari ini kamu engga usah masak, kita makan pecel lele aja disana" kata Rizal
"Syukur deh, jadi aku engga terlalu capek." Risa terkekeh, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi
"Kamu engga mau beli sesuatu yang di butuhkan?" Tanya Rizal setelah mereka sampai di sebuah mall yang besar
Rizal melihat jajaran baju wanita yang terlihat bagus-bagus disana "maksud aku ini yang kamu butuhkan aja, kamu engga pengen baju? Atau apa aja yang kamu suka"
Risa mengangguk-angguk "oh iya itu, lipstik aku ada yang udah habis. Terus susu juga buat kamu, di rumah engga ada stok susu"
"Oh oke, hayu jalan" ajak Rizal, ia menggandeng tangan istrinya
Mereka masuk ke dalam berbagai toko di mall itu dengan Rizal yang mendorong troli di belakang istrinya, ia hanya membuntuti kemana saja istri nya pergi dan meng-iya kan barang apa saja yang mau istrinya beli, awalnya mereka pergi ke mall hanya berniat membeli teflon dan panci, kini troli itu malah berisi penuh dengan barang lain termasuk berbagai jenis makanan, Snack dan kosmetik milik Risa
"Jangan pakai baju yang terbuka atau terlalu ngetat gitu kalau buat ngajar, engga bagus baby. Aurat" omel Rizal saat melihat Risa mengambil salah satu baju model baru yang tergantung disana
Risa langsung menyimpan kembali baju itu "iya ih, aku juga tau. Orang barusan aku cuma liat aja, kalau dari kejauhan mah tadi aku liat modelnya bagus, eh dari dekat malah gini"
"Ini by cakep loh pasti bakal cocok di kamu" Rizal menunjuk dengan dagunya pada setelan baju formal wanita
"Ini? Tapi aku kan bukan kerja kantoran loh zal, emang baju ini cocok di pake ngajar?" Tanya Risa sembari melihat sekeliling baju yang terpasang pada boneka disana
__ADS_1
"He'em keren" Rizal tersenyum puas
Setelah membayar semua belanjaan nya menuju kasir, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan nya untuk pulang, keduanya berjalan dengan beriringan namun terlihat seperti anak muda yang pacaran dan tidak terlihat seperti Sepasang suami istri sedikit pun.
Sebelumnya kedua pasutri itu sempat berdebat di depan meja kasir. Mereka memperdebatkan siapa yang akan membayar belanjaan sebanyak itu, Risa yang bersikeras ingin membayar sendiri sedangkan Rizal bersikeras ingin membayarkan semuanya termasuk belanjaan Risa namun Risa menolak
"Aku kan udah bilang kalau aku punya uang sendiri, Rizal" kata Risa yang masih kesal
"Aku juga kan punya uang, kamu tau kan kalau aku udah bisa kerja sendiri. Dan lagipula ini udah jadi kewajiban suami menafkahi istri, kenapa kamu engga menghargai usaha aku?" Rizal ikut terbawa suasana kesalnya
Mereka kembali berdebat di sepanjang jalan keluar dari mall sampai suara seorang perempuan memanggil nama Rizal menghentikan acara perdebatan mereka
"Ciyee, yang udah move on dan dapet gandengan baru" Dinda Terkekeh
Ya, orang yang memanggil nama Rizal itu adalah Dinda, mantan pacar Rizal!
Sementara Risa tampak kepanikan mencoba membuang mukanya dan mengingat-ingat wajah gadis yang tengah berdiri di depan nya ini, apakah ia pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya?
"Iya, gue udah move on biar Lo puas." Jawab Rizal ketus
"Elo engga ngehamilin anak orang kan?" Tuduh Dinda dengan senyum jahatnya
"Gue bikan cowok bejat yang berani hamilin anak orang. Minggir Lo gue mau pulang" bentak Rizal
"Yaah, padahal gue udah masukin obat perangsang ke jus di minuman Lo waktu itu" ucap Dinda santai
Rizal dan Risa menghentikan langkahnya bersamaan "Lo udah gila? Tapi syukur gue masih selamat dari rencana setan Lo!" Bentak Rizal kemudian ia keluar dari mall itu dengan menggandeng tangan Risa
"Dia siapa, zal? Dia engga kenal sama aku kan?" Tanya Risa dengan masih paniknya saat mereka sudah masuk ke dalam mobil
"Mantan aku dulu, tapi tenang aja dia engga tau sama kamu kok"
"Sekolah dimana?" Tanya Risa lagi
"Di sana juga, tapi dia udah pindah sekolah setelah sehari kamu datang kesana, dia dari kelas IPA. Engga usah khawatir"
__ADS_1
Kemudian suasana di dalam mobil itu pun hening, Rizal tidak berbicara lagi, fokusnya hanya tertuju pada kemudi saja. Ia malas berbicara karena suasana hatinya sedang buruk gara-gara pertemuan nya dengan nenek lampir yang tak ia harapkan!